Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 43


__ADS_3

Jafar mengerti mengapa Dina bersikap seperti ini. Sangat wajar baginya memperlakukan Jafar seperti itu. Karena Jafar memang bersalah padanya. Ia sudah sangat jahat padanya.


Jafar terdiam menatap Dina dengan sedih.


"Aku bilang siapa kamu? Beraninya kamu pergi seperti itu saat aku sangat butuh dirimu! Dasar pria brengsek!" teriak Dina meluapakan semua kemarahannya dan emosinya pada Jafar sambil memukuli dada Jafar.


Dina menangis didepannya dan mengehela nafas panjang.


"Pergilah! Aku tidak mau melihat wajahmu. Pergi!" usir Dina sambil mendorong tubuh Jafar untuk pergi dari hadapan.


"Aku memang salah. Kamu berhak untuk marah. Marahlah semaumu. Bencilah aku semau kamu. Tapi... sekarang aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku bersumpah akan tetap berada disisi kamu apapun yang terjadi. Karena itu..."


"Tidak. Aku tidak butuh kamu lagi. Bagiku kamu... sudah menghilang dari dunia ini. Mulai sekarang, aku sudah melupakanmu. Itulah yang kamu inginkan," sela Dina memotong ucapan Jafar.


Dina pun bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia bersandar pada pintu lalu perlahan berjongkok sambil menangis sejadi-jadinya. Bahkan tangisannya bisa didengar oleh Jafar.


Betapa Jafar sekarang mengerti. Betapa ia telah menaruh luka yang sangat dalam di hati Dina. Ia sekarang tahu, bahwa luka itu tak mudah untuk sembuh. Dan ia harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa mengobati lukanya.


Jafar sangat marah pada dirinya sendiri. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat. Tatkala Pak Aban yang menguping perdebatan diantara mereka di lantai satu rumahnya mulai mengerti sedikit demi sedikit tentang hubungan mereka.


Kakek hanya tersenyum kecil berharap bisa membantu keduanya menjadi baik lagi.


***

__ADS_1


Malam berlalu begitu cepatnya. Hari baru dimulai lagi. Namun yang berbeda kali ini, tubuh mereka terbangun dengan penuh rasa sakit karena luka yang didapat semalam.


Jafar tidak tidur sama sekali. Walaupun semalaman ia merasa sangat sedih, tapi ia tak melupakan ulang tahu adik bungsunya yang gagal kemarin. Jadi, pagi-pagi sekali Jafar membuat cake ulang tahu untuk adiknya dengan bahan-bahan yang ia pinjam dari dapur Pak Aban.


Ketika Tina terbangun, Jafar, Ira dan Iskan sudah bersiap menyambut harinya dengannya ucapan selamat ulang tahun.


"Selamat ulang tahun... selamat ulang tahun. Selamat ulang tahu Tina sayang. Selamat ulang tahun... Yeay!"


Semua bernyanyi dengan meriah untuk Tina. Seketika senyum Tina mengembang senang melihat ketiga kakaknya berhasil membuat kejutan dipagi harinya.


Tina segera meniup lilin yang menyala dengan penuh harapan dan do'a. Ia meminta semoga dirinya dan ketiga kakaknya selalu hidup dengan baik dan damai.


"Selamat ulang Tina! Maaf yah, kami merayakannya," ujar Jafar tersenyum untuk adiknya itu.


"Ini hadiah ulang tahu dari Kakak," ujar Jafar lagi memberikan Tina kado yang tidak sempat ia bungkus.


"Wahhh... aku suka banget kak, makasih yah!" balas Tina menyukai wadah pensil baru yang Jafar berikan.


"Sama-sama."


"Dan ini... kado dari Kak Ira. Maaf yah, bungkusnya agak rusak. Tadinya Kakak mau berikan kado ini malam tadi. Tapi gak papah kan sekarang juga?" sahut Ira.


"Mmm... makasih Kak Ira. Aku sayang Kak Ira," balas Tina juga memeluknya. Lantas, Tina segera membuka kado dari Ira karena penasaran isinya apa.

__ADS_1


Dan ternyata itu adalah sepatu baru yang dulu sangat Tina inginkan. Tina sangat senang sampai langsung mencobanya.


"Waahh... ini kan sepatu yang aku inginkan! Terima kasih banyak, Kak Ira!" seru Tina berbahagia sekali.


"Sama-sama. Nanti sepatu lama kamu, buang saja. Bukannya udah rusak juga, kan?" sahut Ira.


Tina hanya mengangguk setuju.


"Ehem..!" Iskan berdehem keras sengaja agar Tina juga tidak melupakan keberadaanya.


Tina menoleh pada Iskan. Tatkala Iskan memberinya sebuah jepit rambut.


"Maaf, Kakak tidak bisa memberikan hadiah yang bagus seperti Kak Jafar dan Kak Ira. Kakak hanya bisa ngasih kamu ini. Lain kali jika kakak punya uang Kakak akan belikan kamu hadiah yang paling bagus dan mahal," ucap Iskan dengan datar mengucapkannya.


Senyum Tina mengembang dan ia langsung saja memeluk Iskan kuat-kuat.


"Makasih banyak Kak Iskan. Mahal atau tidaknya hadiah yang kakak berikan itu tidak penting. Aku suka dengan apapun yang kalian berikan untukku. Aku hanya berharap kalau aku bisa terus bersama dengan kalian seperti ini. Menurutku itu adalah hadiah terbaik dalam hidupku," balas Tina dengan bijak.


Iskan tersenyum terharu mendengar jawaban adiknya itu.


"Udah, yuk kita makan kuenya sekarang?" sela Ira mengacaukan suasana yang sedang terjadi.


Mereka pun dengan senang dan berbahagia memakan kue ulang tahun Tina bersama-sama. Tawa mereka terlihat dari balik jendela oleh Pak Aban. Semalam mereka baru saja tertimpa oleh badai besar. Tetapi pagi ini, mereka bisa tersenyum dan mengendalikan badai besar yang telah nenimpa mereka itu.

__ADS_1


Pak Aban merasa sangat kagum kepada ke empat saudara itu. Walau seberapa berat penderitaan yang mereka hadapi. Mereka tetap berpegangan tangan dan saling menjaga serta saling mendukung satu sama lain.


__ADS_2