
Aku sudah duduk di kantin bersama gadis yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu. Dia itu adalah Aqila mahasiswi baru, yang aku ajak dia ke kantin. Aku kemudian mentraktirnya makan.
" Kamu mau makan apa?" Tanyaku oada Aqila.
" Apa aja. Terserah kamu." jawab Aqila.
" Lho. Kok terserah aku. Aku serius lho mau traktir kamu. Kenapa terserah aku? Aqila, kamu kan yang mau makan,kalau terserah aku, nanti aku akan pesan makanan favorit aku lho." kata ku sembari tersenyum. Walau baru mengenalnya, aku buat diriku nyaman saja bersamanya.
" Emang apa makanan favorit kamu?" Tanya Aqila pada ku.
Aku hanya menyeringai.
" Nggak ada yang paling favorit kecuali masakan mama aku." Ucap ku.
Ya, memang benar. Masakan mama Andira itu sangat enak. Dan selalu menggugah seleraku makan. Aku justru seperti tidak doyan makanan orang lain. Aku lebih suka dengan masakan mama Andira.
Aqila tersenyum. Senyuman yang menurut ku sangat manis. Dari caranya berbicara, aku rasa dia itu gadis yang baik. Tidak seperti gadis lain yang selalu mendekatiku karena harta ku dan numpang populer saja.
Memang selama ini banyak wanita yang menggilai ku. Tapi, aku tidak pernah perduli pada mereka. Aku memang di kelilingi banyak gadis. Tapi, aku hanya menganggap mereka hanya sebatas saja tanpa aku pacari. Karena sampai sekarang akupun tidak punya pacar.
Jangan menganggap aku ini seperti ayah ku yah? Aku itu bukan seorang playboy yang suka nyakitin wanita. Karena aku sangat menjaga sekali image ku sebagai seorang model, yang banyak di kejar wartawan. Makanya dari itu, aku sangat berhati-hati sekali dalam bertindak. Sekali salah langkah, akan terjebak selamanya. Dan aku sedang menjaga nama baik ku itu.
Sampai saat ini, aku belum mempunyai seorang gadis yang benar-benar membuat aku jatuh cinta. Karena sampai saat ini, belum ada gadis yang cocok untuk aku jadikan kekasih. Aku itu memang tipe orang yang pemilih. Aku seperti papa Fikri. Tipe pemilih. Bukan seperti papa Gilang yang main embat sana-sini. Asal cantik main sikat aja.
__ADS_1
Untuk saat ini, aku itu masih mau fokus dulu di kuliah ku yang baru saja aku jalani. Dan aku juga masib mau fokuskan di dunia modelling dan bintang iklan. Untuk merambah naik ke sinetron dan main film aku belum berani. Kebanyakan aktifitas, Aku takut akan menghambat kuliah ku.
Sejauh ini, sudah banyak produser iklan bahkan sampai sinetron itu mengejar ku. Mereka sudah banyak menawari ku untuk bermain film. Tapi, aku masih berfikir ribuan kali untuk menerima kontrak dari mereka. Itu semua karena larangan dari mama dan papaku.
Mereka melarang ku keras untuk menjadi artis. Mereka menguliahkan ku di jurusan bisnis itu agar aku bisa meneruskan mengelola perusahaan Papa Fikri. Bagaimanapun juga aku itu adalah anak lelaki. Jadi aku yang di suruh untuk menggantikan posisi papa Fikri di kantor. Karena Zaki itu masih kecil. Dia juga di pesantren akan sangat lama. Karena dia baru beberapa Minggu saja masuk pesantren.
" Oh, jadi mama kamu pintar masak yah?" Tanya Aqila.
Aku hanya mengangguk. " Iya. Dia jago banget masaknya."
" Oh iya. Wah, keren yah. Mama ku aja nggak pintar masak." Kata Aqila.
" Iya. Biasanya kalau orang kaya itu nggak pintar masak. Makanya bisanya nfandalin pembantu. Tapi, kalau mama aku itu nggak pernah mengandalkan pembantu. Karena ayah ku, aku dan adik-adikku, itu cuma suka masakan mama. Pokoknya, masakan mama itu is the best." Kata ku yang sedari tadi memuji mama Andira.
Aku kemudian memesan menu untuk kami makan. Aku memesan mie ayam dan es teh manis. Dan Aqila menyamakan pesanan ku dengan pesanannya.
" Mbak. Aku mau es teh manis dua, mie ayamnya juga dua mangkuk yah."
" Baik Mas." Ucap penjaga kantin.
Beberapa saat kemudian, Mbak penjaga kantin pun datang. Dia meletakan makanan pesanan ku.
Aku kemudian makan bersama dengan Aqila.
__ADS_1
Aku melirik ke sekitar. Sepertinya, aku melihat banyak gadis yang menatap ke arah aku dan Aqila makan. Aku tahu, apa yang mereka fikirkan. Mereka juga sepetinya ingin dekat dengan ku seperti Aqila sekarang. Ya, aku adalah seorang model. Dan tiap hari banyak berkeliaran di acara iklan di tivi. Siapa yang tidak mengenal ku. Semua orang sudah mengenal ku.
Aqila sedari tadi hanya senyam-senyum sendiri. Sepertinya dia itu merasa risi juga jika makan harus di lihatin anak-anak sekampus. Tapi Aqila memaklumi karena sekarang dia itu sedang duduk bersama dengan seorang super model seperti aku. Aqila juga tidak enak sendiri. Semua mata tertuju ke arahnya.
" Eh, aku nggak enak banget tahu nggak sih duduk di sini lama-lama." Ucap Aqila.
" Emang kenapa?" tanya ku.
" Lihat deh, semua orang lihatin kita tahu " Ucap Aqila.
Aku hanya tersenyum. Tidak kaget dengan semua itu. Aku ini kan seorang model, juga seorang bintang iklan terkenal. Jadi, nggak salah kalau setiap aku ada di manapun, aku akan mendapatkan perhatian banyak orang.
" Cuekin ajalah. Itu sudah biasa. Mungkin mereka semua itu heran dengan aku. Karena aku itukan selama ini tidak pernah dekat dengan wanita."
" Maksudnya?" tanya
" Iya. Aku nggak pernah dekat sama cewek manapun." Uca
" Oh iya. Kenapa begitu?" tanya Aqila.
" Karena aku lagi malas aja sama cewek. Aku lagi pengin fokus dulu sama kuliah ku, dan sama karir ku." Ucap ku.
Ya, itu memang benar. Kalau selama ini, aku memang jarang jalan bareng sama cewek. Aku memang di kelilingi banyak wanita, tapi mereka semua bukan kekasih ku. Hanya rekan-rekan ku, dan sahabat-sahabatku. Untuk menjalin hubungan sama cewek, rasanya aku itu belum siap. Karena bagi ku, wanita itu sangat menyusahkan. Jadi, lebih baik jomblo dulu saja sampai aku benar-benar mempunyai wanita yang telan untuk aku jadikan kekasih.
__ADS_1