Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 30


__ADS_3

Jam kerja Jafar seharusnya sudah berakhir. Namun, bos bilang ada satu pesanan lagi yang harus ia antar. Padahal Jafar harus pergi ke tempat kerjanya yang lain. Namun, karena pelanggan dengan khusus meminta Jafar yang harus mengantarkannya. Jadi, ia pun mau tidak mau harus melakukannya.


Setelah tiba dilokasi yang dimintai oleh pelanggan, yaitu di taman kota. Jafar turun dan mencari orang tersebut.


Jafar bahkan menghubungi nomor pelanggan tersebut dan menuntunnya untuk sampai padanya. Setelah Jafar menemukannya. Ia tertegun kaget melihat siapa orang itu.


"Dina?"


Jafar dan Dina pun duduk bersama untuk membicarakan beberapa hal. Jafar awalnya terdiam menundukkan kepalanya dalam-dalam tak berani menatap mata Dina.


Ia merasa bersalah padanya. Seharusnya sebelum ia pergi dan berhenti dari sekolah, ia memutuskan hubungannya dengan Dina. Bukannya menggantung hubungannya seperti ini.


"Sudah lama yah? Kabar loh gimana?" tanya Dina membuka obrolan.


"Gue baik. Loh sendiri?" jawab Jafar dan juga mempertanyakan kabarnya.


"Gue? Gue gak baik, Far. Setiap hari gue rindu banget sama loh! Tapi, gue gak berani mendatangi loh. Karena gue pikir mungkin loh udah lupa sama gue. Makanya loh gak pernah hubungi gue lagi," jawab Dina berterus terang.


"Gue minta maaf, Na. Gue..."

__ADS_1


"Loh gak rindu sama gue?" sela Dina memotong kalimatnya.


Jafar menatap lekat-lekat wajah Dina dengan perasaan rindu yang sudah lama ia tahan.


"Gue gak bisa bilang. Sorry, gue udah bikin loh menderita selama ini. Gue sempat berpikir, mungkin loh akan membenci gue, karena gue pergi tanpa kata ninggalin loh," terang Jafar menjelaskan.


"Yah, awalnya... gue emang benci sama loh. Gue marah dan kecewa. Gue pikir loh hanya main-main sama gue.Tapi, setelah gue tahu kebenarannya dan menyelidiki kepergian loh yang begitu saja. Kebencian gue seketika menghilang. Gue gak bisa menahan rindu ini lagi. Gue ingin, kita seperti dulu Far," pinta Dina.


Namun, Jafar telah memikirkan hal ini seribu kali. Ia tak mungkin bisa bersama Dina dalam keadaannya yang seperti ini. Mungkin, Dina hanya akan menderita jika bersamanya. Karena ia harus memikul tanggung jawab yang sangat besar. Karena itu, mungkin ia tidak akan pernah punya waktu untuk bersama dengan Dina. Atau bahkan dia tidak akan pernah punya waktu untuk berkencan dengannya.


"Sorry, Na. Tapi gue gak bisa. Mungkin sebaiknya... loh lupain gue. Loh cari kebahagian loh yang lain. Gue gak bisa sama loh. Sorry!" balas Jafar membuat Dina semakin patah hati.


Lagi-lagi Jafar terdiam. Lalu ia pun berkata. "Tapi sekarang keadaannya membuktikan, kalau hal itu tidak pernah mungkin. Jika itu alasan yang membuat loh bertahan selama ini. Maka gue akan bilang sama loh hari ini. Mari kita putus saja."


Seketika air mata Dina mengalir tak tertahankan. Ia sangat kecewa dan sakit hati. Bagaimana mungkin Jafar bisa sekejam ini? Ia menyia-nyiakan ketulusan dan penantian Dina yang selama ini bertahan dan menunggunya. Dina tak pernah menyangka kalau Jafar akan setega ini padanya.


Sementara itu, Jafar yang berpura-pura tak peduli langsung saja pergi tanpa berbalik melihat keadaan Dina. Meninggalkan Dina yang menangis sendirian di taman. Ia tak mau sampai perasaannya mengalahkan akal sehatnya. Jafar pikir ini adalah keputusan terbaik untuknya dan Dina. Ia tak mau menahan kebahagiaan Dina dengan mempertahankannya namun tak jelas pada akhirnya.


Meskipun sebenarnya ia masih sangat mencintai Dina. Ia juga sangat merindukannya. Memang, jika memungkinkan ia ingin sekali kembali seperti dulu saat ia masih dalam keadaan yang baik-baik saja. Tetapi apalah dayanya. Jika memang jalan takdir harus berjalan seperti ini.

__ADS_1


***


Arif sangat mencemaskan Ira. Sehingga dia terus sama mengikuti Ira kemana pun. Ia khawatir kalau pria yang menggodanya kemarin akan kembali dan menyakiti Ira lagi. Jadi, ia bahkan terus mengikuti Ira sampai ke tempat kerjanya. Sejak siang tadi, Arif duduk dipojok Cafe sambil memperhatikan Ira. Ia hanya memesan minuman dingin untuk menemaninya menunggu Ira selesai bekerja.


Ira yang melihat Arif nampak sudah lelah namun masih bertahan membuatnya merasa tak enak dan juga kesal.


"Loh mau sampai kapan menunggu?" tanya Ira pada Arif.


Arif tersenyum. "Sampai loh selesai bekerja. Loh gak usah peduliin gue. Anggap saja gue gak ada. Loh bisa bekerja seperti biasa," balasnya.


"Arif? Loh itu kenapa sih? Gimana gue bisa bekerja dengan nyaman kalau loh terus merhatiin gue? Sebaiknya loh pulang sekarang? Emang loh gak ada urusan yang lain apa?" sahut Ira mulai kesal.


"Nggak ada. Urusan gue itu cuma loh," timpal Arif malah bercanda.


"Arif, gue serius. Loh cuma buang-buang waktu loh tahu gak?"


"Nggak juga. Gue gak buang-buang waktu Ira. Lagi pula, mempunyai waktu bisa bersama loh lebih lama itu lebih penting tahu!" sambar Arif sangat terkekeh.


Ira tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Arif benar-benar tak mau pergi. Ira pun hanya bisa pasrah dan membiarkannya. Berharap ia akan menyerah setelah ia mulai bosan dan merasa lelah.

__ADS_1


"Hmm serah loh deh!" Ira memutar malas kedua bola matanya dan kembali bekerja.


__ADS_2