
Saat tiba di klinik. Pak Aban melihat ke empat saudara itu terdiam menunduk dengan banyak luka di wajah mereka. Setelah mendapatkan perawatan, mereka duduk diluar ruangan pemeriksaan dengan penampilan yang kusut dan acak-acak.
Mereka terlihat sedih dan terpukul saat ini.
Tidak terduga, ternyat cucu yang dimaksud oleh Pak Aban adalah Al, dan Arif. Serta ada Dina juga di sana. Namun, Dina bukanlah cucu kandung Pak Aban.
Seminggu yang lalu, sahabat baik Pak Aban meninggal dunia bersama isterinya dalam sebuah kecelakaan. Dina adalah anak semata wayang mereka yang menjadi ahli waris kekayaan kedua orang tuanya.
Namun, karena ia belum mengerti bisnis. Jadi, Pak Aban mengelola perusahaan sahabatnya itu dan menjaganya sampai Dina sudah siap mengelolakan perusahaan itu sendiri. Dan karena Dina tinggal seorang diri, Pak Aban merasa tak tega. Jadi, ia membawanya pulang dan mengganggap Dina sebagai cucunya sendiri.
Mereka saling terkejut memandang satu sama lain. Tak menyangka takdir menyiapkan banyak kejutan untuk mereka.
__ADS_1
Al yang melihat Tina terluka segera menghampirinya. Begitu pun dengan Arif kepada Ira. Sementara Dina dan Jafar hanya saling terdiam dalam kebisuan mereka untuk tak saling menyapa dan berpura-pura tak saling kenal. Walaupun Dina merasa sangat cemas kepadanya saat ini. Tapi, ia tak mau menunjukkan perasaannya yang masih sama terhadap Jafar. Atau Jafar akan salah paham lagi padanya, dan Dina akan dicampakkan lago olehnya, pikir Dina.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Pak Aban kepada cucu-cucunya.
"Iyah, Kek. Malahan kami sudah sangat dekat dengan mereka," balas Al seadanya.
Pak Aban hanya manggut-manggut mengerti. "Kalian baik-baik saja? Apakah luka kalian sangat serius? Apa yang dokter katakan?" tanya Pak Aban bertubi-tubi.
"Syukurnya tidak ada luka yang serius, Pak. Jadi mereka sudah boleh pulang sekarang," sahut orang suruhan Pak Aban.
"Apa yang akan terjadi pada orang-orang yang sudah melakukan ini pada mereka?" tanya Pak Aban lagi.
__ADS_1
"Saya tidak tahu pasti, Pak. Para polisi hanya meminta pernyataan dari pada korban untuk saat ini," balasnya.
"Yasudah. Mari sekarang kita pulang, yah? Kalian butuh istirahat saat ini," ucap kakek lagi.
"Kami sudah tak punya rumah. Kemana kami akan pulang sekarang?" sambar Iskan akhirnya membuka mulut.
"Kamu tenang saja. Dibelakang rumah Kakek, ada pondok dengan empat kamar. Kalian bisa tinggal di sana jika kalian mau," jawab Pak Aban menawarkan tempat tinggal untuk mereka.
Jafar tak bisa berkata apapun saat ini. Ia hanya merasa terpuruk pada dirinya sendiri. Ia pikir ia bisa melindungi adik-adiknya. Tapi nyatanya ia tidak bisa melakukan apapun. Dan apada akhirnya ia tetaplah seorang pecundang dan lemah.
Seketika tangisan Jafar pecah. Mengambil perhatian semua orang untuk tertuju kepadanya. Ia tak bisa lagi menahan rasa sakit itu. Ia tak bisa lagi memendamnya sendirian. Tangisannya membuat semua orang bisa merasakan perasaannya. Seketika adik-adiknya ikut menangis dan menghampiri Jafar sambil memeluknya.
__ADS_1
Mereka menangis bersama-sama. Membuat semua orang yang ada disana merasakan betapa pilu kehidupan yang mereka jalani.
Bahkan Dina merasa sangat sedih melihat Jafar seperti ini. Namun, ia tak bisa mendekat padanya. Ia hanya bisa menangis berkabung dengan mereka. Tatkala Pak Aban membiarkan mereka untuk menenangkan diri saat ini. Ia merasa kasihan kepada mereka.