Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 12


__ADS_3

"Hentikan!"


Ira membentak Tina dan menatapnya dengan sinis.


"Jangan pernah mengatakan hal semacam itu lagi! Kita tidak punya hak untuk merindukan mereka yang telah meninggalkan kita! Apa mereka akan kembali hanya karena kita merindukan mereka? Tidak akan pernah! Mereka sudah melupakan kita! Mereka sudah tidak peduli lagi pada kita! Karena itu... mereka pergi dan tidak pernah kembali. Selama apapun kita menunggu mereka, mereka tidak akan kembali!"


Tangisan Tina semakin keras saat mendengar kemarahan Ira. Tina mengerti apa yang diucapkan oleh kakaknya. Namun, apakah salah bagi Tina yang merindukan sosok orang tuanya? Tina hanya ingin seperti anak yang lainnya. Hidup bahagia bersama kedua orang tua mereka.


Plak!


Tanpa sadar Jafar menampar Ira. Karena ia merasa kalau Ira sudah kelewatan. Semua orang terkejut melihat Jafar yang bisa sekasar itu pada Ira. Padahal di mata adik-adiknya ia adalah orang yang lembut dan penuh akan kasih sayang.


Jafar sendiri sangat terkejut saat mendapati dirinya yang tak terkendali sampai memukul adiknya seperti itu.

__ADS_1


"Maaf, Kakak tidak bermaksud menamparmu," sesal Jafar.


Bahkan Tina yang tadinya menangis dengan kencang langsung terdiam. Ira menatap Jafar dengan perasaan kecewa dan tidak menyangka kalau Jafar mampu melakukan hal buruk seperti itu padanya.


"Aku melihatnya... aku bertemu dengannya... Ibu kita, sudah mempunyai keluarga yang baru. Dia tertawa bahagia bersama mereka. Dia sudah tidak lagi peduli pada kita. Itulah faktanya..." lanjut Ira sambil menangis dan memegang pipinya yang kena tampar.


Lalu kemudian, ia mengambil tasnya pergi ke sekolah dengan hati yang sedih. Sementara Jafar terdiam gemetar, melihat telapak tangannya yang telah menampar adiknya seperti itu. Ia menyesal melakukannya. Jafar menangis melihat kepergiaan Ira yang marah dan kecewa padanya.


Tina yang merasa bersalah karena memicu perdebatan ini memeluk Jafar erat-erat.


Jafar tak mengatakan apapun dan hanya memeluk adiknya erat-erat. Tatkala Iskan yang sedari tadi terdiam kini angkat bicara melanjutkan ucapan Ira.


"Kak Ira memang benar," ucapnya seraya menoleh manatap Jafar.

__ADS_1


"Aku juga bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Kurasa Mamah sudah menemukan kehidupannya yang baik. Sehingga dia lupa telah meninggalkan kita. Itu fakta yang harus kita tahu sejauh ini. Karena itu, jangan pernah mengharapkan mereka akan kembali kepada kita. Kita hanya harus tetap hidup dan menjadi lebih bahagia dari mereka," terang Iskan seraya bangkit berdiri dan mengambil tasnya.


Kemudia ia menarik tangan Tina. "Ayo, pergi! Kita bisa terlambat. Aku akan mengantarmu."


Tina hanya bisa menuruti perkataan Iskan dan membuat Jafar terdiam seribu bahasa. Jafar memang sangat tahu fakta bahwa kedua orang tua mereka tidak akan pernah kembali kepada mereka. Tetapi mengatakan itu pada Tina membuat ia merasa sangat bersalah. Memikirkan diusia Tina yang sangat membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Membutuhkan dukungan dari mereka. Itu sangat menyakitinya. Karen walau bagaimana pun juga ia tidak akan pernah bisa menggantikan kedua orang tuanya dalam hidup Tina.


***


Selama perjalanan menuju sekolah. Iskan dan Tina tidak saling bicara. Namun, Tina pun dengan canggung tetap ingin bertanya pada Iskan tentang Ibunya.


"Apakah mamah benar-benar sudah punya keluarga baru?"


Iskan berhenti melangkah dan menatapnya sedikit lama.

__ADS_1


"Aku juga sama, merindukan mereka hadir dalam keseharian kita. Tapi, kamu harus tahu. Bahwa ada kalanya rindu itu harus kita buang sejauh mungkin untuk bisa merelakan masa lalu kita. Kita harus membangun yang baru tanpa mereka. Dengan begitu, kehidupan kita akan selalu baik-baik saja. Jadi, bisakah kamu jangan pernah membicarakan mereka lagi selamanya. Mari kita anggap saja kalau mereka sudah meninggalkan dunia, kamu mengerti?" tutur Iskan pelan-pelan.


Tina pun mengangguk paham. Iskan tersenyum untuk Tina.


__ADS_2