
Hari ini setelah pulang sekolah. Al mengajak Tina untuk bermain ke rumahnya. Al ingin sekali-kali Tina berkunjung ke rumahnya. Apalagi Al menceritakan kalau hari ini kakeknya akan berkunjung ke rumahnya. Tina dengan senang hati untuk bermain ke rumah Al.
Setibanya mereka di rumah Al. Tina begitu terkagum-kagum saat melihat halaman luas dari balik pagar yang membentengi rumah tersebut.
Bahkan rumahnya begitu besar dan mewah. Ternyata Al benar-benar bukan anak yang terlahir dari keluarga biasa saja. Melainkan anak dari keluarga yang sangat kaya raya. Pantas saja jika kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja.
"Ayo, masuk!" ajak Al sambil menarik tangan Tina.
Ketika mereka sampai di ruang keluarga yang luasnya lebih luas dari rumah Tina, Tina tak bisa berhenti mengagumi kemewahan yang orang tua Al miliki. Dan disana nampaklah seorang kakek tua yang sedang duduk di sofa sambil membaca berita di internet. Ditemani secangkir teh panas yang masih mengepulkan asap.
"Kakek!" seru Al begitu senang saat melihat sang Kakek sampai ia berlari menghampirinya dan memeluknya.
"Al! Sudah lama kakek tidak bertemu dengan cucu tampan kakek!" balas kakeknya juga sangat berantusias.
"Kapan Kakek datang?" tanya Al basa basi melepas rindunya pada sang Kakek.
"Satu jam yang lalu?" balas Kakek.
Lalu pandangan sang Kakek melirik kearah Tina yang berdiri mematung memperhatikan mereka.
"Eh? Siapa gadis manis yang datang bersama cucu Kakek yang tampan ini?" tanya Kakek dengan hangat.
__ADS_1
"Oh iyah, Kek! Kenalin ini teman Al. Namanya Tina," jawab Al memperkenalkannya dengan senang hati pada Kakek.
"Hallo, Tina? Senang bisa bertemu gadis manis seperti kamu. Kemarilah, duduk disini! Jangan hanya berdiri saja disana!" sapa Kakek menyapanya dan memintanya duduk.
"Hallo, Kakek!" balas Tina sambil duduk disebelahnya.
Kakek pun memanggil bibi yang bekerja dirumah orang tua Al untuk membawakan minuman dan camilan untuk mereka.
***
Setelah puas mengobrol kesana kemari. Al tidak lupa mengeluarkan surat undangan rapat orang tua dari sekolah.
"Kakek? Hari Jum'at, akan ada rapat orang tua. Mamih sama Papih pasti sudah jelas tidak akan bisa datang. Jadi bisakah Kakek menggantikan mereka menghadiri rapat itu?" pinta Al.
Al seakan mengingatkan Tina pada masalahnya saat ini. Seketika ekspresinya berubah menampakkan kebingungan yang ditangkap oleh pandangan si Kakek.
"Tina? Apa yang sedang kamu pikirkan, nak?" tanya Kakek menyelidiki.
"Ah, tidak ada kok, Kek," balas Tina segera merubah ekspresinya dan menyembunyikannya dengan senyuman.
"Apa kamu belum bicarakan tentang rapat orang tua dengan Kakakmu?" tanya Al kemudian.
__ADS_1
Tina tidak menjawab dan hanya menggeleng pelan.
"Kenapa?" tanya Kakek penasaran.
"Hanya saja... aku tak mau menganggu pikirannya. Lagi pula, ia pasti sangat lelah karena terus bekerja keras sampai tak ada waktu untuk dirinya sendiri," jelas Tina.
"Memang orang tua nak Tina kemana?" tanya Kakek penasaran.
Tina sejenak terdiam sedih tak ingin menceritakannya. Tetapi, karena ia ditanya maka ia harus menjawabnya.
"Mereka sudah lama pergi, Kek," jawab Tina dengan sedih.
Kakek pikir yang dimaksud oleh Tina adalah kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Ia pun merasa Iba pada Tina. Karena diusianya yang masih kecil harus ditinggalkan oleh orang tuanya.
"Yang sabar yah, nak. Gimana... kalau begini saja. Kakek akan mewakili kalian dalam rapat orang tua nanti?" saran Kakek.
"Emang bisa, Kek?" tanya Tina ragu.
"Yah, bisa dong! Jadi, kamu gak usah khawatir, oke?" balas Kakek.
Tina senang karena akhirnya ia bebas dari masalahnya. Ia pun tersenyum bahagia pada Kakek dan memeluknya.
__ADS_1
"Terima kasih, Kek."
"Sama-sama, nak."