Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 19


__ADS_3

Arif dan pria itu saling adu jotos dan berkelahi sampai babak belur. Ira bingung harus melakukan apa. Sementara dua pelanggan wanita hanya memvidio perlahian Arif dan pria itu. Jadi, karena tak ada cara yang bisa ia lakukan untuk melerai mereka. Ira pun menelpon polisi.


Arif dan pria itu ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Sementara Ira tak bisa ikut dengan mereka karena harus bekerja dan tidak ada yang menjaga Cafe.


Arif tersenyum kepada Ira dengan wajah babak belurnya sebelum ia pergi. Tatkala Ira hanya menatap kepergiaan Arif dengan para polisi dengan cemas dan gelisah.


"Arif..." bathin Ira. Ia kini bisa melihat ketulusan Arif saat menolongnya sampai rela babak belur seperti itu.


***


Hari ini Tina pulang bersama Al. Karena Iskan mengatakan kalau ia takkan menjemputnya hari ini. Jadi, ia memberanikan diri pulang bersama Al yang terkekeh ingin main ke rumahnya. Lagi pula, Tina sudah besar sekarang. Ia bukan anak kecil lagi yang harus pergi diantar dan pulang dijemput.


Memang sekolahnya sangat jauh jika ditempuh jalan kaki. Makanya ia sering diantar jemput takut kalau terjadi sesuatu di jalan padanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam saja sejak tadi?" tanya Al pada Tina yang sedari tadi habya diam dan menunduk. Ia malu karena Al harus tahu tentang rumor ayahnya yang seorang penjahat.


"Kamu tidak takut padaku? Semua orang menghindariku karena aku anak dari seorang pembunuh," ungkap Tina membenarkan fakta tentang ayahnya yang seorang kriminal.


"Ohhh ternyata karena itu... aku tidak takut. Gadis semanis dirimu mana mungkin menakutkan. Lagi pula yang jahat itu bukan kamu. Lalu kenapa kamu harus disalahkan untuk itu. Sejauh ini... kamu adalah teman terbaik yang pernah aku kenal," balas Al membuat Tina terharu juga tersipu malu.


Wajah Tina seketika menjadi merah padam. Kata-kata Al membuatnya terlihat sangat keren di mata Tina. Seketika senyum Tina melebar dan menampakkan senyum manisnya yang mempesona.


"Terima kasih. Aku tidak pernah mendengar hal seindah ini dari siapapun," sahut Tina.


"Wahhh... manis sekali. Jangan pernah menyembunyikan senyumanmu itu. Kenapa senyuman manis seperti itu kamu sembunyikan dari semua orang."


Tina semakin tersipu malu saat mendengar kata-kata manis dari Al. Ia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Tina akhirnya bisa merasakan betapa indahnya memiliki seorang teman disisimu yang tulus menjaga dan melindungimu.

__ADS_1


***


Jafar ingin melupakan perkataan ibunya tadi. Namun, kata-kata ibunya terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. Entah kenapa itu begitu menyakiti perasaannya. Jafar mengebut ingin meredam kecewa dan amarah di hatinya. Ia berteriak sepuasnya melampiaskan unek-unek dibenaknya. Ia sama sekali tak peduli jika orang lain memperhatikannya. Ia hanya ingin membuang jauh-jauh perasaan tersebut dari dalam hatinya saat ini.


Setelah ia merasa lebih baik, ia berhenti sejenak dan menepi. Ia harus kembali menjadi dirinya supaya bisa bekerja dengan baik. Jafar perlahan mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Jafar hendak melaju lagi melanjutkan pengantaran pizza-nya yang dalam sehari ini banyak sekali pesanan. Namun, mendadak ada pria tua yang mendadak kesulitan bernafas sampai jatuh pingsan ditrotoar.


Jafar yang melihatnya langsung saja turun dari sepeda motor dan mendatanginya.


"Kakek?" Jafar memanggil kakek tersebut tetapi tak ada respon. Lalu ia mendekatkan telinga di hidungnya. Nafas pria tua itu terdengar ringan, seperti kekurangan oksigen.


Jafar dengan cepat menekan dada pria tua tersebut berulang kali, dan sesekali ia memberikan nafas buatan untuk memberinya tambahan oksigen.

__ADS_1


Seketika orang-orang berkumpul mengerumuni mereka. Jafar dengan nafas tersengal-sengal meminta panggilkan ambulans kepada siapa saja yang bersedia.


"Tolong panggilkan ambulans. Cepat!"


__ADS_2