Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 26


__ADS_3

Ternyata, perkelahian Arif dengan pria yang mengganggu malam itu, diunggah. Ada beberapa teman satu SMP dengan Ira berkomentar dalam unggahan vidio tersebut. Dan menceritakan tentang rumor ayahnya disana. Sehingga para gadis penggemar Arif di sekolah cemburu melihat Arif yang rela babak belur demi melindungi Ira. Sehinngga ketika ada komentar tentang rumor ayah Ira seorang pembunuh, mereka pun langsung tak tinggal diam dan mulai membully-nya.


Setelah Arif memperingati teman-temannya untuk tak lagi mengganggu Ira. Ia datang pada Ira dan menutupi tubuh Ira dengan jaketnya. Ia membantu Ira berdiri dan pergi dari kelas.


Mereka pergi ke toilet untuk membersihkan diri. Arif menunggu dan berjaga di depan pintu masuk toilet perempuan supaya tak ada lagi yang mengganggu Ira. Arif tak lupa menyuruh teman dekatnya Yudha untuk membawakan pakaian olahraga miliknya untuk Ira.


"Gak nyangka juga, yah. Pantesan Ira tak pernah mau berteman. Mungkin, karena ia takut rahasia tentang ayahnya bocor," ujar Yudha ikut menunggu bersama Arif dan mengoceh.


Arif menoleh padanya dan meliriknya tajam. "Sekali lagi loh bicara buruk tentang dia. Maka gue akan lupa kalau loh itu teman gue," ancam Arif sampai Yudha tak mampu berkutik dan berkomentar lagi tentang berita yang menggemparkan tersebut.


Tak lama kemudian, Ira keluar dari toilet dan memakai baju olahraga milik Arif yang selalu ia simpan di lokernya sehari sebelum pelajaran itu tiba. Dan ternyata hari ini pakaian itu berguna untuknya.


Walau agak kebesaran, Ira tetap memakainya karena tak ada pilihan lain yang bisa ia lakukan.


Ira menampakkan wajah yang begitu sedih karena insiden pagi ini dan fakta bahwa dirinya seorang anak pembunuh terungkap lagi seperti tahu lalu.


Seketika Ira tak dapat menahan air mata kepedihannya di depan Arif. Sehingga Arif tak tega melihat air mata yang keluar dari kedua matanya itu. Padahal sebelumnya, Ira terlihat seperti gadis yang tegar dan kuat. Namun, hari ini ia terlihat sangat lemah dan rapuh.


Arif memeluknya dan menenangkan Ira. "Tidak papah. Semua akan baik-baik. Jangan menangis. Aku ada untuk melindungimu, jangan menangis lagi," bisiknya dengan lembut.


"Sekarang gue harus gimana? Kenapa gue selalu disalahkan atas perbuatan bokap gue? Kenapa? Kenapa gue harus terlahir dengan nasib seperti ini? Kenapa? Ini sangat menyakitkan bagi gue," ungkap Ira dengan lirih.


Tangisan Ira malah semakin keras. Ia tak tahu perasaan menyedihkan ini akan ia rasakan lagi seperti ini. Sementara Yudha yang sedari tadi diam hanya bisa berpaling dari mereka.


Ini kali pertamanya Arif mendengar keluhan hidup yang begitu berat dari gadis jutek ini. Arif tak tahu seberat apa kehidupan yang Ira jalani. Tapi sekarang, ia hanya tahu kalau ia akan tetap berada disisinya untuk meringankan betapa berat kehidupannya. Itulah yang ia pikirkan saat ini.

__ADS_1


***


Tour hari ini di mulai dari jam sembilan pagi. Mereka mengunjungi Museum Konferesi Asia-Afrika di Bandung. Wali kelas menjalaskan sejarah tentang museum ini. Ketika para murid lain asik melihat-lihat. Iskan memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari wali kelasnya sesekali melihat kesana kemari.


"Si Iskan benar-benar berubah," bisik Ridwan.


"Bahkan 100%, cuy!" sahut Panji.


"Gila! Kesambet apaan sih, tuh anak? Kok bisa, yah?"


"Gue gak tahu dah! Pokoknya dia benar-benar sudah berubah."


Panji dan Ridwan asik berbisik membicarakan temannya yang berubah dengan drastis. Mereka bukannya menentang perubahan yang terjadi pada Iskan, melainkan mereka hanya merasa aneh dengan keadaannya yang berbeda dari sebelumnya. Seperti beradaptasi lagi dengan kepridian barunya.


"Berubah jadi power ranger?" sela Maya memotong percakapan mereka sambil berbisik dari belakang.


"Lagian, temen kalian berubah menjadi baik itu jangan digosipin. Tapi dukung, dong! Sekalian kalian ikutin jejaknya dan ikut berubah menjadi lebih baik," tukas Maya.


"Cieee!" serempak Ridwan dan Panji keceplosan sampai mengeraskan suara mereka.


"Panji, Ridwan! Kenapa kalian malah mengobrol? Bukannya memperhatikan!" tegur wali kelas mereka.


Lantas, semua pandangab tertuju pada mereka sambil mentertawakan mereka yang kena marah.


"Maaf, Pak!" serempak mereka lagi.

__ADS_1


Iskan hanya menggeleng pelan untuk mereka. Wali kelas melanjutkan tour mereka.


***


Lantas, setelah melakukn tour di Museum Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Mereka berjalan-jalan ke alun-alun kota Bandung. Wali kelas meraka mengizinkan mereka untuk bermain sepuasnya sebelum balik ke Jakarta.


Iskan berkumpul dengan dua teman dekatnya sambil duduk dan bercanda. Tiba-tiba Maya datang menghampirinya.


"Iskan? Kamu ingat kesepakatan kita sebelumnya?" tanya Maya.


"Ehem... ehem!" Panji berdehem keras menggoda mereka.


"Udah yuk! Kita pergi aja! Dari pada jadi nyamuk diantara mereka," timpal Ridwan menarik Panji pergi dari sana.


"Dasar mereka ini!" gumam Iskan.


Lantas, Maya duduk bersama Iskan. Menunggu jawabannya.


"Iyah, gue ingat kok."


"Nah, kalau gitu. Kita akan mulai besok. Jadi mulai besok, kamu harus selalu belajar bareng sama aku," balas Maya.


"Hei?"


"Hmmm?"

__ADS_1


"Apa loh naksir gue?" tanya Iskan tiba-tiba mempertanyakannya.


Maya terbelalak kaget dan membuka lebar-lebar kedua matanya menatap Iskan kaget. Ia terdiam tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Seketika wajahnya berubah menjadi merah.


__ADS_2