
Hari ini adalah hari Ira akan mengikuti lomba menggambar. Arif menemui Ira sebelum Ira pergi menuju ke lokasi lomba dengan peserta lainnya dan memberikan Ira semangat juga dukungan.
"Ini, minumlah air lemon tea ini. Ini akan membantu loh untuk tetap rileks. Gue yakin loh pasti bisa melakukannya. Dan gue percaya loh akan memenangkan lomba ini, fighting!" ujar Arif.
Sejenak Ira terdiam menatap Arif. Ia berpikir mungkinkah sudah saatnya bagi Ira untuk membuka hatinya kepada Arif? Lantaran, Arif selalu ada untuknya disaat ia sangat membutuhkannya. Lagi pula tak ada salahnya jika ia menerima Arif yang selalu tulus menjaganya.
"Jika gue bisa menang seperti kata loh. Mungkin, kita bisa mengubah status kita dari teman menjadi pacar," balas Ira.
"Hah? Serius loh? Loh terima gue?" sahut Arif begitu senang ddan antusias.
"Itu berlaku, hanya jika keyakinan loh itu benar dan gue menang dalam lomba ini," balas Ora lagi mempertegas maksud dari perkataanya.
"Gue sangat yakin, loh pasti yang akan menjadi juara pertama!" teguh Arif membuat kepercayaan diri Ira menjadi lebih berani.
Ira tersenyum senang dan lega mendengarnya. Tatkala semua peserta yang akan ikut lomba segera naik ke mobil. Begitu pun Ira.
"Ira! Semangat, yah! Sampai jumpa lagi nanti! Gue bakal nunggu kabar baik dari loh!" terika Arif ketika mobil sudah melaju pergi membuat bising dan menarik perhatian semua orang disekitarnya.
__ADS_1
Ira hanya tersenyum dan merasa tenang. Berkat Arif ia tidak merasa pesimis lagi. Ia tak merasa gugup lagi. Ia percaya bahwa dirinya itu bisa menang.
***
"Wajah loh, kenapa?" tanya Ridwan kepada Iskan sesampainya di sekolah.
"Loh berantem lagi, bro?" timpal Panji ikut menyelediki.
Melihat wajah Iskan yang begitu banyak memar dan luka membuat teman-teman di sekolahnya berpikir kalau Iskan sudah balik lagi pada sikap berandalnya.
Iskan tak menimpali kedua temannya dan hanya melirik sambil tersenyum kecil. Ia sama sekali tak mau meluruskan kesalah pahaman teman-temannya terhadap dirinya. Karena ia pikir itu tak ada gunanya.
"Ikut aku sebentar," ucap Maya.
Lantas, mereka pun pergi meninggalkan Panji dan Ridwan yang masih dalam tanda tanya.
Maya membawa Iskan ke belakang sekolah dan menatap wajahnya dengan patah hati.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa wajahmu begini? Apa sesuatu terjadi?" tanya Maya cemas padanya.
"Tidak ada yang terjadi," balas Iskan tak mau bercerita.
"Kalau begitu, aku dengar kamu diusir dari rumahmu. Para tetangga bilang seperti itu saat aku hendak menjemput kamu ke rumah," ungkap Maya berterus terang.
Iskan sejenak terdiam menatapnya. "Tidak papah. Kami sudah mendapat tempat tinggal yang baru."
Maya cemberut kesal karena Iskan tak mau cerita kepadanya. "Kenapa kamu tak cerita? Kamu bisa saja ceritakan masalahmu padaku. Mungkin aku bisa bantuin kamu. Atau paling tidak aku..."
"Sudahlah. Jangan terlalu ikut campur masalah gue, loh gak perlu tahu semua masalah gue..."
"Yah, aku kan cuma mau bantuin kamu..."
Iskan menghela nafas berat dan menatapnya lekat-lekat.
"Dengar! Loh gak perlu tahu masalah gue. Dan gue gak butuh rasa kasihan dari siapapun. Lagi pula, loh gak bisa bantu apapun dari masalah gue. Dan sudah cukup, berhenti mencampuri masalah gue," balas Iskan.
__ADS_1
Maya terdiam kecewa mendengar perkataan Iskan yang begitu melukai hatinya. Padahal ia tak berniat untuk mengasihaninya. Ia hanya mau membantu meringankan masalah yang ia hadapi saat ini.