
Satu minggu berlalu. Namun tidak ada yang berubah dalam keseharian mereka. Hubungan yang terjalin pun masih dalam kesamaan seperti biasanya. Hanya saja mereka menjadi lebih sering dekat dan akrab satu sama lain.
Jafar masih bekerja dengan sangat keras. Melawan hujan dan panas. Tak peduli sesakit apa hidup yang harus ia lewati. Jafar sepertinya melupakan tentang Pak Aban yang ingin menjumpainya.
Lantas, siang ini saat ia sedang bersiap mengantar pesanannya. Si kakek datang menemuinya langsung setelah merasa semakin lebih baik kondisinya.
Mereka mengobrol empat mata sambil menikmati hidangan pizza yang kakek pesan.
"Selama bekerja disini, apakah kamu pernah mencoba pizza yang kamu antar setiap hari?" tanya Kakek tiba-tiba.
Jafar enggan memakan pizza yang kakek pesan. Karena mungkin ia merasa tak enak jika harus memakannya. Jafar menggeleng pelan.
"Berapa lama kamu bekerja disini?" tanya Kakek lagi.
"Sekitar tujuh bulan, Pak," balas Jafar merasa canggung dan tak enak hati karena Pak Aban harus mendatanginya seperti ini.
__ADS_1
Kakek-Pak Aban hanya manggut-manggut mengerti. Lalu ia mencicipi pizza yang tersaji dihadapannya masih hangat.
"Apakah, Bapak sudah baik-baik saja?" tanya Jafar basa basi.
"Saya sudah membaik dari empat hari yang lalu. Mendengar kabar kalau nak Jafar akan berkunjung untuk bertemu, saya menunggu selama itu dan nak Jafar tak pernah kunjung datang juga. Jadi, saya terpaksa datang kesini untuk bertemu denganmu," jawab Pak Aban merasa kecewa.
"Maaf, Pak. Saya lupa. Karena banyak yang harus saya kerjakan. Dan kebetulan, hari ini ulang tahu adik bungsu saya. Jadi, saya harus bergegas menyelesaikan pekerjaan saya supaya bisa merayakan ulang tahunnya," sesal Jafar menjelaskan situasinya.
"Begitu rupanya. Kalau begitu, sebagai ucapan terima kasih saya karena sudah menolong saya waktu itu, saya ingin mengundang nak Jafar sekeluarga untuk makan malam di rumah saya. Kebetulan, saya juga mengundang ketiga cucu saya. Gimana? Nanti saya suruh orang untuk jemputa kalian," ucap Pak Aban.
"Terima kasih, Pak. Tapi, agaknya itu akan merepotkan Bapak..."
Jafar sejenak menghela nafas berat memikirkanya. Lalu ia pun segera menyetujuinya.
"Yasudah, Pak. Jika itu yang Bapak harapkan. Saya sangat berterima kasih," balas Jafar.
__ADS_1
"Dan satu lagi. Jangan panggil saya Pak, panggil saja saya Kakek," sahut Pak Aban lagi meminta satu hal pada Jafar.
Jafar tersenyum. "Iyah Pak, eh... Kek maksudnya."
Pak Aban tertawa puas karenanya. "Ayo, makan dulu! Sayang jika tidak dihabiskan. Saya sudah membayar untuk pizzanya."
Lantas, Jafar hanya bisa menerimanya dengan senang hati dan memakan pizza itu untuk pertama kalinya selama ia bekerja sebagai kurir antar pizza disana.
***
Di sisi lain, seperti janjinya Iskan selalu belajar bareng sama Maya setiap jam istirahat tiba. Lalu sepulang sekolah ia akan pergi ke pasar dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
Begitu pun dengan Ira, yang tak pernah menyerah dalam membantu nafkah keluarga. Ia bekerja dengan sangat baik sambil belajar jika ada waktu luang.
Tatkala Tina yang paling muda hanya bisa membantu saudara-saudaranya dengan belajar yang giat dan mempersiapkan masa depan yang cerah.
__ADS_1
Mereka tak menyerah pada kehidupan. Meskipun sulit dan menyakitkan. Banyak duri disetiap jalannya, mereka tetap semangat dan yakin bahwa suatu hari mereka akan menemukan kebahagiaan mereka.
Suatu hari akan datang kepada mereka semburat cahaya untuk menerangi kehidupan yang begitu gelap gulita ini. Sejauh ini mereka bertahan dengan sangat baik. Dan berharap mereka akan terus baik-baik saja walau harus berjuang mati-matian untuk mencapai harapan tersebut.