Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 57


__ADS_3

Pak Aban meninggalkan Dina dan Jafar diluar untuk mengobrol empat mata dari hati ke hati. Sementara ia kembali kumpul dengan yang lainnya di dalam.


"Kamu tahu dari mana soal kabar Tina?" tanya Jafar basa basi memulai obrolan yang terasa canggung ini.


"Bibi di rumah," jawab Dina sangat singkat tanpa menatap wajahnya.


"Terus kenapa kamu malah datang kesini. Ini kan udah malam, seharusnya kamu datang besok saja," omel Jafar.


Dina menoleh padanya dengan tatapan yang sangat tajam.


"Tentu saja karena aku khawatir. Aku cemas kamu akan merasa sangat terpukul karena ini. Makanya aku bergegas kemari..." balas Dina akhirnya terbuka lagi pada Jafar.


Jafar mengembangkan senyumannya lebar-lebar setelah mendengar Dina yang begitu cemas kepada dirinya.


"Kamu udah gak marah lagi sama aku?" tanya Jafar dengan mata yang berbinar-binar.


"Yah sebenarnya aku udah lama gak marah lagi sama kamu. Tapi bukan berarti aku sudah memaafkan kamu... aku tetap belum bisa memaafkan kamu gitu aja," sahut Dina masih kesal dengan Jafar.

__ADS_1


"Iyah deh, iyah. Makasih yah, kamu udah gak marah lagi sama aku. Yaudah, masuk yuk! Temui Tina di dalam," balas Jafar sambil tersenyum gembira.


Mereka pun segera masuk dan menemui Tina yang begitu asik mengobrol dan tertawa dengan yang lainnya.


"Kak Dina?" ucap Tina menangkap kedatangan Dina dengan sorotan mata yang gembira.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Dina.


"Aku baik-baik saja sekarang, kak. Aku seneng deh kakak datang kesini. Berkat kalian aku merasa sudah sembuh dan pastinya aku akan segera pulang," balas Tina dengan percaya diri.


"Iyah. Cepet sembuh yah! Nanti kalau kamu pulang kakak buatin kamu bubur labu, gimana?" balas Dina sambil tersenyum.


"Serius? Wahh aku suka banget bubur labu buatan kak Dina. Saat pertama kali memakasnnya, aku langsung ketagihan. Tapi malu minta lagi sama kakak," ucap Tina dengan malu-malu.


"Kenapa malu? Pokoknya mulai sekarang, kalau kamu mau sesuatu bilang saja, jangan sungkan. Kakak pasti buatin buat kamu," balas Dina dengan senang hati menawarkannya.


"Hehe... siap kakak. Lain kali, aku gak bakalan sungkan yah!" seru Tina ia tetap berusaha tegar dan yakin walau sebenarnya ia juga tahu kondisi tubuhnya tidak begitu baik. Tetapi ia tak mau melewatkan satu hari pun dengan mengeluh dan meratapi sakitnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, perawat yang dikhususkan untuk merawat Tina datang dan memberitahu para pengunjung untuk segera pulang, karena hari pun sudah sangat malam. Dan pasien butuh istirahat.


"Mohon maaf sekali! Tapi pasien perlu banyak istirahat," ucap perawat tersebut setelah memberikan suntikan obat untuk Tina.


"Iyah, Sus! Kami akan segera pulang," balas Pak Aban.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu," balas perawat itu dan pergi setelahnya.


Pak Aban pun bangkit berdiri untuk berpamitan dengan Tina. Begitu juga yang lainnya. Hanya menyisakan tiga saudara itu yang menjaga dan merawat Tina sekarang ini.


Tak lupa Jafar pun mengucapkan terima kasih kepada semua orang karena telah menemani Tina dan membuatnya tersenyum bahagia.


"Yaudah, sekarang kamu tidur dan istirahat yah!" tukas Jafar sambil menyelimuti adik bungsunya.


"Iyah, kak. Aku juga udah ngantuk banget," balas Tina segera memejamkan matanya. Karena memang ada pengaruh obat yang disuntikkan juga tadi.


Jafar mengecup lembut kening Tina dan membiarkan dia untuk istirahat dengan tenang dan damai.

__ADS_1


__ADS_2