
"Siapa yah?" Ucap Ibu Andira yang tak bisa menebak.
"Dia itu, Fikri.Kakaknya Mas Gilang." Ucap Andira sembari tersenyum.
Fikri tersenyum pada ibunya Andira.
"Apa kabar Tante? cepat sembuh yah."
"Oh, jadi dia yang namanya Fikri?"
Fikri tersenyum lagi."Iya Tante, aku Fikri kakaknya Gilang."
"Seharusnya Andira menikah dengan mu. Dan kami juga berencana untuk menjodohkan kalian. Karena kamu anak pertamanya Pak Sebastian, dan Andira adalah anak pertama kami. Tapi mungkin kamu dan Andira belum berjodoh. Tapi dia malah menikah dengan adik mu."
"Nggak apa-apa Tan, Aku sudah tau alasannya kok. Itu karena ayahnya Andira sebelum meninggal mau melihat Putrinya menikah." Kata Fikri yang sudah tampak mengerti.
"Iya. Ayahnya Andira sudah lama kena serangan jantung." Ucap Ibu Andira lagi.
...****************...
Di kamar rumah sakit, Andira dan kedua adiknya Denis dan Andini menangis.
Ibu Andira yang kemarin terkena strok ringan itu telah meninggal Dunia.
Fikri masih menemani Andira. Dia sampai tiga hari tidak kerja. Sementara Gilang menghilang tanpa kabar.
"Hiks...hiks..." Tangisan Andira memecah. Begitu juga tangisan ke dua adik Andira. Setelah dokter mengatakn kalau ibu Andira sudah meninggal, Andira menangis. Yah, sekarang Andira sudah tidak mempunyai orang tua. Dan Andira harus menjadi orang tua untuk ke dua adiknya.
Andira menatap wajah Fikri. Sorot mata Andira Seperti mengatakan, kalau dia ingin mendapatkan perhatian yang lebih dari kakak iparnya. Andira menginginkan dukungan dari Kak Fikri. Karena sampai saat ini, Gilang tidak ada kabar. Telponnya mati. Dan dia juga tidak mengabari.
Andira menangis. Membuat Fikri tidak tega padanya.
Tangan kekar Fikri mengusap air mata Andira penuh kelembutan. Yah, seharusnya suaminyalah yang sekarang di sampingnya. Tapi ini justru kakak iparnya.
Fikri terbawa suasana. Dia meraih kepala Andira dan menenggelamkannya di dada bidangnya.
"Sudahlah Andira, jangan menangis. ini semua sudah suratan takdir."
"Mas. Bundaku sudah tiada. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku yatim piatu sekarang."
" Iya Andira Mas tahu. Kamu yang ikhlas yah? Kamu harus ikhlas menerima semua cobaan ini." Fikri masih berusaha menghibur.
"Makasih Mas."
Andira sayang. Mas nggak tega melihat kamu seperti ini. Aku nggak bisa membiarkan mu hidup terlalu lama dengan adik ku. Kamu harus bisa bahagia Andira, tanpa harus di mainkan oleh cinta semu Gilang. Batin Fikri.
Andira masih menangis di pelukan Fikri. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ternyata suaminya yang menelpon.
__ADS_1
"Halo Andira? Maafkan Mas yah, dari kemarin hape Mas lupa Mas cas."
"Mas, Bunda Mas." Ucap Andira
dengan bibir yang bergetar.
"Kenapa sayang, kenapa dengan Bunda?"
"Bunda meninggal."
"Inalillahi wa inna ilaihirrojiun..."
Gilang mendesah. Dia tidak akan bisa pulang. Sementara sekarang, Gilang sedang ada di Singapur bersama Maharani.
"Mas, kamu bisa pulang kan?"
"Maaf sayang, Mas nggak bisa pulang. Mas sekarang lagi di luar negeri. Urusan Mas belum selesai. Mungkin lusa yah sayang."
"Baiklah Mas, yang penting aku sudah memberi kabar."
"Oh iya. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa ngomong ke Mas Fikri. Dia kan kakak kamu juga."
Itu sih nggak usah di ajarai Mas Gilang. Aku sudah tahu sendiri betapa baiknya kakakmu itu. Aku juga salut sama dia. Coba saja kalau aku jadi menikah dengan Mas Fikri. Pasti aku tidak akan di tinggal begini. Batin Andira.
