
Siang ini, setelah mengantar beberapa pizza. Jafar istirahata sejenak dan membeli roti dan susu untuk ia makan siang di swalayan. Nampak, ia sangat kelaparan setelah bekerja dengan sangat keras. Ia duduk dan menikmati roti dan susunya tersebut sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya.
Tak sengaja pandangannya berhenti pada salah satu wanita pejalan kaki yang hendak memasuki swalayan yang ada didepannya. Jafar langsung menghentikan aktifitas makannya saat memperhatikan wanita itu dengan seksama.
Lalu, setelah ia yakin bahwa ia mengenal wanita tersebut, langsung saja ia susul wanita itu masuk ke swalayan untuk menemuinya.
Jafar celingak-celinguk mencari sosok wanita itu di dalam. Dan nampak wanita tersebut tengah mencari-cari sesuatu disana. Jafar yang mendapatkannya kembali langsung saja datang menemuinya.
"Mamah?" panggil Jafar.
__ADS_1
Sontak wanita itu kaget saat berbalik melihat putera pertamanya memanggilnya "Mamah" di depan semua orang. Wanita itu terlihat gelisah dan segera menyeret Jafar keluar dari swalayan dan menjauh dari keramaian untuk mengobrol dengan puteranya.
"Mah? Apa yang terjadi? Setelah bercerai dengan Papah. Mamah bilang, Mamah cuma pergi untuk bekerja. Tapi, kenapa Mamah tidak pernah kembali. Mamah terlihat lebih baik saat ini. Lalu kenapa Mamah lupa kepada kami? Mamah tahu, Tina sangat merindukan Mamah," ujar Jafar perlahan-lahan ia mengingatkan ibunya.
"Jafar dengar! Mamah minta maaf. Tapi, Mamah gak sanggup, menghidupi kalian berempat. Mamah awalnya memang ingin mencari kerja. Tapi, Mamah merasa tak sanggup saat mengetahui kalau Ayah kalian ternyata mempunyai hutang sebesar 60 juta. Jika Mamah terus bersama kalian, maka Mamah akan terus kesulitan. Karena itu, Mamah harap kamu bisa mengerti Mamah.
"Mamah sekarang sudah mempunyai keluarga yang baru dan hidup lebih baik. Jadi, Mamah mohon kamu lupakan Mamah dan anggap saja kalau Mamah sudah tiada, mmm? Mamah tidak mau kamu merusak kehidupan baik Mamah dengan muncul secara tiba-tiba seperti ini," terang ibunya memohon pada Jafar.
"Lalu, bagaimana dengan kami?" tanya Jafar dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana debganku? Mamah tahu, aku berhenti sekolah karena harus bekerja untuk bisa bertahan hidup. Aku juga sangat menderita. Bagaimana Mamah bisa seegois dan setega ini padaku, pada Ira, Iskan dan Tina? Apakah Mamah tidak pernah berpikir, apakah kami sudah makan atau belum? Apakah kami tidur dengan nyenyak? Pernahkah?"
__ADS_1
Jafar nampak sangat emosional saat ini. Ia merasa sangat sakit mendengar ibunya membuang mereka begitu saja.
"Aku juga kesulitan. Aku juga punya mimpi yang ingin ku kejar. Tapi, Mah... aku merelakan semua mimpi itu sekarang. Aku selalu berharap Mamah akan kembali dan membawa kami untuk hidup lebih baik. Tapi, apa ini? Mamah dengan mudahnya mengatakan... hal mengerikan sepert itu?"
"Baiklah. Mamah tahu kamu kesulitan. Kalau begitu, berapa uang yang kamu butuhkan sekarang? Berapa? Mamah akan memberikannya padamu. Tapi, jangan pernah muncul lagi dihadapan Mamah setelah ini, oke?" Ibunya sama sekali tak mengerti keinginan Jafar.
Ia tak mengerti perasaan anaknya saat ini. Dia benar-benar ibu terkejam yang pernah ada. Ia berusaha membujuk Jafar dengan uang sambil menggenggamkannya pada tangan Jafar. Seketika pandangan Jafar kepada ibunya berubah. Ia menjadi marah dan kecewa.
Jafar pun melemparkan semua uang yang ibunya berikan padanya tepat diwajah ibunya.
__ADS_1
"Habiskan saja kehidupan baikmu. Jika itu keinginanmu, baiklah. Mulai hari ini, ibuku sudah tiada. Aku tidak punya seorang ibu. Aku tidak pernah punya seorang ibu," tukas Jafar lalu pergi berlalu meninggalkan ibunya yang berdiam diri mematung di tempat.
Yang tak lama kemudian, setelah Jafar benar-benar pergi. Ia memungut kembali uang yang berserakan di tanah.