Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 50


__ADS_3

Setelah acara selesai. Ira dan Arif duduk di taman berdua menatap langit yang kini menghadirkan empat bintang yang bersinar terang.


"Gue harap, kehangatan ini akan berlanjut selamanya," ungkap Ira dengan penuh akan harapan.


"Benar, gue juga berharap bisa bersama loh selamanya seperti ini," sahut Arif.


Keduanya saling memandang dengan penuh cinta. Dua insan tersebut sedang dimabuk asmara.


"Tapi, ngomong-ngomong orang tua loh gak dateng?" tanya Ira tiba-tiba.


"Yah... gue udah biasa sih... loh tahu sendiri kalau ayah gue itu pendiri sekolah kita. Dia sering bepergiaan keluar negeri setelah menikah lagi. Sepertinya bokap gue itu sudah cinta mati sama tuh wanita. Makanya dia gak bisa nolak apapun keinginannya.." jelas Arif membuka sedikit tentang aib keluarganya pada Ira.


"Wahh sampe segitunya yah... gak enak juga jadi anak orang kaya. Keliatan kesepian terus," balas Ira sedikit bergurau supaya suasan tak menjadi canggung.


Arif menoleh tersenyum padanya dengan alis yang bekerut. "Kagak juga... namun ada waktunya gue juga memang merasa kesepian."

__ADS_1


Ira pun tersenyum sangat bahagia. "Yah... serha loh deh!"


Sementara itu Al, Tina, Pak Aban dan yang lainnya masih senang berkumpul dan mengobrol. Seketika lagi-lagi Tina mimisan untuk kedua kalinya dalam sehari ini.


Al yang menyadari hidung Tina mengeluarkan darah segera mengambil tisu dan memberikannya pada Tina.


"Tian hidungmu..." kata Al.


Tina yang langsung ngeh dengan kata hidung langsung mengambil tisu yang Al berikan dan menahannya supaya darahnya tak kemana-mana. Semua orang seketika terdiam khawatir pada Tina.


Melihat mata mereka yang dipenuhi rasa kekhawatiran kepadanya. Tina langsung memberikan mereka senyuman khasnya dan berkata kalau ia baik-baik saja.


"Gak papak, Kek. Seharian ini, aku merasa sangat lelah. Mungkin, karena aku kurang istirahat saja. Sebaiknya aku segera tidur sekarang," balas Tina.


"Yasudah. Kamu istirahat saja. Jika kamu perlu sesuatu kamu bilang, yah?" tukas Al sangat cemas karena wajah Tina semakin terlihat pucat.

__ADS_1


"Iyah."


"Aku antar kamu masuk, yah?" tawar Al yang hanya diikuti oleh anggukan Tina.


Sebenatnya Tina saat ini merasa sangat mual dan pusing. Namun, ia tak mau menunjukkannya. Ia menahannya sebisa mungkin sampai Al mengantar ia ke kamar untuk tidur dan beristirahat.


"Aku gak papah, kok. Aku mau tidur dulu, kamu balik sana, kumpul lagi sama yang lainnya," ujar Tina dengan senyum yang tak kunjung sirna di wajahnya.


Al sejujurnya merasa ada yang salah dengan Tina. Saat di sekolah pun setiap kali Al memperhatikan Tina akhir-akhir ini dari jauh, terkadang ia seperti sedang menahan rasa sakit di tubuhnya. Dan sekarang, ia jadi sering mimisan.


"Kamu yakin, gak papah?" tanya Al lagi.


Tina mengangguk dengan yakin. "Udah sana! Aku mau tidur. Kamu disini hanya membuat aku terganggu saja," kata Tina sambil mendorong tubuh Al untuk pergi. Sementara ia menutup pintu kamar dan berbarin di atas ranjangnya.


Seketika Tina pun langsung tak bisa menahan rasa sakit di kepalanya. Ia terus menekan kepalanya dengan kedua telapak tangannya berharap rasa sakitnya reda.

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini Tina merasakannya. Tetapi ia tak mau cerita pada siapapun karena ia pikir itu hanya akan membebani semua orang. Ia hanya bisa menangis sendirian menannggung kesakitannya dalam diam.


__ADS_2