"Halo...sayang..."
"Ya udah sayang. Mas tutup dulu yah telponnya.Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
Tut. telpon Andira terputus.
Yah, Andira sangat sedih. Ayah dan ibunya cepat sekali meninggalkannya.
Padahal masih ada Denis dan Andini yang belum menikah. Mereka statusnya masih menjadi seorang pelajar.
Namun, mungkin ini sudah menjadi takdir Andira di usia yang ke dua puluh tiga, dia sudah kehilangan ke dua orang tuanya. Sekarang Andira hanya bisa pasrah.
...****************...
Andira masih bersimpuh di pemakaman ibunya. Semua orang yang melayat, sudah pulang meninggalkan mereka. Sekarang tinggal Fikri, Andira, Andini dan Denis.
"Bunda..." Ucap Dira yang masih ada di pelukan Dini adiknya. Entah kenapa Andira masih sangat terpukul atas meninggalnya ibunya. Dia seperti sendiri sekarang. Dia cuma punya dua adik dan suaminya Gilang.
"Sudahlah Kak, ikhlaskan bunda. Biarkan dia tenang di sisi Nya." Ucap Andini.
" Iya." Andira mengangguk.
__ADS_1
"Kak, kita pulang yuk?" ajak Denis.
Andira menggeleng.
"Ya udah, kalau kakak memang pengin di sini, tapi kita mau pulang kak. Kakak bisa kan pulang sama Kak Fikri?" Kata Denis.
"Iya. Nggak apa-apa. Nanti aku pulang sama Mas Fikri."Ucap Andira.
Hiks...hiks... Andira malah semakin kencang saja menangisnya. Yah, sekarang dia bukan cuma menangisi ibunya. Tapi Andira juga menangisi suaminya. Sampai ibu Andira di makamkan pun, Gilang tak kunjung datang.
Ibunya meninggal, Gilang juga sering menghilang. Lantas, bagaimana nanti jika perut Andira membesar, siapa yang akan menemaninya. Mungkinkah Fikri akan menemaninya terus.
Setelah kedua adiknya Andira pergi, fikri memberi dukungan untuk Andira.
"Sudah Dek, jangan menangis. Kasihan ibu mu. Orang meninggal itu seharusnya di ikhlaskan, agar dia tenang di sisiNya."
Andira menatap erat kakak iparnya, sembari menunjukan wajah yang berderaian air mata.
Fikri menyeka air mata Andira. Yah, seperti biasa, lagi-lagi Fikri yang ikut hanyut dan larut dalam kesedihan itu.
Sebenarnya, dia ingin sekali mengajak Andira kabur sejauh-jauhnya supaya Andira bisa bahagia bersamanya. Tapi itu tiak akan mungkin Fikri lakukan. Dia tidak mau membuat orang tuanya kecewa apalagi mamanya. Fikri sangat menyayangi mamanya lebih dari apapun. Karena Fikri tahu kalau surga itu ada di telapak kaki ibu.
Fikri tersenyum.
"Mas, kenapa kamu sangat baik dan perhatian sama aku, kenapa di saat aku membutuhkan seseorang untuk menjadi sandaran ku, kenapa harus selalu kamu yang datang, kenapa bukan Mas Gilang."
"Mungkin suamimu sibuk Dek." Ucap Fikri.
Yah, lagi-lagi Fikri harus mengatakan kalimat itu berulang-ualng. Tujuannya tidak lain, supaya tidak menambah beban fikiran lagi untuk Andira.
"Ayo Andira kita pulang! Mas akan antarkan kamu pulang. Sekarang kamu boleh pilih. Kamu mau pulang kemana, mau pulang ke rumah Gilang, kerumah mama ku, atau ke rumah adik-adik mu."
"Aku akan ke rumah Denis Mas. Aku masih berduka. Untuk sementara, aku akan tinggal di sana."
"Baiklah. Sekarang aku antar kamu." Ucap Fikri.
Fikri kemudian mengantar adik iparnya pulang. Yah,Fikri mengantar Andira pulang ke rumah mendiang ibunya.
Sesampai di rumah ibunya,
tangis Andira kembali memecah.
"Sudahlah Dek. Yang sabar yah."
"Mas, jika aku di sini, aku akan teringat Ayah dan Bunda."
Hiks...hiks..
__ADS_1