
Setelah waktu istirahat selesai. Semua murid kembali berkumpul di depan gedung Fuba Hotel Bandung untuk melakukan tour ke beberapa monumen bersejarah yang ada di Bandung.
Setelah semuanya berkumpul. Wali kelas langsung saja menuju lokasi mereka hari ini yaitu, Monumen Bandung Lautan Api.
Setibanya di sana, para murid nampak terkesam melihat betapa tinggi dan kokoh monumen tersebut berdiri.
"Nah, anak-anak! Ini adalah salah satu Monumen yang sangat bersejarah di Bandung. Monumen ini bernama Bandung Lautan Api yang dibangun untuk mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada tanggal 23 Maret 1946. Peristiwa ini berawal dari ultimatum tentara sekutu agar Tentara Repulik Indonesia (TRI sekarang TNI)p meninggalkan kota Bandung. Dan bla... bla... bla..."
Wali kelas menjelaskan tentang sejarah mengapa Monumen itu dibangun. Para murid mendengarkan penjelasan wali kelasnya dengan seksama. Begitu juga Iskan yang mencatat beberapa hal penting yang dijelaskan oleh wali kelasnya. Karena ia merasa kalau penjelasan tersebut suatu hari pasti akam ia temukan dalam ujian. Maka dari itu ia bersiap dan mencatatnya.
Maya yang memperhatikan Iskan begitu fokus mencatat dan mendengarkan, tersenyum kagum padanya.
"Dia benar-benar berubah," gumamnya ada kesenangan tersendiri bagi Maya setiap kali memikirkan Iskan.
***
Seperti biasa Ira bekerja paruh waktu setelah sepulang sekolah. Namun, hari ini ia sungguh sial, karena harus bertemu dengan pelanggan yang genit. Pria itu terus saja meminta kontak Ira memaksa.
Ira berniat mengabaikannya dan tidak mempedulikannya.
__ADS_1
"Silahkan pesananya!" ucap Ira sambil menyodorkan nampan yang berisi pesanan pria tersebut.
Namun, siapa duga pria itu dengan berani mencengkram tangan Ira dan tersenyum aneh padanya.
"Udah duduk dulu saja disini. Temani aku mengobrol. Lagi pula sedang tidak ada pelanggan yang lain, kan?" ucapnya.
Ira segera menepis tangan pria itu dan menolaknya. "Maaf, tapi saya sedang bekerja."
"Ayolah! Hanya sebentar saja!" kekeh pria itu memaksa.
"Tidak, terima kasih." Ira hendak kembali ke meja kasirnya. Namun, pria itu lagi menahannya.
Perkataan pria itu membuat Ira kesal dan marah. Ia pun refleks menampar pria itu dengan keras.
Plak~
"Jangan kurang ajar kamu!" bentak Ira membuat dua pelanggan yang ada disana memperhatikannya.
Pria tersebut terlihat sangat tidak terima dengan perlakuan Ira. Ia menatap Ira dengan tajam dan menakutkan. Lalu pria itu menampar Ira balik dengan keras sampai Ira terjatuh ke lantai. Bahkan bibirnya sampai mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Ahhh!"
Kedua pelanggan wanita yang ada di dalam Cafe bahkan sampai berteriak ketakutan melihat perlakuan kasar pria itu pada Ira.
"Beraninya cewek sepertimu menampar dan menolakku! Woi, kau tak tahu siapa aku, hah? Beraninya kau sok jual mahal padaku, Cuih!" oceh pria tersebut sambil meludah ke sampingnya karena sangat marah.
Ira belum sempat bangun dan pria itu sudah menjambak rambutnya. Ira berusaha melawan dan memberontak mempertahankan dirinya. Namun, kekuatannya tak bisa mengalahkan cengkrman pria tersebut. Ira diseret paksa olehnya keluar Cafe.
"Kemari kau, akan ku beri pelajaran," ucapnya.
"Lepaskan aku!" lirih Ira terus berusaha sekuat tenaga.
Namun, untungnya Arif yang berniat untuk menemui Ira di tempat kerjanya melihat kejadian itu dan segera menolongnya. Arif langsung saja memukul wajah pria tersebut sampai hidungnya berdarah dan cengkraman tangannya terlepas dari rambut Ira.
Plak~
Bug!
Ira kaget juga sangat bersyukur karena Arif datang dan menolongnya. Ira bahkan sampai menangis karena takut.
__ADS_1