
Usai Jafar merasa tenang kembali dan duduk disamping adiknya yang masih belum sadarkan diri juga, ia mengelus kepala Tina dengan begitu lembut serta air matanya yang kunjunh berhenti. Tina harus menjalani perawatan sehingga ia dipindahkan ke kamar rawat inap kelas 3.
Sementara wali kelas Tina pulang dengan membawa Al bersamanya. Karena ia takut Jafar akan hilang kendali jika Al berada disana lebih lama lagi. Walaupun awalnya Al menolak dan tak mau pulang, namun dengan bujukan wali kelasnya akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang.
Tatkala Tina pun akhirnya membuka kedua matanya. Dokter bahkan sudah meresepkan obat untuk Tina minum setelah ia terbangun nanti supaya Tina tak terlalu merasakan kesakitan.
Orang yang pertama kali Tina lihat saat membuka matanya, tersenyum sambil berlinang air mata.
"Kamu sudah bangun? Kamu tidur sangat lama sekali sampai kakak merasa bosan," ucap Jafar.
"Kak Jafar?" sahut Tina tak bisa melihat wajah Jafar dengan jelas dan penglihatannya menjadi kabur dan samar-samar Tina mengucek kedua matanya, dan tak lama kemudian penglihatannya kembali normal.
__ADS_1
Tina melihat kesekeliling ruangan dan mendapati dirinya sedang di rumah sakit dan memaki infusan di tangan kanannya. Melihat kedua mata Jafar yang sayu dan basah oleh air mata membuat Tina berasumsi kalau Jafar mendapat kabar buruk tentang kesehatannya.
"Kenapa kakak menangis? Aku baik-baik saja sekarang," ujar Tina sambil mengusap air mata di pipi Jafar dan tersenyum.
Melihat senyum yang Tina lontarkan membuat hati Jafar semakin sakit. Ia meraih tanga Tina yang berusaha mengusap air mata di pipinya dengan lembut.
"Maafkan Kakak. Maaf karena Kakak tak begitu memperhatikanmu. Maaf karena membuat kamu harus menahannya sendirian selama ini. Maafkan Kakak."
Tina ikut menangis dan memeluk Jafar erat-erat.
"Bukan salah siapapun jika aku sakit. Kalian sudah melakukan yang terbaik untukku. Maafkan aku karena merahasiakannya dari kalian. Aku tak mau membebani Kakak terus menerus," balas Tina begitu lirih.
__ADS_1
Jafar tak bisa berpikir kalau Tina akan begitu memikirkan ketiga kakaknya. Dan menahan penderitaannya seorang diri. Jafar semakin tak berdaya pada takdir malang Tina. Ia hanya mau menjadi kakak yang terbaik untuknya. Dan malah menjadi yang terburuk untuk Tina.
Setelah beberapa saat mereka menangis dan berpelukan, Jafar melepaskan pelukannya dan menatap Tina.
"Mulai sekarang, jangan menanggungnya sendirian. Kakak, akan selalu ada di samping kamu. Kakak akan merawat kamu sampai sembuh. Karena itu, jangan pernah menyerah pada penyakitmu. Mari kita... berjuang bersama-sama," pinta Jafar dengan lembut.
Tina hanya mengangguk mengiyahkan. Lalu, setelah itu Jafar memberikan obat yang dokter resepkan untuk Tina supaya diminum olehnya. Tina sangat menurut dan langsung meminum pil yang sangat pahit itu.
Tak lama kemudian setelah meminum obat Tina merasa mengantuk dan ingin tidur. Jafar menyuruhnya untuk beristirahat. Ia pun keluar dari kamar pasien supaya Tina tak terganggu olehnya.
Setibanya di luar, Jafar tak bisa berhenti menangis dan lagi-lagi ia tak berdaya untuk menahannya. Ia tak bisa setegar dulu. Hati ya kini begitu rapuh dan lemah.
__ADS_1