Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 34


__ADS_3

Sejenak sesampainya di rumah. Jafar terduduk di depan sambil menengadah menatap langit yang masih sepi tanpa kemunculan rembulan dan para gemintang. Pikiran Jafar ikut kosong, hatinya bercampur aduk tak karuan. Jafar seperti ingin menangis sejadi-jadinya. Namun, ia tak mau adik-adiknya dengar.


Jafar ingin bercerita tentang beratnya hari ini yang ia lewati. Namun, entah kepada siapa ia harus melakukannya. Ia merasa dirinya semakin lemah. Seketika air mata jatuh di kedua sudut matanya yang sanyu dan letih.


Jafar yang menyadarinya segera mengusap air mata tersebut oleh punggung tangan kanannya. Ia tahu kalau ia tak boleh cengeng, ia tak boleh lemah. Jafar tahu, bahwa ia harus terus kuat untuk adik-adiknya. Ia tak boleh sampai tumbang hanya karena masalah yabg telah ia lewati. Ia hanya harus melupakannya dan menjadi lebih baik lagi dari ini.


Tina yang merasakan kepulangan Jafar keluar untuk memeriksa. Ia heran kenapa Jafar begitu lama diluar sedangkan ia sudah sampai didepan rumah.


"Kakak!" seru Tina memeluk Jafar dari belakangnya.


Jafar terperanjat kaget dan seketika merubah ekspresinya yang sayu menjadi cerah.

__ADS_1


"Tina? Kamu belum tidur?" tanya Jafar tersenyum lebar untuknya.


"Mmm...belum. Kakak, kenapa tidak langsung masuk dan malah melamun disini?" tanya Tina menyelidiki.


"Tidak papah. Kakak hanya sedang menikmati udara malam ini saja," jawab Jafar mencari alasan.


Tina mengangguk seakan mengerti. Ia hanya berpura-pura polos di depan kakaknya. Meski sebenarnya ia bisa menilai dan melihat apa yang tengah dirasakan oleh kakaknya.


"Kakak punya masalah?" tanya Tina kemudian menatap Jafar dengan begitu serius.


Namun Tina tidak memudarkan ekspresi keseriusannya. "Aku sudah besar. Aku bisa melihat, Kakak sedang banyak pikiran dan masalah saat ini. Apa itu? Terkadang bisa tidak Kakak jangan memaksakan diri untuk tersenyum jika memang itu terlalu sulit untuk kakak. Menangislah sesekali. Dan luapkan semua emosi Kakak dengan seharusnya. Jangan menahannya dan malah menjadi tekanan hebat dalam hati kakak. Kami disini. Kami tidak akan pergi, hanya jika kakak mengeluh kepada kami," Tina mengomelinya.

__ADS_1


Seketika Jafar tak bisa menahan kepedihan dalam hatinya. Mendengar omelan Tina membuat air matanya tak bisa ia bendung. Namun, walau demikian Jafar tetal memaksa dirinya untuk tersenyum.


"Waahhh... adik bungsu Kakak memang sudah besar. Kakak tidak menyagka akhirnya kakak dapat omelan pertama dari adik bungsu Kakak," ucap Jafar menjatuhkan air mata meskipun bibirnya tertawa.


Melihat hal itu Tina mengerti betapa berat beban di hati Kakaknya. Ia tak bisa bersandar pada siapapun untuk mengeluhkan penderitaan. Ia hanya bisa bertahan dan menelannya seorang diri. Tina tak kuasa merasakan betapa berat beban yang dipikul oleh kakaknya itu. Lantas, Tina memeluk Jafar dengan erat sambil ia pun menangis dalam pelukan.


"Menangislah! Menangislah sepuas Kakak. Aku... akan menjadi pendengarmu mulai sekarang. Jangan pernah memendam kesakitan itu sendirian. Aku akan selalu ada disini, bersama Kakak. Mendengarkan semuanya. Jadi, menangislah saat kakak ingin menangis, marahlah saat kakak ingin marah dan tertawa hanya disaat kakak ingin tertawa. Jangan menekan semua emosi Kakak sendirian," lirih Tina.


Jafar yang mendengarkan teguran dari Tina membuatnya sadar. Bahwa ia telah salah memperlakukan dirinya sendiri. Sekeras apapun ia sembunyikan emosinya. Ternyata, adik-adiknya bisa melihat emosi itu tanpa harus diberitahu. Ia merasa bersalah karena harus membuat adik-adiknya juga berpura-pura tak tahu apa-apa di depannya.


Seketika tangisan Jafar pecah dikeheningan malam. Ia menangis tersedu-sedu untuk kedua kalinya didepan adiknya. Jafar tak dapat lagi menahan perasaannya. Jadi ia pun memeluk erat Tina dan meluapkan semua kesedihan dalam hatinya.

__ADS_1


Tatkala pemandangan sedih itu juga dilihat oleh Ira yang hendak keluar menyusul dan bergabung dengan mereka. Ira pun tahu betapa Kakaknya yang paling menderita. Ia juga selalu berpura-pura tak tahu karena tak mau membuat Jafar tersinggung. Tapi hari ini Tina menyadarkannya juga, bahwa Kakaknya-Jafar butuh seseorang untuk tempat bersandar dan bercerita. Namun, ia selalu mengacuhkan hal yang paling terpenting seperti itu.


Ira pun menangis meratapi dirinya yang tak begitu perhatian dengan Kakaknya. Ia pikir memendamnya sendirian adalah hal yang terbaik. Namun, sepertinya hal tersebut sangatlah salah. Keterbukaan dengan keluarga adalah yang paling penting untuk meringankan beban dan penderitaan mereka saat ini. Karena dengan terbuka mereka bisa saling mendukung dan menasehati. Bukan malah tertutup yang harus menyimpan semua masalah seorang diri untuk menyelesaikannya.


__ADS_2