
Malam tiba dengan sangat cepat. Pak Aban baru bisa menjenguk Tina karena ia baru pulang dari luar kota dan lansung ke rumah sakit. Ia bahkan membawa buah-buahan segar untuk Tina dan makan malam untuk ketiga saudaranya. Pak Aban sudah menganggap mereka seperti cucunya sendiri.
Bahkan tak tertinggal Arif serta Al ikut berkunjung untuk menengok keadaan Tina sekarang ini. Semua berkumpul seperti biasa. Mereka mengobrol dan saling bercanda membuat suasana menjadi ceria. Tina merasa senang karena semua orang berusaha untuk mendukung dan menghiburnya. Berada disisinya dalam kondisi apapun.
Jafar ingin bicara dua mata saja dengan Pak Aban usai makan malam selesai. Mereka pun pergi keluar dan mengobrol dengan serius.
"Ada apa, naka Jafar?" tanya Pak Aban.
"Kek, aku tidak tahu lagi harus ngomong apa sama Kakek. Yang jelas ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan Kakek kepada kami. Tapi, aku janji sama kakek suatu hari pasti akan aku balas semua jasa Kakek. Karena itu, mohon tunggu aku sampai saat itu tiba," ujar Jafar.
Pak Aban sampai tertawa mendengarnya. Pak Aban sangat kagum dengan rasa percaya diri Jafar dan kegigihannya.
__ADS_1
"Baiklah baiklah. Kakek akan mencoba bertahan sampai saat itu tiba. Jika usia kakek bisa lebih dari seratus tahun," balas Pak Aban sedikit bergurau supaya suasananya tak canggung.
"Dengar nak Jafar, Kakek sudah menganggap kalian seperti cucu kakek. Jadi, jangan sungkan dan tidak perlu merasa berhutang kepada kakek. Karena kakek senang uang yang kakek hasilkan tidak digunakan dengan sia-sia. Lagi pula, kakek sudah tua dan uang tidak akan kakek bawa sampai ke lubang kubur. Sebab itu, selama kakek hidup kakek ingin membantu banyak orang supaya uang kakek tak hilang dengan sia-sia," balas Pak Aban.
"Tapi tetap saja, Kek..."
"Yasudah. Pokoknya kamu tak perlu merasa sungkan sama Kakek. Kakek senang jika bisa membantu kalian. Ngomong-ngomong, kamu dan Dina bagaimana? Sepertinya dia masih marah dan tak mau bicara denganmu?"
Sela Pak Aban mengalihkan inti permbicaraan mereka.
"Begitu yah... tapi sepertinya Dina juga mulai memperhatikanmu lagi. Setidaknya Kakek sering memergokinya sering menatap kamu dari kejauhan. Sorotan matanya menampakkan banyak rindu yang tersimpa. Karena itu teruslah berusaha dan buat dia mengerti," sara Pak Aban memberinya nasehat.
__ADS_1
"Hehe iyah, Kek. Aku tidak akan pernah menyerah kok, padanya..."
"Pokoknya, kamu harus tetap sabar dan tegar menghadapi semua masalah hidup. Ingat kamu tidak sendirian. Ada begitu banya orang yang peduli disisi kamu," balas Pak Aban lagi.
"Iyah Kek. Terima kasih atas saran dari Kakek. Semoga saja aku bisa," sahut Jafar disusul helaan nafas yang begitu panjang.
Tak sangka sebuah langkah cepat berlarian di lorong rumah sakit datang menghampiri mereka. Nampaklah sosok Dina dengan ekspresi khawatir sambil berlari tergesa-gesa.
Jafar melihat kedatangannya. Ia bahkan sampai berdiri bangkit dari duduknya saat melihat sosok Dina tengah datang padanya.
"Dina?" gumam Jafar.
__ADS_1
Lantas, setelah Dina sampai di tempat Jafar berdiri sekarang, ia memeluk Jafar dengan erat. Ternyata Dina mendengar kabar tentang Tina dari bibi pengurus rumah tangga di rumah Pak Aban.
Ia sangat khawatir dan takut kalau Jafar saat ini tengah terpukul dan bersedih karena adiknya. Jadi ia bergegas lari dan pergi mencaritahu dimana Tina dirawat.