Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 11


__ADS_3

Jam 10.23, Ira baru saja selesai bekerja. Suasana hatinya belum sepenuhnya membaik. Masih tersimpan rasa kesal dan marah setelah bertemu dengan ibunya tadi. Apalagi saat melihat ekspresi wajah ibunya yang berpura-pura tak mengenalnya apalagi peduli padanya, membuat hatinya hancur seperti teriris pisau.


Ira pulang dengan wajah masam. Jafar mendapati adiknya telah pulang dan terduduk sedih di depan rumah. Jafar datang menghampirinya.


"Apa pekerjaanmu melelahkan hari ini?"


Ira menoleh dan menatap Jafar dengan sendu juga berbinar-binar. Seketika Ira langsung memeluknya.


"Ada apa? Kamu sedang ada masalah?" selidik Jafar bertanya.


"Aku sayang Kakak. Karena itu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan kami. Berjanjilah, kakak akan tetap bersama kami apapun yang terjadi," lirihnya tiba-tiba membuat Jafat tak mengerti apa yang terjadi padanya sampai ia harus mengatakan hal seperti itu.


Jafar mengelus pelan kepala Ira dan menjwabnya dengan suara teduh. "Kamu ini bicara apa? Tak ada alasan buat kakak untuk meninggalkan kalian. Justru kalian adalah alasan dari kekuatan Kakak. Kakak bahkan tidak tahu, apa yang harus kakak lakukan jika tidak ada kalian. Mungkin, kakak akan merasa sendirian dan putus asa. Tapi, sebab karena ada kalian, kakak merasa lebih bahagia apapun yang terjadi. Karena itu, kamu jangan pernah berpikir yang tidak-tidak," tutur Jafar terdengar begitu dewasa.


Ia terpaksa menjadi dewasa karena keadaan. Walaupun sebenarnya, ia pun ingin sesekali bermanja saat ia merasa lelah dan banyak pikiran. Namun, jika tak mampu mengendali egonya, maka ia hanya akan menyakiti ketiga adiknya yang sangat ia sayangi saat ini.


Ira pun akhirnya merasa damai setelah mendengar perkataan Jafar. Ia tersenyum senang dan merasa sangat bersyukur karena ada Jafar di sisinya yang senantiasa melindungi adik-adiknya walau apapun yang terjadi.

__ADS_1


"Kamu udah makan?" tanya Jafar.


Ira menggelengkan kepalanya.


"Yaudah, ayo masuk! Kakak buatkan kamu nasi goreng, yah?"


Ira mengangguk dan tersenyum lebar menatap Jafar dengan perasaan tenang. Lalu, mereka pun masuk ke dalam. Meninggalkan malam yang dingin dan sunyi diluar. Udara menjadi agak dingin karena hujan akhir-akhir ini sering turun untuk meredam gersang.


***


Mentari menyingsing dari ufuk timur. Malam sudah berlalu. Dan hari berganti lagi yang baru. Namun, kehidupan masih belum berubah. Dunia yang kejam dan keras tengah menanti mereka hari ini. Semoga hanya bisa berharap, hari ini kan berjalan dengan baik tanpa masalah.


Ketika semua orang sudah siap dan rapih, mereka duduk bersama untuk sarapan. Pagi ini mereka ingin lalui dengan banyak senyuman dan bergembira. Namun, seketika Jafar mendapati taut muka Tina sangat sedih dan muram. Seketika suasana pun menjadi sangat serius.


"Tina? Ada apa? Apa kamu sakit?" tanya Jafar.


"Iyah. Kalau kamu sakit, bilang saja. Kakak bisa bolos sekolah sehari untuk menemani kamu," sambar Ira menunjukkan perhatiannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu bolos? Tidak boleh. Kalian jangan pernah bolos sekolah, jika bukan alasan yang kuat. Kakak ada disini, kenapa kamu harus bolos sekolah?" tegur Jafar memarahi Ira.


"Kakak kan sedang sakit," balas Ira lagi beralasan.


"Kamu tidak lihat Kakak sudah sembuh?"


Ira pun hanya bisa terdiam dan tidak membalas perkataan Jafar lagi. Tatkala Iskan hanya menyimak perdebatan mereka sambil melanjutkan makannya.


"Jika tidak sakit, lalu kenapa wajahmu sangat muram?" tanya Iskan kali ini mengeluarkan suaranya.


Seketika Tina menangis dan mengungkapkan perasaannya yang sudah sangat lama ia tahan dalam hatinya.


"Aku merindukan Mamah," tukas Tina membuat semua orang terdiam.


"Aku rindu sama Mamah, sama Papah! Aku sangat merindukan mereka!" ungkap Tina lagi kini banjir oleh air mata.


Ira yang kesal mendengar ungkapan hati Tina itu. Sehingga, ia pun marah dan menggebrak meja makan sampai membuat yang lainnya terkejut kaget.

__ADS_1


Brakkk


"Hentikan!"


__ADS_2