Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
kebersamaan


__ADS_3

Andira sekarang sudah duduk di ruang tengah. Dia masih bersama Fikri. Yah, sekarang keluarga Fikri masih menerimanya sebagai menantu. Mereka juga tahu kelakuan Gilang di luar sana.


Mereka membiarkan Gilang hidup bersama Maharani. Karena sekarang Bu Dian dan Pak Heru tahu kelakuan Gilang selama ini.Justru orang tua Andira itu sangat setuju kalau Andira bercerai dengan Gilang.


Andira masih tampak bercengkerama dengan Fikri.


"Mas, aku turut berduka cita yah, atas meninggalnya Sofi. Aku jadi tidak tega sama bayinya mas Gilang."


"Nggak apa-apa Dek. Gimana kondisi kandungan kamu. Dia baik-baik saja kan.?"


"Iya Mas. Dia malah semakin kencang saja menendangnya " Kata Andira.


"Apa aku boleh Andira, mengelus perut kamu. Aku pengin mendengar ponakan aku itu, "


"He..he..boleh dong Mas."


Fikri kemudian mencium perut Andira dengan sayang. Yah, walaupun dia baru di tinggal mati istrinya, namun Fikri tampak baik-baik saja. Karena Fikri memang tidak mencintai Sofi. Dan selama mereka menikah pun, Fikri tidak pernah menyentuh Sofi, sampai Sofi melahirkan.


"Andira. Sebantar lagi kamu akan melahirkan. Kamu nggak usah khawatir yah. Kita akan selalu ada buat kamu."


"Iya Mas. Aku juga sudah menganggap keluarga ini seperti keluargaku sendiri. Terimakasih yah Mas."


"iya sayang "


"Apa. Sayang lagi "


Fikri tersenyum.


"Aku pengin panggil kamu sayang. Nggak apa-apa kan."


"Tapi, kitakan bukan siapa-siapa Mas Fikri "


"Tapi kamu itu adik ipar aku. Berarti adik aku juga Kan.Boelh dong panggil sayang. Lagian, nggak ada Gilang juga."


"Yah, terserah kamu sajalah."


Fikri tersenyum. Dia sangat bahagia. Akhirnya dia bisa sedekat ini bersama Andira. Walaupun, Andira tidak tahu perasaan Fikri yang sebenarnya namun Fikri sudah bahagia karena Andita sudah menjadi wanita yang kuat melewati berbagai macam cobaan yang menimpanya. Mulai dari kematian ayahnya, kematian ibunya! dan perselingkuhan Gilang yang tiada habisnya.


Bu Dian dan Pak Heru tampak melihat kemesraan Fikri dan Andira


"Lihat mereka pa. Mereka akrab sekali. Seharusnya Andira kita nikahkan dengan Fikri. Fikri yang bisa setia dan bisa menghibur Andira. Lihat sekarang, waktu bersama Sofi, Fikri begitu dingin sikapnya. Sekarang waktu bersama Andira, malah dia mesra sekali begitu."


"Iya Ma. Sudahlah, biar mereka dekat. Gilang juga udah nggak pernah pulang."


"Iya. "


Andira masih duduk bersama Fikri. Tiba-tiba saja perutnya terasa sakit.


"Aduh Mas, perut aku..."


"Kamu kenapa sayang."


"Sakit..."

__ADS_1


"Oh, sakit yah. Ya udah, kita panggil dokter yah "


"Nggak usah Mas. Ini cuma kontraksi kecil aja kok."


"Oh ya udah. Sekarang kita ke kamar yah."


"Iya."


Fikri kemudian membawa Andira ke kamar. Dia membantu Andira berbaring.


"Fikri masih memegangi perut Andira yang sudah sangat membuncit."


"Sakit yah Dek. Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?"


"Nggak tahu Mas. Tapi kita tunggu nanti malam aja. Kalau mules-mulesnya nggak ilang-ilang, nanti kita ke rumah sakit "


"Andira, walau Gilang tidak ada, namun aku tetap akan selalu ada di samping kamu yah "


Andira mengangguk. "Makasih yah Mas. Kamu memang sudah selalu baik sama aku."


"Iya "


Fikri masih menunggui Andira. Dia tidak ingin meninggalkan Andira sama sekali.


