
Akhir pekan ini Jafar menyarankan untuk pergi berlibur menghirup udara segar. Semua orang setuju dan ikut berlibur kecuali Pak Aban yang katanya harus dinas lagi ke luar kota.
Tina terlihat sangat senang bisa menghirup udara segar tanpa polusi. Pemandangan yang indah. Al mengajak Tina untuk melihat danau lebih dekat. Ia mendorong kursi roda Tina sampai ketepi dengannya.
Yang lainnya membiarkan Tina dan Al bermain dan mengobrol. Lagi pula Tina terlihat senang sekali mengobrol dengan Al.
"Aku harap Tina benar-benar pulih dan sembuh total," ucap Jafar tak bisa memalikan pandangannya dari Tina walau hanya sedetik saja.
Dina merangkul dan memeluk tangan Jafar. "Kita do'akan saja," sahutnya.
Semua orang kembali hanyut dalam pikiran masing-masing. Selama merawat Tina ada hikmah yang sangat besar. Semua orang jadi menghargai waktu kebersamaan mereka. Hubungan yang sudah retak mulai kembali membaik secara perlahan. Dan perasaan peduli tentang satu sama lain pun tergaga dengan sangat baik. Cinta berkembang dan tubuh dengan kuat lewat cara yang menyakitkan seperti ini.
"Al? Makasih yah! Berkat kamu aku tak lagi kesepian. Kamu tahu, kamu itu bagai matahari setiap hariku," ucap Tina.
Al tersenyum. "Dan aku akan terus menjadi mataharimu untuk selamanya. Karena itu cepatlah sembuh, yah?"
__ADS_1
Al mengelus pipi Tina sambil menatapnya penuh cinta.
"Aku senang, karena pada akhirya aku mendapatkan banyak cinta bahkan lebih dari yang aku harapkan. Al? Jika seandainya aku meninggal lebih cepat, bisakah kamu menjaga keluargaku untukku? Bisakah kamu, terus memperhatikan mereka?"
"Sssttt... jangan bicara seperti itu. Keluargamu adalah tanggung jawabmu. Dan harus kamu yang menjaga merekan," sela Al.
"Mmm... memang harus begitu, iyah ka?" balas Tina lagi tak mau berdebat yang penting sudah ia sampaikan apa yang ingin diucapkan.
Tina hendak ingin meraih tangan Al. Tetapi, tiba-tiba saja tangannya sulit bergerak. Padahal Tina baru keluar dari rumah sakit dua minggu yang lalu dan ia mendapatkan perawatan yang terbaik mau di rumah atau pun saat di rumah sakit.
Seketika pandangan Tina kembali kabur. Ia tak bisa melihat jelas matahari yang ada didepannya. Lalu kemudian, mendadak kepalanya sakit lagi dan telinga terasa berdenging.
"Ada apa?" Al panik saat Tina mengeluh kesakitan padahal seharusnya kondisinya sudah membaik.
"Kak Jafar!" teriak Al memanggil yang lainnya.
__ADS_1
Mendengar teriakan panik dari Al Jafar segera menghampiri mereka disusul yang lainnya.
"Tina? Tina kamu kenapa?" tanyanya panik.
"Kepalaku sakit!" lirih Tina begitu kesakitan.
Jafar langsung saja menggendong Tina dan berlari sekuat tenaga. Ira mendorong kursi roda Tina untuk dibawa. Mereka bergegas pergi ke rumah sakit lagi.
Setibanya di rumah sakit. Tina diperiksa dan diberi obat pereda rasa nyeri. Dokter membawa kabar yang tak baik dari kondisinya.
Kabar itu membuat harapan semua orang runtuh dan berantakan. Tina mulai kehilangan keseimbangan, dan otot-otot tubuhnya mulai melemah. Kondisinya semakin memburuk dan kemo pun sudah tak ada lagi artinya. Tina dalam keadaan kritis.
Tina pun kembali dirawat. Jafar masih tak mau menyerah kepadanya.
Ketika Tina terbangun ia sadar kalau dirinya sudah tak mampu bertahan lagi. Senyum yang selalu terpampang di wajah kakak-kakaknya menghilang seketika.
__ADS_1
"Jangan menangis!" tukas Tina dengan lemah. "Aku tidak menghapus air mata kalian sekarang. Jangan menangis!" pintanya sambil terisak tak bisa menghentikan air matanya.
Ketiga kakaknya memeluk Tina yang terbaring lemah tak bisa bergerak sama sekali. Mereka menangis bersama-sama. Sulit dipercaya jika Tina harus pergi secepat ini.