
Ira sungguh tak tahu, kalau ternyata Arif menunggunya selesai bekerja usai dari kantor polisi. Ira sangat tak menyangka ia akan kembali lagi kesana untuk menemui Ira dengan kondisi yang babak belur seperti itu. Namun, ia tetap tersenyum lebar kepada Ira saat ia menemukannya tengah berdiri di depan Cafe menunggu Ira selesai dan keluar.
"Hai!" sapanya.
"Arif? Kok kamu..."
"Kaget yah? Gue khawatir sama loh. Gimana kalau pria tadi gangguin loh lagi? Makannya gue dateng kesini buat nganter loh pulang dengan selamat sampai tujuan," terang Arif.
Sejenak Ira terdiam sekaligus terharu dengan apa yang telah Arif lakukan untuknya. Padahal dia butuh istirahat setelah berkelahi tadi, bukannya malah berkeliaran seperti ini dan malah mencemaskan Ira.
Ira menatap teduh Arif untuk kali pertamanya. Kini ia tak menolak keinginan Arif untuk mengantarnya pulang. Lagi pula, Ira memang masih trauma dan takut kalau-kalau pria itu datang lagi dan menyakitinya.
"Baiklah," balas Ira dan melangkah pergi lebih dahulu.
Arif kaget saat mendengar persetujuan Ira dengan begitu mudah. Arif rasa Ira mulai merasakan ketulusannya kalau ia benar-benar menyukainya. Seketika senyum yang lebar pun terpampang indah di wajah Arif dengan gembira.
Mereka jalan berdampingan. Namun Arif sedikit memberi jarak supaya tak terlalu dekat. Ia tak mau kalau sampai membuat Ira merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Loh tahu tempat kerja gue dari mana?" tanya Ira penasaran.
"Mau tahu aja, atau mau tahu bangetnya kebangetan?" tanya Arif bercanda.
"Gue cuma penasaran aja. Gak dikasih tahu juga gak papah," sahut Ira dengan nada datar.
"Eyt, aku kan hanya bercanda. Sebenarnya sih, gue udah lama tahu loh kerja Cafe sana. Tapi, gue gak pernah mampir karena gue malu. Terus, pas hari ini gue niat banget nyamperin loh, eh ternyata ada orang brengsek yang beraninya gangguin loh," jelas Arif akhirnya berterus terang pada Ira.
"Oohhh."
"Ohhh? Itu aja?"
"Hmmm... loh gak ada kata yang mau disampain ke gue gitu. Aduh! Wajah tampan gue sampai babak belur kayak gini... sakit tahu!"
Ira tersenyum kecil mendengar kode yang Arif berikan dengan cara merengek seperti itu.
"Maaf," ucap Ira.
__ADS_1
"Lah, kok maaf sih! Bukan itu yang gue harepin!"
"Iyah, sebelumnya terima kasih sudah menolongku. Dan juga maaf, karena kamu harus terluka karenanya," balas Ira melanjutkan kata-katanya.
"Jadi, apakah kamu sudah mulai menyukaiku? Bagaimana aku keren bukan?"
"Mulai deh, sombong! Sorry, tapi perasaan geu tetap sama kayak sebelumnya sama loh. Jangan terlalu berharap," balas Ira.
Arif sedikit kecewa sih, mendengar balasan Ira. Tetapi, ia tidak merasa patah hati. Karena baginya ia baru permulaan. Dan mungkin bahkan ia sama sekali belum memulainya.
"Terus, soal lomba menggambar lusa nanti. Apakah loh udah nyiapin ide mau gambar apa?" tanya Arif mengubah topik obrolan.
"Kok loh tahu gue ikut lomba?"
"Yah, siapa dulu dong! Apa sih yang gak gue tahu soal loh?" gombalnya.
Ira hanya menggeleng kecil untuknya. "Hmmm..."
__ADS_1
Arif tersenyum kecil. "Pokoknya loh tetap semangat aja. Dan semoga loh berhasil dalam lomba. Do'a gue yang terbaik buat loh."
Ira menoleh menatap wajah Arif yang penuh biru dibagian mata serta pipi juga dahinya. Meskipun dengan wajah berantakan seperti itu, Ira masih bisa melihat senyum tulusnya.