Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 35


__ADS_3

Iskan kini tengah diobati oleh Fahri. Setelah lukanya dibersihkan dengan air hangat. Fahri mengolesi lukanya dengan salep. Meski terasa perih Iskan tetap diam untuk menerima perawatan Fahri. Ini kali pertamanya, ia ke rumah Maya. Nampak, rumah ini sedikit sepi.


Pandangan Iskan menelusuri seluruh ruang tamu itu. Pandangannya berhenti pada photo Maya yang masih kecil. Iskan seketika tersenyum melihat betapa imutnya Maya saat masih kecil.


"Kenapa loh tersenyum?" tanya Fahari saat mendapatinya. Lalu, ia melirik pada photo yang sedang Iskan tatap.


"Ohhhh... itu photo Maya saat dia berusai dua tahun. Lucu, kan? Sebenarnya, Maya itu anak kesayangan mamih, papih. Karena Maya adalah satu-satunya anak gadis di rumah ini," lanjut Fahri sedikit bercerita.


Iskan tak menyaut dan hanya mendengarkan saja. Tak lama Maya datang dengan nampan yang berisikan jus jeruk dan beberapa camilan manis untuk Iskan.


"Jika sudah selesai, minum dan makanlah ini sebelum pulang," ucap Maya.


Iskan menatap Maya. Ia masih penasaran pada sikapnya yang tadi. Mendadak ia sangat dingin pada Iskan tetapi sekarang ia mendadak menjadi baik lagi seperti biasanya. Ada apa dengan Maya sebenarnya? Pikir Iskan.


Fahri tahu kalau Iskan juga sangat menyukai Maya hanya melihat dari tatapan Iskan.


"Sepertinya ada yang mau loh katakan sama adik gue. Udah beres, lukanya udah gue obati. Kayaknya gue harus pergi dan memberi kalian ruang untuk mengobrol," sela Fahri segera bangkit dan pergi dari ruang tamu.


"Terima kasih," balas Iskan sebelum Fahri pergi.


Sejenak suasana nampak canggung diantara Iskan dan Maya. Mereka saling terdiam untuk waktu yang cukup lama.

__ADS_1


"Anu..."


"Anu..."


Kebetulan mereka mengangkat suara secara bersamaan. Dan hal itu membuat mereka lebih canggung.


"Kamu bicara duluan!"


"Loh bicara duluan!"


Lagi-lagi mereka bicara kompakan dan bersamaaan. Iskan menghela nafas panjang dan kini bicara lebih dulu.


"Gue punya satu pertanyaan buat loh," ucap Iskan.


"Kenapa saat di bis. Loh tiba-tiba bersikap seperti itu?" tanya Iskan ragu-ragu dengan pertanyaannya sendiri. Apakah ia mempertanyakan hal yang benar saat ini.


"Bersikap seperti gimana, maksudnya?" sahut Maya sengaja berpura-pura tak tahu arah pertanyaan Iskan. Supaya Iskan bicara lebih jelas lagi.


"Yah, gitu..." balas Iskan.


Padahal pada saat yang sama Maya pun ingin mempertanyakan tentang gadis yang mengobrol bersamanya saat di Bandung.

__ADS_1


"Kalau begitu, ada satu hal yang ingin aku katakan juga sama kamu. Biar aku jawab pertanyaanmu yang di Bandung. Jawabanku, yah. Aku... suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?"


Deg~


Iskan melebarkan tatapannya tak percaya kalau Maya akan menembaknya duluan seperti ini. Keduanya sejenak saling memandang serius. Membuat suasana menjadi begitu tegang.


"Gue..."


"Nggak! Jangan jawab sekarang!" sela Maya memotong ucapan Iskan.


Iskan mengernyitkan dahinya langsung terdiam.


"Aku ingin kamu menjawabnya, setelah kita kencan sepuluh kali. Saat itu baru kamu boleh menolak atau menerimaku," lanjutnya.


"Tapi..."


"Aku tahu kamu akan jawab, kalau kamu tidak punya waktu untuk itu. Tapi, cobalah sesekali luangkan waktu itu untukku. Dan pikirkan lagi apa kau mau menjadi pacarku atau tidak? Jangan langsung menolakku," kekeh Maya tak mau mendengar Iskan beralasan dan menolaknya begitu saja.


Iskan lalu tersenyum. Ia tak tahu kalau Maya akan bertindak sejauh ini. Namun ia salut akan kegigihan Maya sampai-sampai ia tak mengizikan Iskan untuk bicara sepatah kata pun.


"Baiklah. Mari kita lakukan seperti yang loh mau," jawab Iskan menyetujuinya saja karena merasa tak ada salahnya mencobanya.

__ADS_1


Senyum Maya pun seketika berkembang mendengar persetujuan Iskan. Maya hanya berharap, Iskan dapat melihat ketulusannya setelah mereka berkencan.


__ADS_2