
Gilang kemudian menjauh ke arah Andira.
"Halo Indri. Ada apa sayang?"
"Mas, sekarang aku sudah dapat kerjaan."
"Ya syukurlah. Terus anak kamu sama siapa? Dia mau di tinggal kerja?"
"Iya Mas. Dia sama ibu ku."
Yah, sekarang gebetan barunya adalah seorang janda anak satu yang bernama Indri. Namun Indri tidak pernah menyadari, kalau selama ini Gilang membohonginya. Yang Indri tahu, kalau Gilang itu masih bujangan. Jadi Indri mau saja bersama Gilang.
"Ah, Indri ku. Aku semakin penasaran saja dengan mu." Ucap Gilang kemudian setelah menutup telpon dari Indri.
Setelah bertelponan, Gilang kembali ke ruang makan.
"Gimana Mas, Udah telponnya?" tanya Andira.
"Udah dong sayang." Ucap Gilang sembari duduk.
Andira tersenyum. Yah, pagi ini dia telah melupakan kecurigaannya pada suaminya itu.
...****************...
Setelah mengantarkan istrinya, Gilang kemudian meluncur ke kantornya. Sesampai di kantornya, Gilang terkejut. Karena ternyata Indri kerja di perusahaannya Gilang.
"Astaga, apa aku nggak salah lihat. Kenapa Indri bisa kerja di sini. Bisa runyam nih semua urusan. Kalau dia bertemu dengan Maharani itu gimana?"
Gilang langsung menyeret Indri dan mengumpat di balik mobil.
"Mas, ngapain kamu di sini?" tanya Indri.
"ssssttt, jangan kencang-kencang ngomongnya."
"Emang kenapa sih?" tanya Indri penasaran.
"Nggak kenapa-kenapa."
"Mas Gilang, kerja di sini juga?" tanya Indri.
"Iya Indri. Tapi tolong yah, kamu jangan bilang kesiapa-siapa kalau kamu kenal sama aku."
"Kenapa Mas?"
"Sebenarnya aku itu, anak dari pemilik perusahaan ini."
Indri tampak terkejut.
"Apa? benarkah. Tapi kamu nggak pernah mengatakan sebelumnya."
"Iya Indri. Soalnya selama ini aku selalu salah pilih cewek. Cewek yang aku pilih semua matre. Mereka cuma ingin memerasku saja. Tapi kamu itu beda sayang, dari wanita yang pernah aku kenal."
Gilang mencium tangan Indri.
__ADS_1
"Mulai sekarang tolong yah. Kita di sini sebagai bawahan dan atasan. Jangan bilang ke siapapun kalau kita pacaran."
" Kenapa begitu Mas.?"
"Orang tuaku itu selalu pilih-pilih sayang. Sekarang aja, aku mau di jodohkan dengan seseorang. Padahalkan aku cuma cinta sama kamu Indri. Aku belum siap saja kalau sampai orang tuaku tahu, tentang hubungan kita. Tapi suatu saat, aku pasti akan kenalin kamu sama orang tua ku yah. Kita backstret dulu yah sayang." Ucap Gilang penjang lebar.
"Iya Mas, kita backstreet."
"Tapi menurutku, kamu pindah ke tempat lain aja kerjanya."
"Kenapa begitu?"
"Aku takut, kalau orang tua ku tau kita pacaran, nanti mereka bisa mengusirku. Dan aku nggak mau berpisah dari mu Indri. Aku takut orang tuaku akan mengusirku atau mereka akan memisahkan kita.
"Iya, aku tahu diri kok. Siapa aku ini. Aku sama kamu kan berbeda. Kamu anak orang kaya sementara aku janda miskin anak satu."
"Tapi aku nggak pernah memandang mu rendah sayang. Aku cinta sama kamu, dan aku akan memperjuangkan cinta kita."
Yah begitulah Gilang. Dia memang orang yang pandai merangkai kalimat dusta. Dusta demi dusta selalu dia lantunkan pada setiap wanita yang di dekatinya.
"Sekarang masuklah Indri. Selamat bergabung di perusahaan ku."
"Iya Mas. Aku juga cinta sama kamu. Aku juga akan memperjuangkan cinta kita, jika kamupun mau berjuang."
Gilang tersenyum.
Setelah itu Indri pergi meninggalkan Gilang.
...****************...
