Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 46


__ADS_3

Pelajaran berlangsung selama dua jam setelah bel pertama berbunyi. Ketika guru sedang menerangkan pembelajaran Bahasa Indonesia, tiba-tiba Tina mimisan.


Darah yang keluar dari hidung jatuh diatas buku tulisannya. Tina kaget melihat darah yang jatuh dari hidungnya tersebut. Lantas, ia segera menutupi hidungnya menggunakan tangan dan menutup buku pelajarannya.


Ia mengangangkat tangan meminta izin untuk pergi ke toilet.


"Bu! Izin ke toilet!" serunya mengalihkan perhatian semua orang.


"Yasudah, silahkan!" balas Bu Guru.


Tina segera bergegas pergi dari kelas sebelum ada orang yang menyadarinya. Walau sebenarnya ia lebih khswatir Al yang melihatnya. Tina tak mau membuat semua orang khawatir hanya karena ia mimisan.


Al melihat kepergiaan Tina yang terburu-buru bahkan sampai berlari cepat ke kamar mandi, ia merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Tapi, Al tak curiga karena ia pikir mungkin Tina hanya kebelet saja.


Ketika tiba di toilet. Hidung Tina tak berhenti mengeluarkan darah. Sampai akhirnya ia terus menengadah melihat ke atas langit-langit toilet supaya darah yang keluar berhenti.


Tina pun membasuh tangan dan hidungnya yang terkena darah mimisan. Tina merasa ada yang aneh dengan tubuhnya akhir-akhir ini. Sebenarnya, ini bukan kali pertama ia mimisan seperti ini. Tina mulai merasa cemas dan takut kalau ternyata mimisan ini bukan mimisan biasa.


Tina segera menepis pikiran buruknya dan kembali ke kelas. Setibanya di kelas, ia baru saja duduk dan ternyata pelajaran sudah berakhir dan waktunya jam istirahat.


Al menghampiri Tina untuk bertanya apakah dia baik-baik saja? Karena Al melihat wajah Tina semakin pucat.

__ADS_1


"Kamu gak papah?" tanya Al.


"Iyah. Nggak papah kok. Kenapa gitu?" jawab Tina balik mempertanyakannya.


"Muka kamu pucat banget. Aku pikir kamu sakit," balas Al lagi.


Tina tersenyum lebar. "Nggak kok. Mungkin aku kurang tidur karena kejadian semalam. Aku hanya lelah," sahut Tina.


"Yah, mungkin juga. Kamu pasti kelelahan karena masalah yang kamu hadapi," balas Al lagi bersimpati.


"Aku tak masalah, selama aku bersama dengan kakak-kakakku. Dan selama kamu disisiku. Aku baik-baik saja," jawab Tina dengan tegas.


"Hehe.. kamu bisa aja. Udah yuk, ke kantin!" balas Al salah tingkah karenanya.


Tina hanya tersenyum dan ikuti Al ke kantin untuk jajan.


***


Hari mulai menuju siang. Ira baru saja kembali setelah perlombaan. Dengan gembira ia turun dari bis mencari Arif. Kebetulan sekolah sedang istirahat.


Ira yang kegirangan menemukan Arif di lapangan basket sedang bermain bersama dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Arif!" panggilnya sembari berlari kepadanya dan langsung memeluknya dihadapan semua orang.


Arif yang senang melihat Ira menyambutnya dan menerima pelukan dari Ira. Tindakannya membuat semua orang tertuju kepada mereka. Lantas, bergemuruh suara bisikan-bisikan setiap gadis sekolah mencaci Ira karena cemburu melihatnya yang bisa sedekat itu dengan Arif.


Tatkala semua teman cowok Arif langsung antusis bersorak untuk Arif.


"Cieee..."


"Wikwiw!"


Ira segera melepaskan pelukannya dan menatap Arif dengan mata yang bersinar serta cerah.


"I Love You... jadilah pacarku mulai sekarang," ujar Ira membuat Arif tercengang setengah mati.


Tatapan Arif melebar. Perlahan senyumnya pun mengembang sangat lebar. Kemudian ia memeluk Ira lagi sambil mengangkat tubuh Ira dan berputar sekali.


"Yah! Aku berhasil!" teriak Arif sangat senang membuat orang-orang disekitarnya cemburu.


Arif tahu, kalau Ira memenangkan perlombaan itu. Karena itu Ira langsung menerimanya.


Di bawah sinar matahari yang begitu terik. Keduanya tersenyum bahagia bahkan membuat matahari cemburu pada kebahagiaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2