Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 32


__ADS_3

Iskan tetap tak membalas pukulan mereka walaupun ia sudah sangat terluka. Ia pikir, ia harus tetap bertahan supaya tak membalas pukulan mereka.


Tiba-tiba ada suara sirine polisi yang membuat mereka berhenti memukuli Iskan dan bergegas kabur terbirit-birit karena takut ditangkap.


"Polisi woi! Kabur kabur!"


Mereka pun akhirnya pergi karena ketakutan setelah mendengar suara sirine polisi itu. Iskan yang lemah habis dipukuli sejenak berbaring di tanah sambil melihat langit yang begitu gelap tanpa cahaya rembulan ataupun gemintang. Nafasnya terengah-engah, ia mencoba menelan rasa sakit disekujur tubuhnya. Ia menutup matanya sejenak.


Dan ternyata tak lama kemudian, dua orang menghampiri Iskan dengan cemas.


"Iskan! Loh gak papah?"


Suara itu, sangat dikenal oleh Iskan. Suara yang tak asing dan begitu akrab. Iskan pun membuka kedua matanya dan melihat sosok cantik dengan wajah cemas terpampang di wajahnya. Memberikan tatapan yang menyakitkan.


Ternyata, suara sirine polisi itu adalah perbuatan Maya dan kakaknya. Ternyata Maya tak tega membiarkan Iskan pulang jalan kaki, malam-malam begini. Jadi, ia meminta pada kakak laki-lakinya untuk balik lagi dan mengajak Iskan. Tapi ternyata, Iskan yang diseret oleh teman-teman Gio terlihat oleh Maya dan kakaknya. Sehingga mereka pun mengikutinya.


"Maya?" sahut Iskan.


Kakak Maya membantu Iskan untuk duduk.


"Loh gak papah, bro?" tanya lelaki tampan yang begitu mirip dengan Maya.


"Gue gak papah. Thanks udah bantuin tadi," balas Iskan.

__ADS_1


Maya tak angkat bicara lagi dan hanya menatap Iskan dengan khawatir. Kedua matanya berkaca-kaca menahan bendungan air mata kekhawatiran agar tidak lolos dan ditangkap oleh pandangan Iskan. Tetapi, sekuat apapun Maya mencoba menahannya. Ia tetap tak bisa. Dan akhirnya tangisnya pecah membuat suasana yang hening menjadi sendu karena tangisannya yang keras.


"Dasar bodoh! Kenapa kamu tidak melawan? Bagaimana kamu bisa diam saja seperti itu? Tidak seperti kamu... bagaimana jika kamu tadi..."


Maya memarahinya sambil menangis. Iskan tak tega melihat Maya yang menangis seperti itu karena mengkhawatirkannya.


Iskan pun hanya diam membiarkan Maya menangis. Ia bahkan tak berusaha untuk menenangkannya. Tatkala kakak laki-laki Maya memahami perasaan adiknya yang tidak biasa terhadap Iskan. Namanya kakak Maya adalah Fahri.


"Woi! Kenapa loh diam saja? Maya sangat khawatir sama loh," tukasnya.


"Gue tahu. Maafin gue. Jangan menangis lagi," sahut Iskan menimpali dengan santai dan tenang.


Fahri hanya menatap kosong pada Iskan. Ia merasakan betapa rumitnya hidup yang dimiliki Iskan hanya melihat dari tatapan matanya itu.


"Sudahlah, Maya berhenti menangis! Ayo, kita harus mengobati luka loh terlebih dahulu," ujar Fahri seraya membantu Iskan berdiri.


***


Hari ini Jafar terus saja menghela nafas panjang setelah bertemu dengan Dina. Ia terus memikirkannya, dan terus merasa cemas setelah membuat Dina menangis seperti itu dan meninggalkannya. Ia bahkan tidak bisa fokus pada apa yang ia kerjakan. Sehingga, salah satu baju yang sedang ia setrika bolong dan rusak.


"Oh, astaga! Bagaimana ini? Apa yang sudah gue lakuin? Ah, sial banget sih!"


Padahal baju yang sedang ia setrika adalam milik pelanggan VIP mereka yang akan segera di ambil malam ini. Dan harga baju tersebut bukanlah harga pasaran yang murahan.

__ADS_1


"Jafar? Baju yang tadi saya kasih untuk kamu setrika mana? Orangnya udah dateng mau ngambil bajunya!" ucap Marwan rekan kerjanya.


Jafar pun tak bisa menjawab dan hanya memberikan baju tersebut dengan perasaan bersalah.


Marwan langsung menganga terkejut melihat bajunya bolos dan rusak.


"Astaga, Far! Kamu gimana, sih? Kok bisa bolong kayak gini? Wahh ini sih bisa berabeh kalau gini ceritanya! Waduh loh... loh kenapa gak hati-hati sih?! Terus ini gimana urusannya, Jafar? Haduh! Pusing dah kepala gue!"


Tak sengaja ternyata ocehan Marwan sampai terdengar oleh bos mereka sehingga menarik perhatiannya untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa ini?" tanya bosnya.


"Eh, Bos. Ini, si Jafar ngerusak baju pelanggan VIP kita. Mana orangnya udah dateng mau ngambil," adu Marwan kepada bosnya.


"Aduh, Jafar! Kenapa bisa kayak gini? Gak biasanya kamu melakukan kesalahan sampai seperti ini. Kamu tahu berapa harga baju ini?" tanya bosnya memarahi Jafar.


Jafar menggeleng tak tahu.


"Sepuluh juta, Jafar! Kalau gini jadinya, kamu mau ganti rugi darimana coba. Gajih bulanan kamu aja gak nyampe segini!" geram bosnya.


"Saya minta maaf, bos," tukas Jafar hanya bisa menyesalinya.


"Udah gini saja! Saya akan urus masalah ini. Tapi, bukan berarti kamu gak akan kena masalah karena ini. Saya hanya akan memberi kamu kesempatan. Saya akan memotong setengah dari gajih kamu perbulannya untuk mengganti rugi pakaian yang sudah kamu rusak, paham?"

__ADS_1


"Paham, bos. Sekali lagi saya minta maaf."


Jafar pun hanya bisa pasrah dengan keputusan bosnya. Masih syukur ia tidak dipecat walau pun penghasilannya akan berkurang banyak. Tapi, apalah daya. Lagi pula ini adalah kesalahannya yang lalai dalam pekerjaannya.


__ADS_2