Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
balasan untuk Gilang.


__ADS_3

Maharani kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian mengepaki barang-barangnya. Dia bersiap untuk pergi meninggalkan Gilang di rumahnya sendiri.


Yah, karena sekarang, Gilang dan Maharani, memang tinggal di rumah yang pernah di beli oleh Gilang. Bisa di bilang, Maharani numpang di rumah Gilang.


"Ran, kamu mau kemana?" tanya Gilang


Maharani tampak menangis. Sepertinya, dia sudah tidak sanggup untuk hidup lebih lama lagi bersama Gilang. Gilang, seorang lelaki yang sangat dia kagumi, dan dia selalu beri dukungan di setiap waktu, justru Gilang yang selama ini menyusahkannya dan membuat parasit di hidupnya.


"Ah, aku pusing Mas. Aku mau pergi dari sini. Tolong jangan pernah temui aku Mas."


Maharani kemudian membawa tasnya keluar. Gilang masih saja mengekorinya dan mencegah supaya Maharani tidak pergi.


"Tolonglah Ran, jangan pergi. Maafkan ucapanku tadi."


"Aku mau pergi Mas. Aku fikir aku bisa bahagia hidup bersama kamu. Ternyata, aku cuma di susahin saja sama kamu. Awalnya aku memang pengin jadi istri sah kamu, karena kamu itu anak orang kaya. Tapi, nyatanya, malah orang tuamu membuangmu dan tidak menganggap mu Anak. Jadi apa untungnya aku menikah dengan mu. Nggak ada untungnya kan."


Setelah itu Maharani pun pergi. Sementara Gilang sendiri.


...****************...


Lima tahun kemudian.


Fikri sekarang telah berbahagia dengan Andira dan kedua anaknya.


Sekarang, kedua anaknya bernama Rafael yang termasuk anaknya Sofi, dan satunya Anak Andira dan Gilang di beri nama Viona.


Andira dan Gilang sekarang, mereka telah bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Karena setelah melahirkan, Andira menggugat cerai Gilang. Dan setelah itu, Fikri mengungkapkan perasaannya yang selama ini dia simpan pada Andira.


Andirapun menerimanya.


Setelah di tinggal Maharani pergi, hidup Gilang terlunta-lunta. Dia tidak punya apa-apa lagi sekarang. Dia takut untuk bertemu orang tuanya. Gilang sekarang sebatang kara.Dia cuma bisa cari duit untuk makan saja.Siapa yang mau menolongnya jika dia sudah miskin.Sahabatnya? atau mantan-mantannya?


tidak. Mereka semua justru meninggalkan Gilang sendiri.


Saat ini, Gilang masih berada di jalanan. Sudah beberapa hari ini dia mencoba menjadi pengamen jalanan.


Namun, pada akhirnya, Gilang bertemu dengan Andira.


" Mas Fikri, lihat deh. Bukankah itu Mas Gilang." Ucap Andira yang sudah mengenal betul wajah suaminya itu.


"Mana sayang."


"Itu...dia kok ngamen.?


Fikri menatap secara detail sosok adiknya itu.


"Iya. Benar sayang. Ya udah, kita samperin yuk."


"Iya. Ayo."


"Mama, mau kemana?" tanya Viona.


"Aku ikut Ma, pa." Kata Rafael.


Andira menoleh kebelakang.


"Sayang, kalian tunggu di sini dulu yah, Mama mau pergi dulu sebentar " Kata Andira


"Papa juga." Kata Fikri


Andira dan Fikri kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Gilang.


" Gilang." Ucap Fikri.

__ADS_1


Gilang tampak terkejut.


"Oh, kalian."


"Mas, kenapa kamu jadi begini Mas,apa yang terjadi denganmu...?" tanya Andira.


Gilang hanya menunduk. Sepertinya dia malu kepada Fikri dan Andira.


Gilang menangis. Dia meneteskan air mata.


Andira dan Fikri saling menatap.


"Maafkan aku Andira. Maafkan aku. Aku sudah banyak sekali menyakitimu." Kata Gilang


Andira tersenyum.


"Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu minta maaf padaku."


"Benarkah?"


"Iya benar."


" Aku juga sudah memaafkanmu Gilang. Sekarang, ayo kita pulang. Pulanglah...! Mama dan papa sudah menunggu mu. Dan mereka sangat mengkhawatirkanmu Gilang."


"Tapi Kak."


"Sudahlah, itu semua masalalu. Tidak usah terlalu di fikirkan."


"Baiklah, kalau begitu makasih."


