
Iskan dan Tina serta Al, baru saja sampai di rumah. Iskan melirik ke sekeliling ruangan sempit mencari sosok kakak tertuanya, Jafar. Namun, tidak ia temukan sosok tersebut dimana pun.
Begitu pun Tina, seketika mencari sosok Jafar yang juga tidak bisa ditemukan oleh pandangannya.
Sementara Al, hanya memperhatikan kedua saudara itu nampak gelisah saat ini. Meskipun Al tidak tahu alasannya, tetapi ia tak mau mempertanyakannya untuk menghormati mereka.
"Tina, kamu cepat ganti pakaian sana!" titah Iskan segera.
"Iyah, Kak!" balas Tina.
Sementara Al duduk dan menunggu kedua saudara itu selesai. Karena ia hanya sekedar tamu mereka saat ini.
Al menelusuri ruangan sempit tersebut dengan kedua matanya. Lalu kemudian, pandangannya berhenti pada sebuah foto kecil yang terpajang di tembok. Itu adalah foto keluarga mereka.
Al bangkit dan melihat-lihat foto tersebut. Namun sayangnya di foto itu tak nampak sosok orang terpenting, yaitu orang tua mereka.
"Hei!" Iskan menegurny. Sontak Al terperanjat kaget dan menoleh padanya. Namun, Iskan nampak tak marah, ia hanya melempar baju kaos kering ke arah Al yang segera sigap menangkapnya.
"Ganti bajumu! Itu pun kalau kamu tidak mau terkena flu," ucap Iskan sambil kembali pergi ke dapur.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak!" balas Al sambil tersenyum dan segera mengganti seragamnya yang agak basah itu dengan baju kaos milik Iskan.
Meskipun agak kebesaran, tapi itu lebih baik dari pada harus memakai pakaian basah bagi Al.
Tidak lama Tina segera keluar setelah berganti pakaian. Tina tersenyuk ketika melihat tubuh Al yang kecil tenggelam dalam pakaian Iskan yang besar. Melihat senyum Tina, Al menatapnya terpesona. Karena jika diperhatikan lebih lama lagi, Tina terlihat sangat manis. Apalagi ketika ia tersenyum lebar seperti itu.
"Senyum kamu manis," puji Al membuat Tina kembali meredupkan senyumnya.
"Apaan, sih? Nggak juga!" balas Tina geer dan baper.
Sesaat kemudian, Iskan kembali dengan menenteng dua piring nasi dengan ceplok telor. Lalu, ia menaruhnya diatas meja.
"Kemana kakak mau pergi?" tanya Tina.
Iskan tak menjawab dan hanya menyungging senyum sambil mengelus rambutnya.
"Kakak akan segera kembali, jadi jangan pergi kemana-mana dan tetap di rumah, oke?" ujar Iskan lagi.
Tina menarik ujung baju Iskan dan menatapnya lekat-lekat. "Di luar hujan. Bisakah kakak pergi setelah hujan reda?" lanjutnya.
__ADS_1
Iskan dengan lembut melepaskan cengkraman tangan adiknya itu.
"Maaf Tina, tapi kakak harus pergi sekarang. Tunggulah di rumah sampai kakak kembali, mmm?" balas Iskan lagi terkekeh ingin pergi.
Tina tak bisa berucap apapun lagi dan hanya bisa mengangguk mengiyahkan. Lantas, Iskan pun segera pergi lagi memakai plastik bekas tadi yang dipakai oleh Tina dan Al.
Al bisa merasakan kehangatan keluarga ini. Hubungan yang baik dan keluarga yang saling menjaga. Al adalah anak tunggal, jadi ia tidak bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara yang sayang dan selalu menjaganya.
Namun, Al bisa mengerti seperti apa rasanya hanya dengan melihat Tina dan Iskan. Ia merasakan kehangatan cinta saudara ini.
"Bisa kita makan sekarang? Kurasa perutku sudah lapar," ucap Al membuyarkan kegelisahan Tina saat ini.
Kruuuuk~
"Dengar! Perutku sudah memanggil ingin diisi," lanjutnya sambil bercanda.
Tina sekali lagi tersenyum mendengar ucapan Al. Lalu, ia segera duduk bersama Al dan makan bersama. Walau hidangan yang tersaji tak begitu mewah. Namun, Al menikmatinya. Sebab, di rumah ia selalu makan sendirian. Tak tahu seperti apa nikmatnya makanan yang ia makan meskipun makanan itu sangat mewah.
Namun, walaupun hanya dengan nasi putih dan ceplok telor, ia bisa merasakan kenikmatannya saat makan bersama Tina.
__ADS_1