Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 27


__ADS_3

Untuk sejenak Iskan menatap Maya dengan tatapan yang serius saat mempertanyakannya. Namun, karena melihat reaksi Maya yang begitu kaget sampai tak bisa menjawab ia pun segera mengakhirinya.


"Sudahlah. Loh gak usah jawab kalau gak bisa," ujar Iskan bangkit dari duduknya dan hendak pergi menyusul kedua temannya yang tadi meninggalkannya.


"Besok, kita akan belajar saat jam istirahat. Karena sepulang sekolah, gue gak bisa," ujar Iskan memberitahu waktu yang bisa ia miliki dengan Maya.


Maya hanya mengangguk setuju dan masih terdiam mematung. Karena Iskan mempertanyakannya dengan tiba-tiba membuat jantung Maya berdetak sangat cepat. Ia belum siap menjawab kalau ia memang suka pada Iskan. Hal ini membuat ia sangat gugup dan tertekan.


Lantas, Iskan pun segera pergi meninggalkan Maya. Ebi yang melihat Maya duduk sendirian segera mendatanginya.


"Hoi! Ngapain loh duduk sendirian disini?" tanya Ebi.


Maya tak menjawabnya dan hanya menunjukkan ekspresi frustasi kepada Ebi.


"Napa loh?"


"Ebi! Jantung gue serasa mau meledak!" serunya.


"Loh kenapa, sih?"

__ADS_1


"Di keren banget! Aaaa... gue hampir pingsan tadi!"


"Siapa?"


"Seseorang yang akan menjadi masa depan gue."


"Nih, anak kesambet apaan sih, bisa jadi gak waras kayak gini."


Ebi hanya bisa menggeleng melihat tingkah temannya yang tidak biasa itu.


***


"Ada keperluan apa, yah? Dan anda ini siapa? Kenapa anda mencari saya?" tanya Jafar dengan sopan.


"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Radit. Saya adalah orang suruhan Pak Aban Subandi untuk menemukan anda," terangnya memperkenalkan diri.


"Orang suruhan? Pak Aban?"


Jafar sudah berpikir yang tidak-tidak. Ia pikir orang ini adalah rentenir yang ingin menagih hutang ayahnya. Sejenak Jafar merasa gelisah dan cemas. Jika benar ia adalah rentenir. Maka ia pasti dalam masalah besar saat ini.

__ADS_1


Tapi, jika dilihat dari cara ia bersikap dan berbicara dengan sopan. Jafar pikir tidak mungkin jika ia seorang rentenir.


"Iyah. Pak Aban adalah orang yang anda tolong kemarin. Dia meminta saya untuk menemukan anda. Karena berkat anda, Pak Aban bisa tertolong dan kini beliau baik-baik saja," jelasnya lagi menghilangkan prasangka buruk Jafar terhadapnya.


Jafar menghela nafas lega. "Syukurlah kalau beliau baik-baik saja."


"Jika ada waktu, beliau ingin sekali menemui anda. Ini adalah kartu namanya. Di sana ada alamat rumah beliau. Cobalah temui beliau ketika anda punya waktu luang. Dan ini... ada sedikit uang yang beliau siapkan untuk anda. Jumlahnya memang tidak besar. Tetapi beliau ingin berterima kasih kepada anda," tukas Radit sambil menyodorkan amplop tebal berisikan uang.


Jafar yang sangat tulus dan baik hati tak bisa menerima uang tersebut. Sehingga ia harus menolak pemberian dari Pak Aban.


"Maaf, tapi saya tidak mengaharapkan imbalan apapun dari apa yang saya lakukan. Tolong kembalikan lagi uang ini kepada beliau. Jika ingin berterima kasih, nanti beliau bisa mengatakannya sendiri pada saya," tolak Hafar dengan lembut dan bijaksana.


Radit tersenyum senang mendapati sikap Jafar yang begitu ramah dan baik hati serta bijaksana. Jika begini keadaannya Radit hanya bisa membawa kembali uang tersebut bersamanya.


"Jika tidak ada hal lain. Mohon maaf, saya harus bekerja. Karena banyak pesanan yang harus saya antar," ucap Jafar.


"Baiklah. Maaf karena telah menyita waktunya. Saya akan menyampaikan perkataan anda pada Pak Aban. Kalau begitu, permisi!" balas Radit segera meminta diri untuk pergi dari sana.


Sementara itu, Jafar menaruh kartu nama itu di saku bajunya dan kembali bekerja untuk mengantar pesanan.

__ADS_1


__ADS_2