
Malam semakin larut. Fahri sengaja mengantar Iskan pulang untuk sekalian berbincang dengannya.
"Loh udah yakin sama perasaan loh?" tanya Fahri tiba-tiba.
"Hah? Maksudnya?" sahut Iskan tak tahu arah pembahasan Fahri.
Sebenarnya saat Iskan dan Maya mengobrol tadi, ia sengaja menguping karena sangat kepo.
"Yah... itu. Loh sama adik gue. Gue gak sengaja nguping tadi.. hehe," balasnya.
Iskan tak terlalu memikirkannya. Dan ia ia hanya merespon singkat dan tak peduli jika memang Fahri sampai menguping obrolan mereka tadi.
"Oh.."
"Oh? Gitu doang?"
"Nggak sih. Sebenarnya gue bukan gak yakin sama perasaan gue. Tapi, gue gak yakin sama keadaan gue. Maya itu... seperti seorang puteri. Sedangkan gue... seperti rakyat jelata yang serba kekurangan. Gue dan dia ibarat langit dan bumi. Banyak hal yang gue takutin. Salah satunya gue takut kalau Maya gak bahagia sama gue. Dan gue malah nyakitin perasaanya..." ungkap Iskan dengan sejujur-jujurnya.
__ADS_1
Fahri menghela nafas panjang dan tersenyum mendengarkan curhatan Iskan.
"Apa yang loh takutin, belum tentu terjadi. Loh gak tahu, seperti apa arti bahagia yang sebenarnya. Kalau menurut gue sih, selama pasangan kita tidak menuntut apapun. Dan selama dia gak keberatan mengerti kita untuk bisa menerima apa adanya, lalu seperti apapun keadaan kita. Itu gak jadi masalah. Yang terpenting itu... jangan sampai hilang sebuah pengertian dan kepercayaan," saran Fahri nampaknya memberikan lampu hijau kepada Iskan.
"Kak Fahri restuin hubungan kita?" tanya Iskan.
"Dih, siapa bilang? Gak semudah itu, yah!" sangkal Fahri.
Iskan tersenyum kecil. "Lalu, kalau nggak kenapa tadi ngasih saran?"
Iskan hanya mendengus tersenyum mendengarnya. Mereka nampak menjadi lebih dekat hanya dalam waktu yang singkat. Fahri teryata orangnya sangat terbuka juga dan asik banget orangnya. Bisa membuat orang lain nyaman begitu saja didekatnya. Mungkin karena ia punya sifat yang welcome terhadap orang lain.
Tidak lama perjalanan yang mereka tempuh akhirnya mereka sampai di rumah Iskan.
Fahri tak turun untuk mampir. Setelah Iskan turun Fahri langsung saja pergi. Iskan sejenak menatap rumahnya dan enggan masuk karena luka di wajahnya terlalu menonjol. Namun, ia pikir saudara-saudaranya akan lebih khawatir jika ia tak pulang.
Iskan pun masuk dan mendapati Jafar dengan Ira tengah duduk mengobrol tentang dia. Seketika kedua pandangan itu menangkap Iskan dengan wajah kaget karena banyak memar dan luka di wajah sang adik.
__ADS_1
"Maaf, karena pulang terlambat," sesal Iskan.
"Kamu berkelahi lagi?" sahut Ira spontan. "Berapa kali kakak sudah bilang sama kamu. Jangan berkelahi dengan siapapun. Apakah kamu tidak pernah ada niat untuk berubah sama sekali. Kenapa kamu begitu sulit diberitahu? Apa kamu ingin menjadi seperti ayahmu?" omel Ira membuat Iskan sangat tersinggung.
Tatapan Iskan berubah menjadi sinis dan tajam menatap Ira.
"Ira cukup! Jangan melewati batas!" sergah Jafar menghentikan Ira supaya tak kelewatan dalam berucap.
"Iskan? Bersihkan dirimu. Dan istirahatlah. Kamu pasti lelah. Apa mungkin, kamu sudah makan?" lanjut Jafar.
Iskan yang tersulut api kini dingin kembali karena perhatian Jafar. Walaupun Iskan kesal namun ia hanya bisa menahannya.
"Sudah."
Iskan segera pergi ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia melemparkan tubuhnya diatas kasur. Lalu ia memejamkan kedua matanya sambil menutupinya dengan tangan kanannya.
"Gue tak pernah ingin mengikuti jejak ayah. Karena itu gue berusaha untuk berubah. Karena gue gak ingin menjadi seperti dia," gumam Iskan merasa kecewa kepada Ira karena perkataannya.
__ADS_1