
Iskan dan Ira yang mendengar kabar tentang Tina bergegas ke rumah sakit untuk menemuinya setelah pulang sekolah. Saat mereka tengah berlarian di lorong rumah sakit mencari kamar rawat Tina yang diberitahu oleh Jafar lewat pesan chat, nampaklah Jafar yang tengah tersedu menangis di depan kamar rawat Tina.
"Kak Jafar? Tina? Bagaimana Tina?" tanya Ira sudah berlinang air mata sejak ditelepon oleh Jafar.
"Jelaskan kepada kita. Apa yang sebenarnya terjadi?" timpal Iskan dengan mata yang berbinar tapi tak mengeluarkan air mata.
Tanpa Jafar jelaskan pun mereka bisa melihat dari keterpurukannya. Bahwa kondisi Tina sangatlah tidak baik. Jadi, secara perlahan Jafar menjelaskan dan memberitahu mereka apa yang Tina alami dan derita saat ini.
Ira tak kuasa menahan tangisnya yang pecah begitu saja setelah mendengar apa yang terjadi. Sementara Iskan terdiam membisu seribu bahasa berdiri seperti patung. Air matanya lolos begitu saja. Kabar itu seperti badai yang menghantam keras hati mereka.
Jafar memeluk Ira supaya ia tetap tenang. Walau sebenarnya ia pun tak kuasa menahan sakit di hatinya.
__ADS_1
***
Setelah beberapa saat mereka menangis sejadi-jadinya dan sepuasnya. Mereka duduk bersama dengan tatapan kosong. Mereka terdiam untuk waktu yang lama. Hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Kita..." Ira membuka mulutnya setelah tak ada kata yang terucap untuk beberapa saat lamanya. "Mari kita tetap tersenyum untuknya. Itulah yang Tina inginkan. Dia tak mau kita mengasihaninya, karena itu mari kita terus tersenyum dan berbahagia selama merawatnya," saran Ira.
"Benar. Tak ada yang bisa kita berikan kepadanya selain tersenyum bahagia saat berada disisinya. Aku pikir... itulah yang Tina perlukan saat ini. Kita harus tetap tegar dan memberikan yang terbaik untuk Tina," timpal Iskan sependapat dengan Ira.
"Baiklah. Mari kita berjuang sama-sama. Kebahagian ada pada kita. Kita akan selalu berada disisinya dan membantu dia sampai sembuh. Kita harus mendukungnya," ucapnya kemudian.
Lantas, mereka pun sepakat kalau mereka tidak akan menangis di depan Tina. Hanya akan ada senyum yang terpampang untuk Tina.
__ADS_1
Setelah berdiskusi mereka masuk ke dalam untuk mengecek Tina apakah sudah bangun atau belum? Kebetulan perawat tiba membagikan makan siang untuk para pasien.
Namun, Tina sepertinya masih tidur. Jadi, mereka hanya menunggu Tina sampai bangun. Tatkala perawat lainnya datang untuk memberikan suntikan kepada Tina. Dan mengabarkan kalau Tina akan dipindahkan ke ruangan VIP.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang VIP. Pasien atas nama Tina diminta untuk pindahkan atas nama Bapak Aban Sobandi. Beliau sudah menanggung semua biaya rumah sakit. Sebentar yah, akan ada dua perawat yang datang untuk memindahkan pasien," ucap perawat yang khusus memberikan obat suntik itu, lalu ia pergi.
Ketiga saudara itu sejenak merasa sangat bersyukur, tetapi mereka merasa tak enak kepada Pak Aban jika harus menanggung semua biaya rumah sakit, sementata kebaikannya sudah tak terhitung lagi oleh mereka.
Lantas, tak lama kemudian dua orang perawat pria datang untuk memindahkan Tina ke ruang VIP. Mereka hanya bisa mengikuti kemana pun Tina pergi.
Melihat kamar VIP yang begitu luas serta fasilitas yang begitu mewah juga lengkap membuat mereka terharu atas kebaikan Pak Aban. Walau sebenarnya mereka sangat sungkan menerima bantuan besar seperti itu karena sudah terlalu merepotkan Pak Aban. Tetapi mereka juga tak punya pilihan lain selain menerima bantuan dari Pak Aban.
__ADS_1