
Arif mengantar Ira dengan selamat sampai ke rumahnya. Malam yang mulai pekat, mendapati kesunyian dan sepinya lingkungan tempat tinggal Ira.
"Ini rumah gue. Makasih loh udah mau nganter gue sampai rumah," ucap Ira.
"Sama-sama. Sepi juga yah, lingkungan disini," balas Arif sedikit cemas dan gelisah saat mengetahui lingkungan disini terlalu sepi. Padahal malam berlum terlalu larut amat.
"Yah, begitulah. Loh mau mampir dulu? Gue gak enak kalo pulang gitu aja. Setidaknya biar gue obatin luka di muka loh itu," tawar Ira merasa berhutang budi padanya dan ingin membalas kebaikan Arif.
"Nggak akan nolak gue mah!" seru Arif sambil tersenyum senang.
"Yaudah, ayo!"
Lantas, Arif pun mampir masuk ke rumah Ira hanya sekedar menerima tawarannya. Lagi pula kesempatan seperti ini tidak mungkin Arif tolak. Secara kan, ia ingin lebih dekat lagi dengan Ira.
Ketika Ira membuka pintu rumah dan baru masuk, Jafar keluar dari kamar mendengar kepulangan adiknya tersebut.
__ADS_1
"Kok baru pulang? Tumben!" tanya Jafar. Ia melirik kepada pria yang Ira bawa masuk ke rumahnya malam-malam begini.
Kesan pertama saat melihatnya Jafar tak suka. Apalagi ketika ia menyelediki penampilan Arif yang kacau dan berantakan seperti anak berandalan.
"Dia siapa?" tanya Jafar menunjuk ke arah Arif dengan ketus.
"Dia temen sekolah, Kak. Tadi, aku sedikit punya masalah di tempat kerja. Nah, untungnya ada Arif yang nolongin aku. Aku gak tega dong, kalau biarin dia pulang dengan wajah babak belur seperti itu setelah nolongin aku," jelas Ira tak mau sampai Jafar salah paham padanya.
"Hallo, Kak! Maaf sudah menganggu malam-malam begini," sapa Arif dengan sopan dan tersenyum padanya.
Walau begitu, Jafar masih memberikan kesan yang buruk padanya. Karena pada dasarnya, Jafar tak mau sampai adik perempuannya dekat dengan seorang berandalan dan orang yang gak jelas.
"Wajahmu kenapa? Apa masalahnya sangat serius sampai kamu terluka seperti ini? Hah~ inilah alasan kakak tak mau kamu bekerja," tukas Jafar cemas.
"Kak, kita bicarakan itu lagi nanti aja, yah. Aku mau ngobatin luka Arif dulu," balas Ira tak mau sampai berdebat dengan kakaknya di depan Arif.
__ADS_1
Jafar menoleh pada Arif yang nampak canggung dengab suasana yang terjadi.
"Biar kakak aja yang ngobatin luka dia. Kamu pergi mandi saja dan ganti pakaianmu, setelah itu kamu makan. Nanti setelah makan, kakak obatin luka kamu," sahut Jafar.
"Yaudah kalo gitu," balas Ira. Ia hanya melirik pada Arif kemudian pergi ke dalam meninggalkan Arif dengan kakaknya.
Arif sebenarnya agak kecewa karena tak sesuai harapannya. Arif tersenyum canggung kepada Jafar. Lalu, Jafar mengambil kotak obat yang ada di laci ruang tengah.
"Ayo, duduk!" pinta Jafar dengan ketus.
Arif hanya menurut dan duduk. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Karena ia pun merasakan kesan yang buruk dari tatapan Jafar terhadapnya. Sementara Jafar mulai mengolesi luka di wajah Arif. Tak ada obrolan yang keluar. Mereka hanya diam dalam pikiran masing-masing untuk waktu yang cukup lama.
"Kamu teman dekatnya?" tanya Jafar kemudian.
"Bukan. Tapi, aku berusaha untuk dekat dengannya," jawab Arif berteru terang pada Jafar.
__ADS_1
Jafar menatapnya tajam. "Kenapa?" tanyanya menyelidiki.
Arif pun memberikan tatapan keseriusan dikedua matanya. "Karena aku menyukainya..."