
Pagi pun telah tiba. Karena hujan yang sangat lebat semalam. Arif terpaksa menginap. Ira yang sudah bangun dari shubuh membuat nasi goreng untuk sarapan.
Semua orang sudah bangun pagi-pagi sekali kecuali Arif yang masih terlelap dalam tidurnya. Jafar pun tak segan membangunkan Arif dengan kasar.
"Hoi, bangun! Kebo amat nih anak tidurnya."
"Emang iyah. Tapi, ada satu jurus lho, Kak. Yang ampuh banget buat ngebangunin tidurnya kak Arif," sambar Al memberitahu rahasianya.
"Serius? Gimana caranya?" tanya Jafar tertarik juga.
Al pun membisikkan sesuatu di telinga Jafar. Lalu kemudian keduanya saling menatap jahil disertai senyuman usil mereka. Jafar pun melakukan apa yang Al bisikkan padanya.
Jafar pun bersiap dan meniup telinga Arif. Sehingga Arif pun meloncat kaget dan terbangun langsung dari tidur lelapnya. Karena Arif paling tidak tahan jika ada yang meniup telinganya. Bahkan ketika ia tidur lelap pun tetap bisa merasakannya.
Arif menggeleng dengan cepat dan mengorek telinga kirinya yang tadi ditiup oleh Jafar. Tatkala semua orang hanya bisa tertawa karena kejahilan Jafar dan Al. Pagi itu rumah mereka terasa lebih hangat dari sebelumnya. Rumah mereka keluar tawa yang begitu lepas setelah sekian lama tak pernah ada tawa seperti itu lagi.
Mungkin kehadiran Al dan Arif bisa dibilang membawa berkah bagi kehidupan mereka supaya lebih berwarna.
"Siapa yang niup telinga gue? Al? Loh kan yang melakukannya?" geram Arif sembari menatap Al marah.
__ADS_1
Al langsung bersembunyi dibelakang Jafar untuk berlindung.
"Makannya kalau tidur jangan kebo! Semua orang udah bangun pagi-pagi dan bersiap-siap. Kamu malah enak-enakan tidur," sahut Jafar mengomelinya.
"Astaga! Lagi pula masih sangat pagi, toh!" seru Arif hendak tidur lagi.
"Kak Arif, kata ibuku gak baik kalau bangun terlalu siang. Nanti rezeki kita dipatok ayam lho!" seru Tina ikut bersuara dan menasehati Arif.
Seketika Jafar dan Ira melirik ke arah Tina secara bersamaan. Bahkan kedua ekspresi mereka berubah masam seketika saat mendengar kata "ibu".
Tina langsung menutup rapat-rapat mulutnya. Ia lupa kalau ia sudah berjanji tidak akan pernah membicarakan tentang ibunya lagi. Walau Jafar dan Ira sangat tahu kalau Tina belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi. Dan pastinya dalam hatinya masih tersimpan rasa rindu terhadapnya.
Jafar tersenyum. "Tidak papah. Sebaiknya, kita sarapan dulu, lagi pula Al harus pulang, kan? Nanti terlambat ke sekolah," balas Jafar mencairkan lagi suasana yang sempat meredup.
Arif bisa menilai apa yang terjadi. Meskipun ia tidak tahu kenapa mereka begitu sensitif saat membicarakan ibu mereka sendiri, tetapi Arih bisa memahami keadaan dan suasana ini. Lagi pula sejak semalam ibu mereka tidak pulang sama sekali. Kini ia tahu bahwa ?mereka hidup tanpa orang tua saat ini.
Arif pun mencoba mengembalikan suasana menjadi sebelumnya.
"Jam segini sarapan? Gak kepagian gitu? Terus mana ada sarapan cuma nasi digoreng aja. Sarapan itu kayak roti kek, susu, itu baru sarapan," oceh Arif sengaja berbicara seperti itu agar suasananya tak mencanggung.
__ADS_1
Jafar langsung saja menjewer telinga Arif. "Banyak omong. Kalau gak mau sana pulang saja. Sarapan di rumahmu saja!" seru Jafar.
"Tahu nih, Kak Arif. Banyak maunya, wleee!" sambar Al sambil menjulurkan lidahnya.
"Nih, bocah ikut-ikutan aja, sih! Pulang sono!" balas Arif tak mau kalah.
"Suka suka Al dong! Lagi pula di rumah selalu sepi. Lebih baik disini. Walau sederhana, tetapi sangat hangat dan nyaman. Gak kayak di rumah. Makan aja sendiri-sendiri. Sibuk masing-masing. Gak pernah tuh duduk bareng kayak gini, sambil ngobrol dan bercanda," ungkap Al berterus terang pada semuanya.
Tina sekarang mengerti. Ternyata Al hanya kesepian. Karena itu, ia lebih betah bersama mereka ketimbang pulang ke rumahnya.
Bahkan Arif memang tahu betul seperti apa kesibukkan orang Al. Jadi, ia tak banyak omong lagi dan hanya duduk ikut bergabung dengan mereka.
"Iyah deh, iyah..."
"Kenapa duduk?" tanya Ira menyela.
"Mau makanlah!" balas Arif.
"Enak aja! Cuci muka dulu sana!" tergurnya.
__ADS_1
Arif pun bangkit kembali dan pergi untuk mencuci mukanya yang kusut karena baru bangun tidur.