
Iskan baru saja sampai menjemput Tina. Ia melihat Tina sedang mengobrol dan ditemani oleh seorang teman.
"Tina! Ayo pulang!" panggil Iskan setibanya disana.
Tina beranjak bangun disusul oleh Al. "Ujanan?" tanya Tina setelah melihat Iskan yang basah kuyup karena hujan-hujanan.
"Nggak! Kamu pakai ini!" ujar Iskan seraya mengeluarkan pakaian plastik yang ia pungut dari jalanan saat menuju kesana.
"Kakak?" tanya Tina lagi menatap tegas pada Iskan.
"Kakak udah terlanjur basah. Jadi, gak papah. Ayo, pulang!" tukas Iskan terkekeh dan menyuruh Tina memakai plastik tersebut untuk menutupi tubuhnya.
Iskan sama sekali tak mempedulikan kehadiran Al disana.
Tina menoleh ke arah Al yang masih belum juga di jemput. "Kamu gimana?" tanya Tina.
"Hah? Ah, mungkin aku harus menunggu lebih lama seorang diri," balas Al tersenyum kecil.
"Mau ikut?" tanya Tina pada Al.
"Boleh?" sahut Al bertanya balik.
__ADS_1
Tina mendongak menoleh pada Iskan meminta persetujuannya. Awalnya Iskan tak mau mengajaknya. Namun, memikirkan ia akan sendirian menunggu disini. Ada perasaan iba dan tidak tega jika meninggalkannya dalam cuaca seperti ini.
Al berasumsi kalau orang tuanya pasti lupa menyuruh orang untuk menjemputnya dihari pertama ia masuk sekolah.
"Yaudah, boleh," izin Iskan.
Senyum lebar seketika terpampang dengan indah di wajah Al. Tina pun membagi pelindung plastik dengan Al agar tidak kehujanan. Mereka pun pulang bersama ke rumah Tina.
***
Ira hendak pulang hujan-hujanan. Namun, tanpa diduga Arif datang memberikan sebuah payung untuk dipakai.
Seketika para siswi yang melihatnya merasa cemburu pada Ira sekaligus memberikan tatapan marah. Suasana yang tak enak itu membuat Ira tak mau banyak berurusan dengan Arif. Ia tak mau kehidupannya di sekolah menjadi sulit karena menerima perlakuan baik dari Arif. Ira merasa hidup susah tanpa orang tuanya sudah sangat sulit. Dan ia tak mau hidupnya lebih sulit lagi dengan terlalu dekat dengan Arif.
"Gak usah, makasih!" Ira menolak dengan tegas dan segera berlari pergi menerobos hujan yang deras.
Semakin Ira menolak Arif. Itu membuat Arif semakin tertarik padanya. Ia tak bisa berhenti tersenyum sambil menatap punggung Ira yang hampir berlalu diderasnya hujan hari ini.
"Ini sangat menarik," gumamnya.
Ira berhenti dan berteduh di garduh pengkolan ojek walaupun sudah basah kuyup. Ira melihat jam di hp-nya.
__ADS_1
"Duh! Bisa terlambat gue!" gerutunya.
Ira pun kembali berlari menuju Cafe tempat ia bekerja paruh waktu. Setibanya di tempat kerja, Ira masuk lewat pintu belakang dan segera mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk. Lalu, ia pergi ke loker pegawai untuk mengganti pakaian basahnya dengan seragam Cafe.
Ia pun menggantung seragam basahnya supaya kering di teras Cafe yang ada dilantai atas. Setelahnya, ia mulai bekera menggantikan manager Cafe menjaga kasir untuk melayani para pelanggan.
"Kamu sudah datang?" ucap manager itu.
"Maaf, saya sedikit terlambat," sesal Ira.
"Tidak papah. Kalau begitu, saya harus pergi dulu, jangan bekerja terlalu keras," balasnya.
Ira hanya mengangguk dan tersenyum. Untungnya Ira mendapatkan pekerjaan dengan bos yang baik hati.
Ira pun bekerja dengan baik, membersihkan meja yang kotor dan melayani para pelanggan yang datang.
Namun, hari ini Ira kedatangan seorang pelanggan yang tidak asing baginya. Seorang pelanggan yang sangat ia kenal. Dan seorang pelanggan yang telah membuat hidupnya sangat sulit dan penuh penderitaan. Saat melihatnya, Ira langsung tertegun menatapnya penuh dengan kemarahan. Apalagi ia yang tengah tersenyum bahagia bersama keluarganya yang baru. Seakan tak pernah memikirkan apa yang terjadi padanya dan saudara-saudaranya karena ego orang itu. Ira membenci tawanya, karena itu seperti bukti bahwa ia telah melupakan anak-anaknya.
Ira tak mampu membendung air matanya. Ia lolos begitu saja dikedua sudut matanya. Ira tak mampu menyembunyikan perasaan marahnya dan betapa ia membencinya.
"Mamah..?"
__ADS_1