Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 20


__ADS_3

Jafar terlambat mengantar pizza karena menolong pria tua yang tiba-tiba pingsan tadi. Ia jadi kena omel pelanggan juga kena marah dari bos pemilik restoran pizza. Karena pada dasarnya Jafar tak pernah lalai dalam pekerjaannya. Tetapi kali ini, ia telah membuat rugi, karena pelanggan tak mau bayar pizza yang sudah dingin.


Padahal pesanan yang ia kirim tadi lumayan banyak. Sebab itu, ia kena omel dan gajihnya dipotong untuk mengganti rugi pizza yang tidak jadi dibeli. Jafar hanya bisa pasrah dan sabar. Rasanya hari ini ia ditimpa oleh berbagai cobaan yang sangat berat.


Namun, Jafar tak mau merenung sedih hanya karena masalah tersebut. Ia harus tetap semangat bekerja supaya ia bisa memberikan kehidupan yang baik bagi ketiga saudaranya. Apalagi setiap kali ia mengingat kata-kata ibunya, ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia harus bisa membuktikan suatu hari nanti pada ibunya, kalau ia mampu hidup dengan lebih baik daripada kehidupan yang dimiliki ibunya sekarang ini.


Hari menjelang sore, dan Jafar sudah selesai bekerja sebagai tukang pengantar pizza. Ia menyempatkan diri untuk membeli makanan untuk ia makan sore ini sebelum bekerja sebagai buruh cuci hingga nanti malam.


Tugasnya ketika menjadi buruh cuci adalah menyetrika semua baju yang sudah dicuci bersih untuk diantar atau diambil besoknya oleh para pelanggan. Jafar tak pernah kenal lelah. Asalkan adik-adiknya bisa hidup dengan baik. Ia tak peduli seberapa beratpun pekerjaan itu.


***


Setelah bekerja seharian Jafar pulang. Nampak rasa lelah terlihat begitu jelas diguratan wajahnya. Namun, ketika ia melihat Tina adik bungsunya yang selalu tersenyum setiap kali ia pulang. Membuat rasa lelah itu hilang seketika.


"Kak Jafar udah pulang?"

__ADS_1


"Eh, adik bungsu kakak yang manis. Kok belum tidur?" tanya Jafar sambil tersenyum lebar untuknya dan melupakan betapa lelahnya hari ini yang telah ia lewati.


Belum sempat Tina menjawab Al pun ikut kekuar menyambut kepulangan Jafar.


"Hallo, Kak Jafar!" sapanya.


"Eh, ada Al? Ini udah larut malam, kok kamu belum pulang?" sahut Jafar bertanya.


"Iyah, kak. Soalnya Tina sendirian di rumah. Al gak tega kalau ninggalin Tina sendirian di rumah. Jadi, Al temenin aja," terang Al begitu polosnya.


"Emang Kak Iskan kemana?" tanya Jafar lagi beralih pada Tina.


"Loh, kok bisa? Padahal jika dia bilang akan ikut study tour, setidaknya kakak bisa bawain dia bekal. Hah~ kakak bahkan gak ngasih di uang jajan lebih hari ini. Semoga dia baik-baik saja," ucap Jafar merasa gelisah saat memikirkannya.


"Terus, Kak Ira belum pulang? Seharusnya dia sudah pulang, kan?" tanya Jafar lagi ketika melihat jam yang sudah menunjuk angka 10.35.

__ADS_1


Tina hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu kenapa alasannya. Jafar pun hanya menghela nafas panjang.


"Kalian udah makan?" tanya jafar lagi.


"Belum, kak. Tadi siang kami cuma masak mie instan," jawab Tina.


"Sudah kakak duga kalian pasti belum makan. Kakak tadi beli nasi bungkus. Ayo, kita makan."


Tina dan Al pun segera mengikuti langkah Jafar masuk ke rumah dan makan nasi bungkus yang Jafar bawa bersama-sama.


"Kak Jafar, Al boleh nginep disini?" tanya Al ditengah aktivitas makannya.


"Emang orang tua kamu gak nyariin?" selidik Jafar.


"Al udah bilang kok sama mereka. Kalau Al hari ini mau nginep di rumah teman," balas Al.

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu, boleh boleh saja," sahut Jafar mengizinkannya.


Al terlihat senang dan nyaman berada disana walau tak semewah dan senyaman rumah besarnya sendiri.


__ADS_2