
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Iskan tiba di Bandung. Mereka sampai di Fabu Hotel Bandung untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan tour di Bandung. Mereka beristirahat di kamar yang sudah dipesan dari hari-hari sebelumnya.
Siswa kelas 8-D ikut semua yang totalnya ada 20 siswa per kelasnya. Dan setiap kamar yang dipesan, satu kamar untuk empat orang. Hotel ini terhitung cukup murah karena per kamar, per malamnya hanya 256.297 saja. Dan hotel ini berjarak 5 menit dari alun-alun kota dan museum konferesi Asia- Afrika yang akan mereka kunjungi untuk tour besok.
Hari ini setelah istirahat, mereka akan mengunjungi beberapa monumen di Bandung. Di antaranya monumen Bandung lautan api. Salah satu tempat bersejarah di Bandung. Namun sebelum itu, wali kelas menyarankan supaya semua muridnya untuk melakukan waktu istirahatnya dengan sangat baik.
Maya langsung saja merebahkan dirinya di sofa saat tiba di kamar.
"Haduh! Nyaman banget!" gumamnya.
"Iyah, lumayan enaklah buat istirahat," timpal Ebi bestinya menilai hotel ini.
"Hehe... Iyah, Bi." Maya bangkit duduk sambil memikirkan Iskan. Ia khawatir karena ia gak bawa bekal.
"Eh, Bi! Gue keluar sebentar, yah!" ujarnya sambil bangkit berdiri dan mencari beberapa makanan ringan yang ia bawa dari dalam ranselnya.
"Mau kemana, loh? Gak mau makan siang bareng kita? Gue bawa banyak bekal tahu!" tanya Ebie, karena ia membawa bekal banyak sekali yang sengaja dimasak yokapnya.
__ADS_1
"Bentar aja, kok! Gak akan lama, sumpah!"
Maya terkekeh pergi dan meninggalkan kamarnya. Dan ia pun pergi ke kamar Iskan. Ia mengetuk pintu kamar mereka, dan kebetulan yang membuka pintu adalah Iskan sendiri.
"Maya? Kenapa loh kemari?" tanya Iskan.
"Ini!" Maya menyodorkan beberapa makanan ringan yang ia peluk tanpa dikantongi. "Jangan sampai kelaparan," lanjutnya.
"Gak usah. Gue gak papah. Loh bawa balik lagi," tolak Iskan.
Namun, Maya sudah tahu kalau Iskan akan menolaknya dan memberikan beberapa makanan ringan itu ke tangan Iskan.
"Eh!"
Sejenak Iskan menatap kepergiaan Maya, lalu ia tersenyum gemas melihat tingkah Maya yang begitu imut di matanya.
Iskan segera menggeleng pelan dan menyadarkan dirinya dari angan-angan tentang Maya. Ia kembali masuk dan bergabung dengan tiga teman sekamarnya yabg termasuk ada Ridwan dan Panji.
__ADS_1
"Wih! Siapa yang tadi?" tanya Ridwan setelah melihat Iskan membawa beberapa makanan dipelukannya.
"Maya. Dia bawain makanan buat gue," jawab Iskan terus terang pada teman-temannya.
"Cieee... gue nyium bau-bau yang lagi jatuh cinta, nih!" goda Panji menyikut perut Iskan.
"Apaan, sih! Kalian ngarang aja!" sangkal Iskan tak mau jujur dengan perasaannya.
"Ayolah, bro! Gue tahu loh suka kan, sama Maya? Udah loh jujur aja, kali! Gak usah malu sama kita, mah!" sambar Ridwan terkekeh.
"Nggak! Gue gak ada perasaan kok, sama dia!" Iskan terus menyangkalnya.
"Iyah deh! Tapi, kalo si Maya yang naksir sama loh, gimana? Apa yang bakal lo lakuin?" sahut Panji terus memancing Iskan.
Sejenak Iskan terdiam memikirkan pertanyaan Panji itu. Tetapi, sebanyak kali pun ia memikirkannya. Iskan merasa tetap tak pantas diri membandingkan dengan Maya. Mereka seperti hidup dalam dua dunia.
"Woy! Eh, loh malah bengong!" Ridwan mengejutkan Iskan sampai ia terperanjat kaget dan bangun dari lamunannya.
__ADS_1
"Udah ah! Waktu istirahat cuma dua jam, kan? Gue mau tidur dulu. Nanti loh berdua bangunin gue," balas Iskan mengakhiri perbincangan itu dan beranjak bangun menuju sofa dan tidur.