Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 41


__ADS_3

Pak Aban membawa pulang ke empat saudara itu, dan mengantarnya ke pondok kecil yang sengaja ia bangung di belakang rumahnya itu. Ternyata apa yang sebut pondok itu terlihat seperti layaknya rumah mewah bagi ke empat saudara itu. Meskipun luasnya tak terlalu luas. Namun, sangat nyaman dan tenang.


"Kalian bisa tinggal disini, sampai kapanpun. Anggap saja rumah sendiri. Kamar mandinya ada di luar belakang pondok. Kalian bersihkan diri kalian, setelah itu datanglah ke rumah kakek. Kita makan malam bersama," ucap Pak Aban.


"Terima kasih, Kek. Maaf karena telah merepotkan dan menyusahkan Kakek seperti ini," balas Jafar merasa tak enak dengan bantuan besar Pak Aban.


"Ini tidak seberapa dengan apa yang kamu lakukan kepada Kakek. Bahkan mungkin, ini tak sebanding dengan pertolongan nak Jafar untuk Kakek," sahut Pak Aban.


"Kakek terlalu berlebihan," tukas Jafar.


Lantas, Kakek tersenyum kecil dan menepuk bahu Jafar.


"Yasudah. Setelah selesai membersihkan diri kalian. Datanglah ke rumah kakek, yah?" ujar Kakek lagi mengulang perkataannya.


"Iyah, Kek. Sekali lagi terima kasih banyak."


Pak Aban pun pergi meninggalkan mereka. Tatkala semua masih terdiam sedih mengingat nasib mereka yang begitu menyedihkan seperti ini.


"Apakah gak papah, kita tinggal disini?" tanya Tina.

__ADS_1


"Hanya untuk sementara. Kita tidak mungkin menyusahkan Kakek Aban terus. Kita harus tahu diri. Setelah kita mendapatkan tempat tinggal, kita akan pindah dari sini," jawab Jafar.


Tina hanya mengangguk paham. Tatkala Ira nampaknya masih belum melupakan dirinya yang dilecehkan pria rentenir itu. Ia masih sangat marah dan kesal setiap kali mengingatnya. Ia merasa dirinya sudah ternodai. Jadi ia terus saja menangis walau tanpa suara.


Jafar kembali memeluk adiknya itu. "Sudah. Sekarang sudah tidak papah. Mari kita lupakan apa yang sudah terjadi. Dan kita hanya perlu mlihat ke depan. Menuju masa depan yang cerah. Kita lupakan saja apa yang telah kita lalaui hari ini," bisik Jafar.


"Bagaimana caranya? Aku... aku sangat kotor sekarang. Bagaimana caranya?" Ira menangis tersedu-sedu dalam pelukan Jafar.


"Nggak, jangan berkata seperti itu. Kamu sama sekali tidak kotor. Kamu tidak papah, jangan pernah berpikir seperti itu," balas Jafar menenangkannya.


"Apa kakak mau aku balaskan dendam padanya?" ucap Iskan tiba-tiba membuat Jafar sontak menoleh padanya.


***


Lantas, setelah beberap saat. Mereka pun selesai membersihkan diri mereka. Dan mereka segera menghadiri undangan dari Pak Aban untuk makan malam bersama.


Ternyata mereka sudah menunggu di meja makan. Dengan beberapa hidangan sudah tersaji rapih di atas meja.


"Ayo, mari duduk! Kita makan!" seru Pak Aban mempersilahkan mereka duduk di kursi yang sudah disiapkan.

__ADS_1


Dina tak berhenti memandangi Jafar. Perasaannya begitu ingin bicara padanya. Tetapi akalnya tak menginginkan hal itu. Karena ia sudah merasa dikecewakan olehnya.


"Ira, loh mau makan sama apa? Gue ambilin yah?" ujar Arif mencoba memberikan perhatiannya pada Ira yang nampak masih sangat terpuruk.


"Apa aja," balas Ira singkat.


Al tak mau kalah dengan sikap perhatian Afif kepada Ira. Jadi ia pun mencoba bersikap baik kepada Tina.


"Tina, apa kamu mau udang? Aku ambilin yah?" tukas Al.


"Sorry, Tina alergi udang. Dia gak bisa makan-makanan sea food," sela Iskan memotong tindaknnya dan membuat ia malu didepan semua orang.


Arif tersenyum jahil. Ia hanya mau mencairkan suasana supaya menjadi lebih cerah.


"Makannya tanya dulu! Maen ambil segala!" seru Arif mengejek Al.


"Serah aku dong! Ikut campur aja sih!" balas Al merasa kesal.


Pak Aban hanya tertawa kecil melihat kedua cucunya yang nampak menyukai dua saudara perempuan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2