
Jafar mencari-cari Tina. Namun, ia tak melihat keberadaannya dimana pun. Jadi ia menghampiri Pak Aban yang masih asik mengobrol dengan orang tua Al. Tatkala Al masih berdiri di pintu depan kamar Tina.
Al masih khawatir kalau Tina berbohong mengatakan ia baik-baik saja. Padahal sudah sangat jelas kalau sorotan matanya begitu sayu dan tidak sehat.
Jafar bertanya pada Pak Aban tentang keberadaan Tina. Dan Pak Aban memberitahu Jafar seadanya. Lantas, Jafar menyusul untuk melihat dan memeriksa apakah Tina benar-benar tidur karena kelelahan.
Jafar bertemu dengan Al di depan pintu pondok. Al nampak berjalan sambil melamun sampai tak memperhatikan langkahnya. Sehingga ia hampir saja menabrak tiang pondok.
Untunglah Jafar menarih tangannya sehingga Al selamat dari bertabrakan dengan tiang.
"Perhatikan langkahmu! Malah ngelamun," ujar Jafar.
"Eh, Kak Jafar... makasih yah, Kak," sahut Al malah cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tina ada di kamar?" tanya Jafar langsung pada intinya.
__ADS_1
"Iyah, Kak. Tina baru saja tertidur..." balas Al.
"Oh... yaudah deh. Kasian juga kalau diganggu," gumam Jafar tak tega jika harus melihatnya sekarang dan malah membuatnya terbangun kembali.
"Mmmm... kak?" panggil Al menghentikan langkah Jafar yang hendak pergi lagi entah kemana.
"Iyah? Kenapa?"
"Apa mungkin... Tina sakit?" tanya Al menyelidiki kondisi Tina yang sebenarnya.
Al pun akhirnya menghela nafas lega mendengar Tina yang baik-baik saja.
"Syukur deh, kalau gitu..."
***
__ADS_1
Satu bulan berlalu dengan begitu cepat. Rasanya Tuhan telah memberikan kehidupan yang lebih baik untuk ke empat saudara tersebut.
Jafar berhenti dari pekerjaannya karena mulai bekerja dengan Pak Aban, sering ikut bepergiaan sambil belajar cara berbisnis dibawah bimbingan Pak Aban.
Sementara Ira masih bekerja paruh waktu. Ia masih tetap tak mau membebankan semua tanggung jawab pada Jafar. Namun ia tetap semangat belajar. Dengan pandai ia membagi seluruh waktunya untuk belajar, bekerja, bersama keluarga dan juga saatnya ia harus kencam dengan pacarnya Arif.
Di satu sisi, Iskan masih belum bisa berhubungan baik lagi dengan Maya. Sikap Maya kini seolah acuh tak acuh padanya. Ia hanya akan berbicara pada Iskan saat diperlukan. Walaupun sejujurnya sikap Maya yanh berubah drastis itu membuat Iskan merasa sangay sedih dan kecewa. Namun, ia tak mau menyesalinya. Ia tetap tekun pada perubahan studinya supaya tak mengecewakan saudara-saudaranya.
Tatkala Tina masih diam-diam menyembunyikan rasa sakitnya yang terasa semakin parah setiap harinya. Dalam satu bulan ini hanya berusaha bertahan tanpa harus diketahui oleh yang lain. Karena ia pikir, ketiga saudaranya baru saja mendapatkan kehidupan yang begitu damai, jadi ia tak mau merusaknya dan membuat mereka terbebani dengan sakitnya.
Tanpa Tina sadari, rambutnya pun mulai rontok dan wajahnya mulai terlihat semakin memucat. Tina jadi lebih sering menggunakan pelembab bibir milik Ira supaya tak terlihat begitu pucat.
Tina tak tahu kalau sakitnya itu semakin parah. Ia pikir ia bisa bertahan lebih lama lagi tanpa di obati. Tina jadi sering batuk-batuk. Bahkan pernah sampai batuk darah, tetapi tetap ia sembunyikan dari ke tiga saudaranya.
Begitu juga Al, yang lebih sering memperhatikan Tina sejak Tina sering muntah-muntah dan mimisan. Ia juga pernah memergokinya beberapa kali. Namun, Tina tetap saja bersikeras dan memohon pada Al untuk menyembunyikannya dari saudara-saudranya.
__ADS_1
Al tak bisa menolak permohonan Tina, jadi ia hanya diam saja dan merahasiakan semuanya. Tetapi, Al selalu mencari solusi supaya Tina mau diperiksa ke dokter agar jelas apa penyakit yang dideritanya. Namun, ia masih kecil dan butuh bimbingan dari wali untuk diperiksa.