Rafael dan Viona kemudian turun dari mobilnya. Mereka menyerbu mama dan papanya. Membuat Gilang bingung. Siapa sebenarnya anak-anak kecil itu.


"Ngapain kita di sini?" tanya Viona.


"Iya. Ayo kita pulang...!" Pinta Rafael.


Iya, dia tidak mau menyebutkan kalau Gilang itu ayah dari mereka sekarang. Fikri takut anak-anak kaget mendengarnya. Karena yang anak-anak tahu, ayah kandung mereka adalah Fikri yang selama ini merawatnya.


"Mas, lebih baik, kita kasih tahu mereka sekarang."


"Baiklah."


Fikri kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak mereka.


"Siapa om ini Papa?" tanya Viona.


"Iya Pa. Papa kenal, sama dia."


"Sebenarnya, dia ...dia itu...ayah kalian." Kata Fikri kemudian


Viona dan Rafael saling menatap.


"Apa! ini nggak mungkin. Mana mungkin aku punya ayah gembel. Aku maunya ayahnya papa Fikri saja."


"Papa, mama, apa benar dia ayah kita? kenapa dia berpenampilan seperti itu."


Andirapun kemudian ikut mensejajarkan tubuhnya. Andira tersenyum.


"Iya. Sayang. Kalian itu, masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya. Tapi, om itu memang benar papa kalian. Dia adalah adik dari papa Fikri."


" Apa." kata kedua anak kecil itu kompakan.


Mereka benar-benar bingung.

__ADS_1


"Jadi, kita sekarang, punya dua papa dong." Kata Viona.


" Tapi aku nggak mau punya papa gembel"


"Hush! jangan bilang begitu Rafael."


Gilang masih bingung. Lima tahun tidak bertemu Andira, tiba-tiba saja Andira sudah mempunyai dua anak.


"Benarkah mereka anak-anak ku?"


"Iya Gilang, ini Rafael anak kamu dan Sofi. Dan ini, Viona anak kamu dan Andira."


Gilang menangis. Setelah itu dia memeluk kedua anak itu dengan erat.


"Anak ku, kalian sudah besar. Maafkan papa Nak. Papa itu memang brengsek. Tidak pantas untuk menjadi papa kalian."


Gilang masih menangis.


" Ya udah yah, papa jangan menangis." Kata Viona.


Gilang mengusap air matanya.


"Nggak sayang. Papa senang karena papa bisa bertemu kalian."


"Sekarang, kamu pulang yah Gilang" Kata Fikri


"Mas, kamu bisa kok ikut kami."


"Makasih Andira. Apakah, kalian berdua sudah menikah?"


"Iya. Kami sudah menikah." Jawab Fikri


"Ya, syukurlah kalau begitu. Semoga kalian bahagia "


Fikri dan Andira tersenyum.


Setelah itu mereka pulang bersama.


Rafael dan Viona masih di selimuti berbagai macam pertanyaan di benaknya. Siapa sebenarnya orang yang dibawa oleh mama dan papanya.


Mereka masih bingung. Mungkin, mereka akan tahu, dan mengerti kalau sudah dewasa. Seandainya, Fikri cerita sekarang, mana mungkin kedua anak kecil yang masih berusia lima tahun itu mengerti. Mereka tidak akan pernah mengerti. Mereka akan mengerti jika sudah dewasa. Yang pasti sekarang,bagi Rafael dan Viona,mereka punya dua papa.


Papa Gilang dan papa Fikri.


#####


End.


semoga dari kisah ini, bisa di ambil pelajarannya.


terimakasih yang sudah mau mengikuti jalannya cerita ini...


terimakasih yang sudah mau ngevote dan ngelike.


Ini ide pembaca semua. Bukan ide author yah...


sebenarnya author bisa memperpanjang cerita ini sampai ber bab-bab. Tapi Siapalah author, author cuma manusia biasa yang terkadang, punya pekerjaan yang lebih penting di kehidupan nyata.


Untuk saat ini, authornya mau istirahat dulu menjadi penulis. Nanti kalau ada waktu Author mau nulis lagi di sini. Mungkin tahun depan dengan novel-novel yang lebih bagus lagi yah. Author rasa, untuk tiga novel, cukup yah, buat kenang-kenangan di noveltoon.


yang ada tulisan hapus, jangan di baca yah. Itu cerita belum bisa author lanjutkan.


kalau sempat, nanti author lanjutkan kembali.

__ADS_1


Assalamu'alaikum.


sampai jumpa lagi. Di lain waktu, di novel yang beda dari novel-novel ini.


__ADS_2