Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 49


__ADS_3

Usai potong kue, Kakek hendak memulai pengumuman untuk kabar baik yang akan disampaikannya. Dan kebetulan, orang tua Al baru saja datang dengan sebuah hadiah kecil di genggaman mereka.


"Maaf kami terlambat, Ayah!" ucap Ayahnya Al pada Pak Aban.


"Kalian ini! Kebiasaan selalu terlambat!" tegur Pak Aban.


"Yang penting kita datang, kan Ayah?" sahut isterinya-Mamahnya Al.


Tatkala Al dengan senang berlari meghampiri orang tuanya dengan gembira. Meskipun orang tua Al selalu sibuk, tetapi Al sangat menyayangi keduanya.


Pak Aban bahkan memperkenalkan putera keduanya tersebut kepada ke empat bersaudara. Mereka pun saling menyapa dan berjabat tangan untuk berkenalan.


"Baiklah. Kalau begitu, Kakek akan mengumumkan kabar baik yang sudah kalian tunggu-tunggu sejak tadi. Jadi, kabar baiknya adalah... mulai besok, Jafar akan bekerja pada Kakek. Dia akan menjadi asisten pribadi Kakek," ucap Kakek.


"Serius? Wahhh selamat Kak Jafar! Aku seneng banget dengernya!" seru Ira sambil menyikut perut Jafar yang tersipu malu karenanya.


"Terus, kabar baik apa yang Kak Ira bawa?" tanya Iskan menyela.


"Oh iyah... kabar baiknya adalah aku... menang juara pertama dalam lomba menggambar! Tara, aku mendapat penghargaan!" seru Ira dengan senang hati menunjukkan piagam penghargaannya berupa kertas kepada semua orang.

__ADS_1


"Wahh kak Ira hebat banget! Selamat yah, Kak!" seru Tina.


"Satu lagi! Aku punya kabar untuk kalian!" sela Arif ikut-ikutan.


Ia bahkan memegang tangan Ira sebelum mengatakannya. Membuat mata semua orang melebar.


"Aku dan Ira sudah resmi pacaran!" tukasnya.


"Apa?!" sahut Jafar spontan membentaknya. "Apa katamu bilang? Jangan bicara sembarangan, yah!" serunya hendak memukul Arif tetapi dihalangi oleh Ira.


"Kakak tenang dulu!" ucap Ira.


"Aku yang ngajak Arif untuk pacaran. Maaf," balas Ira dengan nada yang begitu pelan mengatakannya.


"Apa?! Sejak kapan kamu..."


"Sudahlah, Kak. Biarkan saja kali! Jangan merusak pesta hanya karena Kakak emosi seperti ini. Sabar dan tahan dulu!" lerai Iskan menenangkan dan mengingatkannya.


"Urusan kita belum selesai, ingat itu!" ancam Jafat melirik pada Arif yang cengengesan.

__ADS_1


Tatkala semua orang hanya tertawa bahagia saat ini. Kecuali Dina yang nampak biasa-biasa saja. Ia tak berkata apapun sejak tadi dan hanya ikut berdiri merayakan saja.


Jafar yang melihat Dina seperti itu merasa sangat bersalah. Karena Dina yang Jafar kenal. Adalah gadis yang berani dan periang. Namun saat ini ia seperti tak memiliki semangat hidup. Ia bahkan tak menunjukkan sedikit senyumnya walau hanya sedikit saja.


Setelah itu, kemudian mereka makan malam besar bersama-sama. Nampak sore menjelang gelap malam itu hanya ada tawa bahagia dan candaan. Semua orang terlihat tak ada beban sama sekali.


***


Setelah acara makan selesai, Jafar melihat Dina yang terduduk dipinggir kolam ikan yang terletak disamping rumah Pak Aban. Ia menatap kosong para ikan yang asik berenang kesana kemari.


"Sedang apa disini sendirian?" tanya Jafar duduk disebelahnya.


Dina hanya melirik tajam dan bangkit hendak pergi tak mau meladeni Jafar. Namun tangannya ditarik oleh Jafar sampai Dina duduk di lahunan Jafar.


"Aku tidak akan menyerah padamu. Marahlah semau kamu. Dan bencilah aku semau kamu. Sampai saatnya tiba, aku melihat senyum lagi dan sikap periangmu lagi. Baru akan berhenti," bisik Jafar.


Dina segera bangkiy berdiri dan berpaling dari pandangan Jafar.


"Sudah terlambat untuk semua itu. Kamu hanya luka bagiku, keberadaanmu itu yang membuat aku semakin tak ingin tersenyum lagi," balas Dina dengan ketus lalu pergi meninggalkan Jafar.

__ADS_1


"Aku berjanji Dina, senyummu takkan kubiarkan hilang selamanya," gumam Jafar.


__ADS_2