Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 15


__ADS_3

Hari ini wali kelas Tina mengatakan kalau akan ada rapat orang tua dihari jum'at yang akan datang. Bahkan wali kelas Tina membagikan surat undangan untuk para orang tua.


Tina sekali lagi terdiam sedih melihat surat undangan yang ia pegang saat ini. Ia tahu, kalau ia tak boleh membicarakan kedua orang tuanya lagi mulai dari sekarang. Namun, Tina juga tahu kalau kakak tertuanya selalu sibuk bekerja banting tulang untuk biaya sekolahnya. Tina tak mau menganggu pekerjaan Jafar. Ia pun mendesah pelan.


"Ada apa?" tanya Al. Kini Al benar-benar telah menjadi teman Tina. Satu-satunya teman yang Tina miliki sekarang.


"Tidak papah. Tapi, apakah rapat orang tua harus wajib datang semua?" jawab Tina dan bertanya pada Al.


"Yah, entahlah. Aku juga kurang tahu. Kenapa? Orang tua kamu tidak bisa datang? Kalau begitu kita sama. Orang tuaku juga sangat sibuk. Apalagi undangannya dihari kerja. Kurasa orang tuaku juga akan menyuruh orang untuk perwakilan," terang Al.


"Begitu yah..." Tina hanya manggut-manggut tanda mengerti.


Mereka pun sejenak saling terdian satu sama lain. Mendadak ada dua siswa satu kelasnya berbicara kepada mereka.


"Hei, Al! Kamu kok mau aja sih berteman sama Tina?"


"Iyah! Kamu gak tahu yah... kalau ayahnya Tina itu seorang kriminal?"


"Benar! Bahkan katanya ayahnya pernah membunuh tetangganya sendiri. Makanya gak ada yang berani dekat-dekat sama dia."

__ADS_1


"Awas loh nanti kamu jadi sasaran selanjutnya!"


Dua teman satu kelasnya itu terus saja nyerocos menakut-nakuti Al dengan rumor yang sudah lama itu.


Al menatap Tina yang menunduk dalam-dalam. Al tahu kalau ucapan kedua anak itu mungkin saja adalah faktanya. Dan Tina dijauhi karena mungkin memang mereka takut sebab rumor ayahnya yang seorang pembunuh. Pikir Al.


Namun Al malah merasa kasihan pada Tina. Setelah mendengar hal tersebut, Al merasa kalau ia tak boleh bersikap seperti yang lainnya. Karena walau bagaimana pun juga Tina tidak salah apapun. Ia hanya menanggung kesalahan dari perbuatan orang tuanya.


"Jangan berbicara buruk seperti itu! Memangnya kalian pernah melihat langsung ayahnya membunuh?" timpal Al membela Tina.


"Yah, enggak sih... tapi beritanya ada kok, di tv."


"Yah terserah kamu deh, Al. Dibilangin gak percaya!"


***


Iskan tak banyak bicara selama perjalanan. Maya merasa sangat canggung karena Iskan hanya menatap keluar jendela dan tak bicara apapun. Maya terus saja memperhatikan wajah Iskan yang terlihat sedang banyak pikiran. Tapi, Maya juga sedari tadi memperhatikan.Kalau Iskan sama sekali tak membawa apa-apa.


"Iskan?" panggil Maya.

__ADS_1


Iskan menoleh pada Maya. "Apa?"


"Kamu gak bawa apa-apa? Kita kan mau nginep disana," ujar Maya.


"Aku tahu. Tidak usah mempedulikanku. Aku tahu cara menjaga diriku," balas Iskan dengan tenang dan santai.


Namun, Maya tetap saja merasa kalau Iskan terlalu santai. Ia juga khawatir kalau Iskan tak bawa uang saku untuk makan disana nanti.


"Apa kamu sudah sarapan tadi?" tanya Maya lagi cemas.


"Sudah," timpal Iskan singkat.


Maya pun kemudian terdiam karena Iskan nampaknya sedang tak mau bicara. Maya tak tahu kenapa sikap Iskan menjadi lebih dingin, dibandingkan saat dia menjadi berandalan sekolah. Maya seperti tak pernah mengenal siapa Iskan.


Seketika kantuk menyerang kedua mata Maya. Mata Maya terasa sangat berat. Sampai tak terasa perlahan ia pun tertidur lelap dan kepalanya jatuh tepat dibahu Iskan.


Deg~


Iskan merasakan debaran jantungnya mencepat. Apalagi saat ia melihat wajah cantik Maya yanh begitu dekat didepan matanya. Awalnya Iskan mau mendorong kepala Maya untuk mejauh. Tetapi, ia merasa kasihan dan membiarkan Maya tidur di bahunya sampai mereka tiba di Bandung.

__ADS_1


__ADS_2