
Jam 10.23 Ira selesai bekerja. Ira memang terharu dan juga salut kepada Arif. Melihat Arif yang masih menunggunya bahkan sampai ia tertidur disana.
Ira tersenyum dan segera membangunkannya. "Arif? Bangun! Arif!"
Lantas, Arif pun bangun seketika merasa sentuhan tangan Ira yang sedikit menggunjing tubuhnya.
"Hah? Apa?" sahut Arif nampak masih belum sadar sepenuhnya.
"Ayo, balik! Loh mau nginep disini?" canda Ira.
"Nggaklah! Udah kerjanya?" jawab Arif masih mempertanyakannya.
"Iyah, udah."
Ira pun melangkah pergi meninggalkan Arif. Yang kemudian, Arif pun segera menyusulnya dengan sigap.
"Eh, tungguin gue!" serunya.
Arif masih mengikuti Ira dan berniat mengantarnya sampai ke rumah dengan selamat. Walau ini terlihat sangat berlebihan. Tetapi, Arif sangat tulus melakukannya demi menjaga Ira sebagai keamanannya.
Awalnya Ira memang merasa sangat risih dan tidak nyaman. Tetapi, sekarang ia merasa lebih aman karena ada Arif. Ira mulai merasakan getaran cinta di hatinya untuk Arif.
"Loh gak lelah apa?" tanya Ira.
"Lelah apa?" sahut Arif.
"Ngikutin gue terus."
"Nggak. Gue malah seneng bisa deket seharian sama loh."
__ADS_1
Mendengar hal itu Ira menoleh sejenak menatap Arif yang kemudian menundukkan kepalanya sambil tersenyum senang.
"Sorry, yah? Selama ini gue telah salah menilai loh," ucap Ira.
Senyum Arif semakin berkembang seketika mendengar ucapan Ira yang menandakan kalau ia telah merasakan ketulusannya.
"Kalau begitu, apakah gue ada kesempatan?" tanya Arif spontan.
"Entahlah. Gue masih belum membuka hati gue buat loh," jawab Ira.
Walau agak kecewa tetapi Arif tidak merasakan patah hati karena jawaban Ira. Lagi pula perjuangannya baru saja dimulai. Dan ia belum melakukan apapun untuk membuat Ira menyukainya.
***
Ketika Ira sampai ke rumah. Kebetulan, Tina juga baru saja tiba diantar oleh Al dengan mobil. Mereka berpapasan tepat di depan rumah mereka.
"Tina? Kamu habis dari mana dengan Al?" tanya Ira.
"Oh gitu... yaudah. Makasih yah, Al. Kamu udah mau nemenin Tina," sahut Ira.
"Sama-sama, Kak. Lagian sekarang Tina dan aku sudah jadi teman yang akrab," balas Al dengan senang hati.
"Bukan karena loh naksir sama Tina?" timpal Arif menggodanya.
"Apaan sih, Kak Arif! Ikut campur aja urusan orang!" sambar Al mendelik kesal padanya.
"Cieee... marah tuh! Artinya beneran suka yah?" sahut Arif lagi terus saja ingin menggodanya.
Seketika wajah Al berubah menjadi merah, bukan karena marah melainkan ia malu digoda seperti itu di depan Tina.
__ADS_1
"Arif, suka banget deh jadi kompor," tegur Ira menyikutnya.
"Hehe... lagian kalau suka yah, bilang suka dong! Gak usah diam-diam gitu!" kekeh Arif.
"Terus Kak Arif sendiri? Kenapa Kakak jadi sering dateng ke sini barengan terus lagi sama Kak Ira. Kakak suka yah, sama Kak Ira?" tukas Al ingin membalikkan keadaan. Tapi jawaban Arif malah membuatnya tak bisa membalikkannya.
"Emang. Kakak sangat menyukai Ira. Terus kenapa? Lagi pula, Kakak udah gede kali. Wajarlah kalau Kakak udah tertarik sama cewek. Kamu masih bocah, gak boleh pacaran!" jawab Arif dengan entengnya membuat Al kesal.
Lantas, Al pun tak mau kalah dan melontarkan satu pertanyaan lagi.
"Terus Kak Ira mau gitu pacaran sama orang kayak Kak Arif? Udah diterima?"
Sejenak Arif terdiam tidak bisa menjawabnya. Ketika ia hendak membalas perkataan Al. Ira pun melerai adu mulut diantara mereka.
"Udah ah! Malah jadi berantem. Kalian sebaiknya pulang saja sana! Ayo, Tina kita masuk!" Ira menarik tangan Tina dan segera meninggalkan mereka berdua.
Lantas, Al pun dengan kesalnya masuk ke mobil untuk pulang. Tak disangka, Arif juga ikut masuk hendak menumpang.
"Ngapain?" tanya Al.
"Numpang dikit, napa? Sewot amat, sih!"
"Kagak! Kakak pulang saja sendiri sono! Turun!"
"Yaelah. Pelit amat! Lagian gue emang niat mau ke rumah loh. Udah Pak, jalan aja," pinta Arif pada sopirnya.
Al menatap Arif dengan kesal. "Mau ngapain Kakak ke rumah aku?"
"Ketemu Kakek."
__ADS_1
Al pun hanya bisa diam dan menerima kehadiran Arif yang menumpang di mobilnya.