Dia ingin selalu ada di samping Andira. Walau Andira belum tahu, kalau Fikri mencintainya, namun bagi Fikri, itu semua tidak masalah. Fikri ingin membuat Andira jatuh cinta dengan sendirinya tanpa harus dia memohon dan meminta untuk Andira mencintai dia. Muangkin dengan kebersamaan mereka di setiap saat, mereka bisa memenuhi hati masing-masing.


...****************...


"Ma...ma..." Ucap Andira.


Andira kemudian melangkah ke arah kamar mamanya. Dia mengetuk pintunya.


"Andira. Kamu kenapa,?" tanya Bu Dian.


"Aku sepertinya mau melahirkan Ma, "


"Ya ampun, ya udah. Ayo kita ke rumah sakit."


Bu Dian kemudian memanggil Fikri dan mengajak Fikri untuk ke rumah sakit.


"Ya udah. Ayo, kita berangkat...!"


"Papa nggak ikut yah. Papa mau jagain Rafael."


"Oh, ya ampun, Mama jadi lupa sama Rafael anaknya Sofi. Ya udah. Papa tolong jagain Rafael yah. Kita mau pergi dulu."


"Iya."


Setelah itu, Andirapun pergi ke rumah sakit bersama Fikri dan Bu Dian.


Dan beberapa saat kemudian, Andirapun berhasil melahirkan secara normal.


Dokter langsung keluar dari ruangan Andira

__ADS_1


"Bagaimana Dok, keadaan Andira ?"


"Dia baik-baik saja. Dan selamat yah, Bu Andira sudah melahirkan seorang anak perempuan."


"Alhamdulilah..."


Fikri dan Bu Dian mengucap syukur.


"Boleh Dok, kami melihatnya."


"Iya boleh."


Setelah itu dokterpun pergi. sementara Fikri dan Bu Dian langsung masuk ke dalam.


"Alhamdulilah, Andira...kamu sudah melahirkan. Dan bayimu perempuan." Ucap Bu Dian.


Fikri tersenyum


"Oh, Gilang hebat. Bisa langsung berikan cucu untuk mama. Dua sekaligus...!" Kata Fikri .


Andira diam. Yah, saat nama Gilang di sebut, sepertinya Andira sangat sedih. Di saat-saat dia melahirkan, seharusnya suaminya yang mendampinginya. Tapi, sampai saat ini, Gilangpun tidak tahu entah pergi kemana.


"Mas, Bu, aku bahagia. Sekarang, aku sudah menjadi ibu." Kata Andira sembari tersenyum.


"Iya Dek, Mas juga sangat senang dengarnya. Kamu memang wanita yang sangat tangguh."


"Makasih Mas Fikri, itu semua karena dukunganmu. Aku bisa menjadi wanita kuat."


"Iya. Dira."


...****************...


Semenjak menikah, Gilang tidak bekerja. Justru istrinya yang selama ini banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Maharani benar-benar stres. Seharusnya Gilang itu tidak pernah putus asa untuk mencari pekerjaan.


"Mas, kenapa kamu jadi pemalas begitu sih. Kamu berusaha dong, kamu itukan lelaki. Kenapa kamu tidak mau cari pekerjaan. Seharusnya, kamu itu mencari pekerjaan. Bukan cuma makan tidur saja"


"Ran, sudah deh,mencari pekerjaan itu sulit Ran nggak gampang. Emang mudah apa seperti membalikan telapak tangan."


"Tapikan Mas, kamu itu seorang suami. Sudah kewajiban seorang suami itu, menafkahi istrinya."


"Iya aku tahu. Tapi kamu harus terima ke adaan ku dong. Joe sudah tidak mau memberikan aku pekerjaan lagi. Aku juga takut untuk pulang ke rumah orang tuaku."


"Itu salahmu sendiri Mas. Kenapa kamu harus menghamili Sofi."


"aku tidak sengaja melakukan itu. Aku khilaf. Benar-benar Khilaf."


"Ih, Kamu itu nyebelin banget Mas. Aku nyesel nikah sama kamu."


"Ya udah kalau kamu sudah nggak kuat hidup bersama ku lagi, lebih baik sekarang, kamu pergi dari sini...Ini kan rumah ku Maharani. Aku yang membeli rumah ini." Kata Gilang tidak mau kalah.


"Oke. Kalau kamu mengusirku. Aku akan pergi dari sini. Aku udah nggak kuat hidup miskin sama kamu. Aku mau pergi Mas."

__ADS_1


__ADS_2