Gilang masih duduk di kursi kebesarannya. Sementara Maharani duduk di depan Gilang. Maharani mengamat-amati wajah Gilang.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Maharani.
"Nggak apa-apa." jawab Gilang
"Sayang, kapan kamu mau menikahiku?" tanya Maharani.
"Ah, nggak tahu Maharani, aku bingung."
Maharani bangkit dari duduknya dan menghampiri pacarnya. Dia kemudian memeluk pacarnya dari belakang dan bergelanyut manja.
"Sayang, kamu cinta nggak sih sama aku.?" tanya Maharani.
"Ya tentu aku sangat mencintaimu dong." Jelas Gilang.
"Terus, kenapa kamu nggak mau nikahi aku."
"Aku belum siapa sayang."
"Aku harap sih, aku pengin Mas, menjadi istrimu yang sah dan menjadi istrimu satu-satunya."
"Yah,itu akan aku lakukan. Tapi bukan sekarang."
__ADS_1
"Kenapa? Kamu sudah mulai mencintai istrimu yah?"
"Aku belum siap aja, kalau orang tuaku sampai tahu, kalau aku mengkhianati istriku. Aku bisa menjadi anak yang terbuang. Orang tuaku pasti akan lebih sayang dengan Mas Fikri."
"Ya udahlah nggak apa-apa. Aku cuma pengin kamu ceraikan Andira, seperti janji mu dulu. Kamu kan menerima perjodohan itu karena terpaksakan kan Gilang, dan kamu kan udah janji, kalau kamu akan menikahinya dan akan menceraikannya, dan setelah cerai, kamu akan menikah denganku. Tapi aku sudah menunggu kenapa kamu belum menceraikannya?"
"Sabarlah sayang, dia lagi hamil."
"Apa? "Maharani tampak terkejut.
Gilang terdiam.
"Kenapa kamu bisa seceroboh itu sayang, kamu menghamili istrimu."
Gilang bangkit dari duduknya. Sepertinya dia lagi malas bertengkar dengan Maharani.
"Yah, terus kenapa? aku kan laki-laki, andira juga wanita. Kita kan suami istri, apa salahnya kalau Andira hamil."
"Ya jelas salah lah Gilang, kamu kan nggak cinta sama Dira. Kamu kan udah janji setelah kalian menikah, kamu akan ceraikan dia."
" Udahlah Maharani, aku lagi pusing."
Gilang akhirnya pergi meninggalkan Maharani.
...****************...
Andira masih berkutat dengan laptopnya. Sepertinya, dia itu sedang mengecek data-data pemasukan dan pengeluaran butiknya.
Andira tersenyum.
"Ah, Ana hebat. Dia memang karyawan yang bisa aku andalkan. Dia bisa menghendle sendiri tanpa bantuanku."
Andira menatap foto pernikahannya yang terpajang di meja kerjanya.
"Mas, aku senang banget tadi malam. Aku merasa, kalau aku sudah mendapatkan hak ku. Kamu sudah memberikan semua yang aku mau. Aku sangat mencintaimu Mas Gilang." Kata Andira.
Dia meraih foto Pernikahan mereka dan menciumnya. Andira mendekap mesra foto suaminya.
Yah, saat ini, dia melupakan semua kesalahan suaminya, karena semalam suaminya telah memberikan haknya. Hak seorang istri dari suaminya. Yah,sentuhan Gilang yang bisa membuat Andira lagi-lagi luluh. Dan melupakan sakit hatinya.
Andira menatap mesra foto suaminya itu. Dia kemudian tersenyum.
"Aku yakin Mas, kalau suatu hari kamu akan berubah. Aku yakin, kamu akan berubah menjadi sosok yang setia. Aku juga yakin dengan ketulusan cinta ku, aku pasti bisa merubahmu menjadi sosok lelaki yang setia dan bertanggubg jawab. Aku akan selalu menunggu waktu-waktu itu Mas."
"Bu..Bu Andira..." Seru Wati karyawan Andira.
"Iya Wati ada apa?"
"Bu tolong keluar! ini banyak banget pembelinya."Ucap Wati.
Andira yang sedari tadi istirahat di atas, lantas turun kebawah.
Yah, ternyata butiknya sedang ramai saat ini. Andira kemudian turun ke bawah untuk membantu Ratna, Anna, dan wati tiga orang karyawannya itu.
__ADS_1