
Pagi-pagi sebelum kelas dimulai Ira pergi ke belakang sekolah. Di sana ada sebuah pohon besar yang rindang. Ira duduk dibawah pohon tersebut sambil menggambar sesuatu. Ia ingin menenangkan isi hati dan pikirannya saat ini. Ira memang menyadari bahwa perktaannya sangat keterlaluan. Dan wajar saja jika Jafar marah padanya.
"Hei, nona! Apakah engkau penunggu pohon rindang ini?" usil seseorang datang menyapanya.
Ira melirik ke arah asal suara itu. Dan ternyata itu adalah Arif. Entah kenapa Ira merasa kalau Arif akhir-akhir ini sering mencampuri urusannya.
"Apa lo lakuin disini?" tanya Ira menyelidiki.
"Harusnya gue yang nanya kayak gitu sama loh. Kenapa loh duduk melamun sendirian disini? Nanti kesambet baru tahu rasa lho!"
"Suka suka gue dong! Emang gue perlu izin loh buat duduk disini?"
"Kalau perlu gimana? Loh sendiri tahu kan, gue bisa lakuin apa saja. Jika gue mau mebuat peraturan seperti itu, itu bisa saja terjadi," tanggap Arif bergurau.
Ira hanya memutar malas kedua bola matanya. Lalu ia bangkit berdiri hendak pergi. Namun, Arif langsung menangkap tangan Ira ketika Ira melewatinya.
"Gue punya satu pertanyaan sama loh," bisik Arif.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain.
__ADS_1
"Apaan?"
"Gue penasaran, kenapa loh selalu menghindari dari orang-orang, termasuk gue?"
"Bukannya pertanyaan itu udah gue jawab kemarin. Gue gak percaya orang lain, dan gue gak percaya sama orang kayak loh. Jadi sebaiknya, loh jangan bicara lagi sama gue. Kecuali jika ada hal penting," jawab Ira.
Ira melepaskan cengkraman tangan Arif dan melanjutkan langkahnya.
"Tapi, kalau ternyata gue suka sama loh! Gimana?"
Langkah kaki Ira kembali terhenti. Ia berbalik dan menatap Arif dengan kesal.
Ia malah semakin ingin mengejar Ira dan ingin tahu lebih banyak tentang kehidupannya. Penolakannya justru membuat ia semakin ingin terus mencampuri hidupnya.
***
Di persimpangan jalan Tina menghentikan langkah kakinya.
"Kakak tidak perlu mengantarku sampai sekolah. Aku sudah besar sekarang dan aku bisa pergi sendiri dari sini," ucap Tina.
__ADS_1
"Kamu yakin?" tegas Iskan bertanya.
Tina mengangguk penuh keyakinan. Lagi pula ia sudah kelas lima. Dan bukan akan kecil lagi. Iskan sebenarnya tak tega. Tetapi ia mempercayakan keyakinan diri Tina saat ini.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Kakak pergi yah!"
"Iyah."
Iskan pun pergi berbalik arah menuju sekolahnya.Tatkala Tina berjalan seorang diri dari persimpangan menuju sekolahnya. Tanpa diduga Al lewat dengan mobil yang mengantarnya. Mobil itu pun berhenti tak jauh dari tempat Tina berjalan.
"Tina!" Al memanggil dari jendal pintu mobil yang terbuka. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Tina.
Tian berjalan menghampiri panggilannya. "Al?"
"Masuk yuk! Kita barengan aja!" ajak Al bersemangat sekali.
"Gak papah aku ikut sama kamu?" tanya Tina lagi gak enak rasanya jika ia dilihat oleh teman-teman sekolahnya nanti saat keluar dari mobil Al.
"Yah gak papahlah! Kita kan teman. Ayo, buruan masuk sini!" kekeh Al memaksanya.
__ADS_1
Lantas, mau tak mau Tina pun masuk ke mobil Al dan barengan menuju sekolah.