
Setelah selesai bertelponan dengan Maharani, Gilangpun kembali ke dalam dengan perasaan cemas. Yah dia benar-benar takut dengan ancaman Maharani.
Gilang juga tahu, Maharani itu memang wanita yang nekat. Dia tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"Ah, Maharani. Masalah apa lagi ini. Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak pernah memberi harapan pada Maharani." Kata Gilang yang terlihat cemas.
Andira menggeliat. Dia meraba ke samping tempat tidurnya. Ternyata Gilang sudah tidak ada.
Andira mengerjapkan matanya.
"Kemana Mas Gilang?"
Andira mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Andira kemudian bergegas mencari suaminya
Andira kemudian melangkah ke luar kamarnya. Dan dia berpapasan dengan Joe.
"Andira. Kamu mau kemana?" tanya Joe.
"Eh, Jo...Mana Mas Gilang. Tengah malam gini, kok malah keluar." Kata Andira.
"Mungkin dia lagi ada di bawah."
"Iya Mungkin."
Andira dan Joe turun ke bawah. Gilang sudah tampak duduk manis di ruang tengah dengan menyeruput secangkir kopi.
Andira tersenyum.
"Mas..."Ucap Andira sembari mendekat ke arah Gilang.
Gilang menoleh.
"Eh, Andira. Kenapa kamu ikutan bangun sih...?" tanya Gilang.
"Emang kenapa? keliahatan cemas banget sih lo?" Ucap Joe.
"Ah, gue nggak apa-apa kok." Kata Gilang.
Gilang merasa bersyukur karena Joe dan Andira tidak memergokinya menelpon Maharani.
Uh, untunglah. Mudah-mudahan mereka tidak melihatku telpon dengan Maharani.
Joe dan Andira kemudian duduk di samping Gilang.
Yah, malam ini memang udaranya memang terasa panas. Walaupun menyalakan Ac, tetap saja masih terasa panas. Membuat Andira jadu susah tidur.
...****************...
Pagi ini, Fikri sudah sampai ke kantornya. Saat ini, Fikri benar-benar di selimuti perasaan cemas sejak Sandra muncul di mimpinya.
__ADS_1
"Eh, Fikri. Kenapa kamu? Masa pengantin baru murung gitu wajahnya."
"Sandra."
"Hei, Sandra sudah lama meninggal sob. Kamu belum bisa move on dari dia?" tanya Frans sekertaris Fikri sekaligus sahabat lama Fikri.
Yah, Fikri itu memang punya masa lalu yang sangat buruk. Dia pernah mencintai seorang wanita yang bernama Sandra. Dan Sandra, sebelum kematiannya, Sandra telah memberikan luka yang sangat dalam pada Fikri.
flashback On.
"Aku mau bicara sama kamu Mas Fikri." Kata Sandra menatap Fikri dalam.
"Apa San?" tanya Fikri.
"Aku mau kita putus." Kata Sandra tiba-tiba yang membuat Fikri terkejut setengah mati.
"Kenapa kamu bilang seperti itu Sandra? apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
Sandra diam." Aku udah nggak pantas buat kamu Mas. Karena, aku bukan wanita suci lagi. Aku sudah kotor Mas."
"Maksud kamu apa?"
"Aku hamil Mas. Aku hamil...Hiks...hiks..."
Fikri terekejut setengah mati. Dia tidak menyangka dengan apa yang telah di ucapkan ke kasihnya. Sandra mengaku kalau dia hamil. Dan siapa yang telah menghamilinya? karena semenjak Fikri dan Sandra pacaran, belum pernah Fikri menyentuh Sandra walau seujung kukupun.
"Apa? kamu hamil? Siapa yang menghamili kamu Sandra."
"Apa...! jadi kamu telah mengkhianati cinta aku?"
Sandra mengangguk. Fikri tampak sudah di penuhi rasa kecewa pada Sandra. Sandra kekasih yang di cintainya itu hamil dan telah selingkuh di belakangnya.
Itu semua yang membuat Fikri sulit lagi untuk mempercayai yang namanya wanita.
Dua hari kemudian, setelah Sandra mengatakan kalau dia hamil,ada kabar yang mengejutkan lagi. Ternyata Sandra telah meninggal, karena dia terjun dari lantai sembilan kantor ayahnya.
Sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi dengan apa yang sudah terjadi padanya. Mungkin orang yang telah menghamilinya itu tidak mau mengakui anak yang ada dalam kandungan Sandra lagi.
Flashback Off.
Fikri membasuh wajahnya kasar. Dia kemudian bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah ke arah jendela kantornya.
Dia memandang ke arah luar. Rasanya sakit sekali menjadi seorang Fikri. Dia sudah pernah merasakan sakit hati yang teramat sangat, oleh seorang Sandra. Dan sekarang dia harus keseret dalam masalah Gilang, yang tidak ada habisnya.
"Sabar. Semua masalah pasti akan ada hikmahnya Pak Fikri." Kata Frans mencoba menghibur.
"Terimakasih Frans. Kamu memang sahabatku yang baik. Terimakasih untuk dukunganmu selama ini yah sob."
"Oke, nggak masalah. Sekarang, aku mau tanya sama kamu Pak Fikri. Bagaimana malam pertamanya lancar? he..he.." Frans tampak menggoda.
__ADS_1
"Lancar apanya...? nggak ada malam pertama di antara aku dan Sofi."
"Lah kenapa? kalian kan sudah sah menjadi suami istri. Apa lagi yang di tunggu. Mumpung sudah halal."
"Nggak segampang itu Frans. Alu aja belum bisa mencintai Sofi."
"Aku yakin. Kalau kamu mencoba, pasti kamu akan mencintai Sofi. Dan belajarlah mencintai istrimu. Tidak usah fikirkan masalah Sandra lagi."
Fikri tersenyum kecut. Entah sampai kapan dia dan Sofi akan membohongi orang-orang kalau pernikahan mereka memang pernikahan kontrak. Pernikahan yang sama sekali tidak mereka inginkan.
Untuk saat ini, di hatiku cuma untuk Andira. Belum ada wanita lain yang menempati hatiku. Aku tidak tahu sampai kapan perasaan ini akan berakhir. Semakin lama, rasa cinta ini malah semakin kuat saja. Batin Fikri.
...***************...
Andira masih duduk di taman belakang rumah Joe. Dia masih menatap bunga-bunga indah di sana.
"Mas Fikri lagi ngapain yah? aku jadi kangen sama dia. Ah, ini kan jadwal aku cek kandungan." Kata Andira.
Joe menghampiri Andira.
"Andira, kamu kenapa? kok dari tadi, aku perhatikan, kamu ngelamun terus? ada masalah apa?" tanya Joe.
Joe kemudian duduk di samping Andira.
Andira tersenyum."Aku nggak apa-apa kok."
"Oh, Kamu katanya mau cek kandungan yah? aku aja yah yang antarin."
"Lho kenapa?" tanya Andira.
"Gilang tadi pergi. Dan titip pesan ke aku. Aku di suruh ngantarin kamu periksa kandungan."
"Apa? Mas Gilang pergi? kemana? kok dia nggak kasih tahu aku?"
"Yah, katanya dia buru-buru."
"Oh, ya udah deh."
Beberapa saat kemudian, Andira dan Joe sudah siap meluncur ke rumah sakit. Yah, perut Andira sekarang sudah mulai tampak membuncit. Sekarang usia kandunganannya sudah jalan empat bulan. Dan sekarang dia pun sudah jarang mual-mual.
"Andira...!" Seru Joe.
"Iya Joe...sebentar." Kata Andira.
Andira kemudian buru-buru turun. Dia sudah tampak siap untuk pergi. Yah, kali ini Gilang tidak mengantarkannya periksa kandungan. Dan sekarang Joe yang harus mengantarkan Andira
"Aku udah siap. Ayo Joe, kita berangkat. Maaf yah, gara-gara Mas Gilang pergi, kamu harus repot-repot ngantarin aku." Kata Joe.
"Ah, nggak apa-apa Andira. Kamu itu sekarang istrinya Gilang. Gilang itu sahabat aku. Jadi kamu juga sahabat aku juga."
__ADS_1
"Iya makasih ya Joe."
Andira dan Joe kemudian meluncur dengan mobilnya untuk pergi ke rumah sakit.