
Hari menjelang sore. Wali kelas Iskan mengumpulkan murid-muridnya yang masih asik bermain disekitar alun-alun Kota Bandung. Maya tak melihat Iskan dimana pun. Jadi, ia pergi mencarinya. Maya tak bisa menemukan Iskan. Jadi, ia mencoba menghubunginya.
"Nomor yang anda tuju tidak terdaftar."
"Oh iyah, gue lupa hp Iskan rusak tiga bulan yang lalu," gumam Maya.
Lantas, Maya mengajak bestinya Ebi untuk mencari Iskan dan dua temannya Ridwan dan Panji yang entah pergi kemana.
"Bantu gue nyari Iskan, yok!" Maya menarik tangan Ebi untuk ikut bersamanya.
"Iyah, ayo! Tapi jangan tarik-tarik juga kali!" seru Ebi.
Maya dan Ebi mencari ke tempat-tempat yang mungkin akan Iskan datangi bersama Ridwan dan Panji. Dan tak lama kemudian akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari tersebut.
Namun, Maya dibuat cemburu oleh Iskan. Ternyata saat ini Iskan sedang mengobrol dengan gadis cantik yang ayu. Pemandangan itu membuat Maya patah hati. Iskan bahkan tersenyum saat mengobrol dengannya.
Maya yang tadinya hendak menghampiri Iskan, ia urungkan lagi niatnya itu.
"Tuh, si Iskan! Ayo kita datangi dia!" ucap Ebi hendak melangkah pergi menghampiri mereka.
Namun, Maya segera menghentikan langkahnya. "Gak usahlah! Kita balik lagi aja!" sahut Maya jutek dan ketus.
Awalnya Ebi tidak paham dengan sikap bestinya itu. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya Ebi mulai curiga dan mengerti dengan sikap Maya. Saat ini Maya pasti cemburu melihat Iskan dengan cewek lain. Dan itu artinya, Maya pasti menyukai Iskan. Pikir Ebi.
"Buset dah, May! Loh gimana, sih! Plin plan amat jadi orang!" oceh Ebi saat menyusul langkah Maya dari belakang untuk balik kumpul dengan yang lain.
"Jangan bilang, loh cemburu sama cewek yang ngobrol sama Iskan? Loh suka yah, sama si Iskan?" goda Ebi baru menyadarinya.
"Nggak! Siapa juga yang suka? Dan siapa juga yang cemburu?" sangkal Maya tak mau mengaku.
"Masa? Terus kenapa loh gak jadi hampiri si Iskan tadi?" tanya Ebi lagi terus menyelidikinya dan memancingnya.
__ADS_1
"Yah, itu..."
"Nah, loh gak bisa jawab, kan? Udah loh ngaku aja, kalau loh suka sama si Iskan!"
"Ebi! Udah ah! Jangan bahas dia lagi!" Maya kesal dan marah karena Ebi terus saja menggodanya seperti itu.
"Lah, kok marah. Kalau suka ya bilang suka dong! Jangan dipendem. Nanti kalau direbut orang baru tahu rasa lho!"
Maya cemberut mendengar ocehan Ebi. "Terus kalau gue bilang dan dia nolak gue, gimana?" sahut Maya mendelik kesal.
"Emang udah dicoba? Gimana kalau ternyata dia jug suka sama, loh?" Ebi terus saja memprovokatori Maya.
Maya kemudian terdiam memikirkannya. Memang dia tidak akan pernah tahu perasaan Iskan jika dia tidak mengatakannya. Tetapi, ia juga ragu. Ia tak sanggup jika harus menerima penolakan Iskan akan perasaannya. Dia akan merasa sangat malu jika itu terjadi.
Lantas, Maya pun hanya bisa menghela nafas berat memikirkannya.
***
"Sama-sama Neng! Lain kali hati-hati kalau jalan," balas Iskan dengan senag hati membantunya.
"Iyah, A."
"Neng? Boleh minta nomor ponselnya?" sela Ridwa langsung naksir pada gadis yang bernama Neng Salma yang sering disapa Neng itu.
"Jangan Neng! Jangan dikasih sama dia! Mending sama Aa aja!" sambar Panji juga ikut-ikutan.
"Anj*ng Luh! Ikut-ikutan aja!" seru Ridwa sambil mendorong tubuh Panji untuk menjauh.
"Apaan sih, loh? Gue emang udah niat mau minta nomornya!" Panji kembali tak mau kalah.
Neng bahkan sampai terlihat tidak nyaman karena sikap mereka berdua. Sampai Iskan akhirnya menegur mereka untuk tidak bersikap murahan dan memalukan seperti ini.
__ADS_1
"Et dah, luh berdua! Malah jadi ribut gini, sih! So kecakepan. Belum tentu dikasih juga, udah berantem rebutan. Malu-maluin!"
Neng pun tersenyum melihat Iskan yang memarahi kedua temannya itu sampai mereka terdiam.
"Tahu nih, si Panji!" tukas Ridwan menyalahkan Panji.
"Enak aja loh, nyalahin gue!" bela Panji tak mau kalah juga.
Iskan hanya bisa menggeleng pelan menatap lelah melihat mereka yang masih saling cubit dan sikut malah saling menyalahkan.
"Udah udah! Jangan berantem. Yaudah..." Neng melerai dan mengambil selembar kertas juga pena. Lalu menuliskan nomor kontaknya untuk mereka.
"Ini, nomor Neng," ujarnya sambil memberikan kertas itu pada Iskan.
"Kok, malah dikasih ke Iskan?" sahut Panji.
"Kalau Neng, ngasih ke salah satu dari kalian, nanti malah direbutin lagi kertasnya. Kalian kan nanti bisa minta sama A Iskan," balas Neng.
Sebenarnya Iskan sama sekali tak tertarik untuk mendapatkan nomor gadis ayu ini. Lagi pula ia sudah memiliki seseorang dalam hatinya. Tetapi, karena yang dikatakan Neng ada benarnya juga. Ia pun mengambil dan menyimpan nomor Neng yang ditulis di kertas dalam saku celana.
"Yaudah, deh!" ujar Ridwan akhirnya mengalah dan setuju pada Neng.
Tiba-tiba Panji mendapatkan Chat dari salah satu teman sekelasnya. Ia memberitahu mereka untuk segera kumpul sekarang karena akan segera pulang.
"Bro, kita disuruh balik sekarang. Uda mau pulang katanya," ucap Panji memberitahu Iskan dan Ridwan.
"Yaudah, kita balik sekarang," balas Iskan.
"Neng? Aa balik dulu, yah! Nanti Aa telpon kamu," ujar Panji menatap tersenyum genit padanya.
"Idih! Udahlah, ayok balik!" sambar Ridwan menarik kerah baju Panji dan menyeretnya pergi.
__ADS_1
Neng hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang saling menyerang memperebutkannya. Namun, dari tatapan Neng, sudah menunjukkan kalau ia tertarik pada Iskan dan jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya.