
Sepanjang jalan, Maya cemberut pada Iskan. Walau mereka duduk bersebelahan. Maya sama sekali enggan meliriknya. Tatkala Iskan merasa ada yang aneh dengan sikap Maya terhadapnya. Biasanya Maya selalu diam-diam melirik Iskan walau hanya sesekali. Tapi, kali ini pandangannya lurus ke depan dan tidak bicara sama sekali.
Iskan sebenarnya ingin tahu kenapa dengan Maya. Tapi, ia tidak berhak untuk mempertanyakannya. Jadi, ia pun hanya diam dan menatap keluar jendela bis. Karena hari pun telah menjelang malam. Perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka hampir tiba di sekolah.
Maya benar-benar tak berbicara sama sekali pada Iskan. Ia bahkan mengabaikannya dan pergi begitu saja setelah tiba di sekolah. Beberapa kebanyakan dari mereka sudah dijemput oleh orang tuanya. Satu persatu semua orang pulang dengan jemputan mereka.
Hanya menyisakan Iskan yang harus berjalan kaki pulang sendiria ke rumahnya. Iskan yang jadi kepikiran tentang Maya yang tiba-tiba bersikap dingin kepadanya.
Seketika perutnya terasa lapar. Karena ia belum makan dari siang. Iskan kehabisan uang untuk membeli makanan. Sehingga ia menahan rasa laparnya sampai sekarang. Ia tidak berani meminta kepada teman-temannya Ridwan dan Panji. Walaupun diberi pun ia tak mau menerimanya. Karena ia tahu, Ridwan dan Panji bukan dari keluarga yang kaya. Hanya berasal dari keluarga sederhana yang serba kecukupan.
Ketika di perjalanan pulang, Iskan dicegat oleh beberapa orang. Mereka adalah preman sekolah lain yang pernah berkelahi dengan Iskan dan kedua temannya. Tapi, untuk saat ini Iskan dalam bahaya karena ia sendirian. Sementara yang mencegatnya ada sekitar enam orang.
Orang yang bernama Gio ketua dari geng mereka pernah Iskan kalahkan dan permalukan dalam duel. Gio sampai masuk rumah sakit karenanya dan harus dirawat selama beberapa hari. Tapi, masalah itu sudah lama sekali. Itu terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Iskan rasa Gio datang padanya lagi untuk balas dendam padanya.
"Yo bro! Sudah lama juga yah, kita tidak pernah berurusan lagi," sapa Gio.
__ADS_1
Iskan pun nampak masih tenang menghadapinya. "Lalu? Ada urusan apa, loh kemari?"
"Ayolah Iskan! Urusan kita belum selesai waktu itu," ucapnya.
"Urusan apa?" tanya Iskan dengan santai.
"Gue mau mengulang duel satu tahun yang lalu," balasnya.
Iskan menatapnya tanpa emosi. Malah ia merasa malas berkelahi saat ini. Lagi pula ia saat ini merasa sangat lelah dan lapar. Ditambah lagi ia sudah bertekad untuk berubah. Ia tak mau kembali kepada masa lalunya yang suram dan malah menyusahkan saudara-saudaranya lagi.
"Sorry Gi. Urusan kita pada waktu itu sudah selesai. Gue sudah melupakannya. Lagi pula, gue gak punya waktu untuk melakukan hal yang tidak berguna seperti ini," tolak Iskan dengan tenang.
Iskan menghela nafas berat. "Sekarang gue mau tanya sama loh? Apa loh dendam sama gue karena loh kalah dalam duel satu tahun yang lalu?"
Gio tak menjawab dan hanya menggertak menahan emosinya mendengar pertanyaan Iskan seperti hinaan terhadapnya.
__ADS_1
"Jika memang, yah. Mak gue minta loh lupain saja. Itu hanya masa lalu. Lagi pula masalah waktu itu sudah berlalu. Gue gak mau mempermasalahkannya lagi," lanjut Iskan hendak pergi dan mengabaikan mereka.
Namun, teman-teman Gio menghalangi jalan Iskan. Sehingga Iskan terpaksa berhenti.
"Loh yang menantang gue untuk berduel sama loh waktu itu. Tapi, sekarang gue yang menantang loh untuk berduel kali ini," kekeh Gio tak bisa dimengerti apa sih maunya sampai terkekeh sekali ingin mengulang duel.
Teman-teman Gio pun segera menyeret Iskan ke tempat yang sepi untuk melakukan duel. Iskan dengan masih tenangnya hanya mengikuti langkah mereka.
Gio terlihat sangat siap untuk menghajar Iskan. Namun, Iskan masih terdiam membatu di tempatnya menatap Gio dengan malas. Iskan pikir masalah ini hanya akan selesai jika ia membiarkan Gio menghajarnya. Lagi pula, jika Iskan bertarung dengannya dan mulai memukul ia tidak akan bisa mengontrol diri untuk menjatuhkan lawannya.
Dan ketika Gio melesatkan satu pukulannya. Gio sama sekali tak menghindar. Ia menerima pukulan di wajahnya. Gio tak merasa senang karena Iskan hanya berdiam diri dan tidak meladeninya.
"Loh sungguh gak akan melawan?" tanya Gio.
Iskan tak menjawabnya dan masih tetap tenang menatapnya. Hal itu malah semakin membuat Gio marah dan berteriak kesal.
__ADS_1
Lantas, ia pun tak mau melakukan duel ini jika lawannya sama sekali tak bergerak atau meladeninya. Lantas, Gio menyuruh teman-temannya untuk memukuli Iskan dan mengeroyoknya.
Iskan benar-benar diam tak melawan. Ia membiarkan mereka memukulinya sampai puas.