
Iskan berbalik untuk melangkah pergi meninggalkan Maya setelah memberinya peringatan.
"Bukan karena aku mengasihani kamu! Aku hanya ingin menjadi sebagian orang yang kamu butuhkan saat kamu merasa tak berdaya. Aku hanya mau, berada di samping kamu disaat kamu butuh sandaran untuk mengeluh kesahkan semua beban di hati kamu. Aku hanya mau menjadi orang yang berarti dalam hidup kamu, itu saja!"
Langkah Iskan terhenti setelah mendengarkan ungkapan hati Maya terhadapnya yang begitu besar. Iskan sebenarnya sangat tahu, niat dari Maya. Dan itu adalah hal yang sangat baik.
Tetapi Iskan berpikir kalau ia tak perlu membawa Maya dalam penderitaannya. Ia tak perlu ikut bersedih dan merasa terbebani karenanya. Iskan hanya ingin Maya tetap tersenyum. Dan hanya tahu tentang hal yang baik saja.
"Aku tak tahu, kamu menganggapku sebagai apa selama ini. Setelah kencan kita yang ketiga. Aku tak tahu apakah di hati kamu sudah ada namaku atau tidak? Aku hanya terlalu berharap, bahwa kamu tidak perlu menunggu sampai kencan kesepuluh kita untuk menyatakan perasaan kamu padaku. Tapi, aku selalu tak siap. Karena aku takut kamu menolakku," lanjut Maya.
"Loh gak tahu, kalau sebenarnya sudah lama nama loh, ada di dalam hati gue. Gue hanya tak punya keberanian menyatakannya. Karena gue takut loh gak bahagia sama gue, May. Gue takut, gue malah hanya membuat hidup loh penuh dengan tangisan karena keadaan gue yang serba kekurangan. Gue gak punya waktu buat pacaran sama loh. Gue gak mau loh terus menunggu gue. Loh berhak untuk selalu bahagia May," bathin Iskan.
Iskan pun berbalik dan menatap Maya cukup lama. Ia bertekad untuk menolaknya sekarang juga. Dan mengakhiri segala dengan Maya.
"Loh menginginkan jawaban dari gue sekarang? Maka gue akan jawab. Gue sama sekali gak pernah suka sama loh. Jadi, mari... kita hentikan saja semua ini," balas Iskan.
__ADS_1
Seketika air mata Maya tak dapat ia tahan. Maya tetap patah hati tidak bisa menerima tolakan dari Iskan. Bibir Maya terkatup rapat. Kedua rahangnya seakan tertahan oleh air mata patah hatinya.
Walau sebenarnya Iskan tak tega melihat Maya yang menangis tersedu seperti itu. Iskan segera berbalik pergi. Karena ia tak tahan jika tetap disana. Atau ia akan berlari kepada Maya untuk mengusap air matanya.
Ia tak mau membuat Maya semakin bingung. Jadi, ia pun meninggalkan Maya dalam kepahitan. Meskipun sebenarnya Iskan merasakan lebih sakit dan patah hati saat menolaknya. Tapi, apalah daya. Ia harus melakukannya demi kebaikan Maya.
***
"Nak Jafar? Apakah kamu tak mau lanjut sekolah, dan meneruskan pendidikanmu?" tanya Pak Aban sembari menyeruput teh manisnya.
"Tentu saja, aku mau Kek. Lagi pula aku bermimpi untuk bisa menjadi seorang pengusaha hebat seperti Kakek," ungkap Jafar dengan nyaman.
"Kalau kamu mau, kakek bisa menyekolahkanmu," balas Pak Aban.
Jafar sejenak terdiam menatap Pak Aban. Tentu ia ingin sekali menerima tawaran Pak Aban dan lanjut sekolah. Tapi, jika begitu ia hanya akan menjadi orang yang rakus dan egois. Lagi pula, bagaimana mungkin dia merepotkan Pak Aban yang sudah begitu baik padanya dan adik-adiknya. Membiarkan mereka tinggal disana pun sudah cukup membuatnya merasa malu.
__ADS_1
"Tidak usah, Kek. Aku tak mau merepotkan Kakek. Lagi pula, kami sudah cukup merepotkan Kakek," jawab Jafar.
Pak Aban tak memaksa dan hanya mengangguk mengerti. Ia tersenyum pada Jafar.
"Kalau begitu, Kakek bisa menawarkan kamu yang lebih baik," balas Pak Aban lagi.
Tatapan Jafar melebar. "Yang lebih baik?"
"Iyah. Kamu bilang ingin menjadi seorang pengusaha hebat bukan? Kakek bisa menjadikan kamu murid kakek. Dan mengajari semua rahasia tentang cara berbisnis. Dengan cara kamu harus kerja lapangan bersama kakek. Kamu mau jadi asisten Kakek, dan bekerja dengan kakek?" balas Pak Aban.
Tawaran Kakek memang terdengar lebih baik. Dengan begitu kan, Jafar bisa belajar sambil bekerja. Dan tentunya pengalaman lebih penting dari materi. Materi dan gelar bisa ia susul nanti setelah punya uang.
Jafar tersenyum dan sangat ingin belajar dibawah bimbingan Pak Aban.
"Iyah, Kek. Aku mau," balas Jafar akhirnya ia punya kesempatan besar menuju mimpinya.
__ADS_1