Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 23


__ADS_3

Arif pun memberikan tatapan keseriusan dikedua matanya. "Karena aku menyukainya..."


Jafar terdiam sejenak mendengar ungkapan Arif yang meyukai adik perempuannya.


"Apa kamu bilang?"


"Aku menyukai adikmu. Karena itu aku ingin dekat dengan dia. Dan aku ingin selalu melindunginya. Jika Kakak tidak keberatan, aku izinkan aku untuk tetap berada disisinya, sampai dia bisa menerimaku," pinta Arif sungguh berani mengatakan hal itu pada Jafar.


Jafar nampak tak suka mendengar ungkapan cinta Arif untuk adiknya itu. "Kamu mau kuhajar sampai mati?"


Jafar menekan kuat-kuat luka yang ada diwajah Arif dengan kapas yang sudah diolesi obat. Sampai Arif merintih kesakitan.


"Aaaa... maaf kak, maaf."


Jafar pun berhenti menekan lukanya setelah mendengar Arif meminta maaf.


"Maaf, karena aku tidak akan mundur untuk menyukai Ira. Meskipun kakak menentangnya dan tidak menyukaiku. Aku tidak akan menyerah," sahut Arif terkekeh sambil beranjak bangun dari duduknya dan menjauh dari Jafat yang mulai menyipitkan kedua matanya, memeberikan tatapan mematikan pada Arif.


"Kamu sungguh minta dihajar!" seru Jafar sambil beranjak bangun untuk menghajar Arif sungguhan.


Namun, Arif terus menghindari dan berlari kesana kemari diruangan tengah. Sampai Ira kembali usai membersihkan diri.


"Kemari! Cepat kemari!" seru Jafar kesal karena Arif berusaha bermain-main dengannya.


"Tidak mau. Kakak harus restui aku dulu!" balas Arif ngenyel.


"Restu pantatmu!" Jafar melempar lap kotor yang ada diatas meja kepada Arif.


Namun, Arif bergegas menghindar sampai kain lap kotor itu malah mendarat di wajah Ira. Seketika keduanya terdiam dan mematung. Ira nampak kesal dan menghembus nafas berat.

__ADS_1


Lalu, ia menatap sinis kedua pria yang sedang bermain-main itu silih berganti.


"Kalian ini sedang ngapain? Apa kalian itu anak-anak?" tukasnya.


"Maaf, Ra. Kakakmu bukannya mengobatiku malah mau menghajarku," sahut Arif mengadu pada Ira.


"Wahh... sungguh pria yang licik. Ira, kamu jangan pernah dekat-dekat lagi sama dia!" sambar Jafar memperingatinya.


"Udah! Ini ada apaan sih? Malam-malam gini malah berantem. Berisik tahu! Nanti Tina kebangun!" seru Ira menegur dan memarahi mereka berdua.


"Kamu juga Arif, sebaiknya kamu pulang sekarang!" sambung Ira mengusir Arif.


"Sekarang?"


"Iyah, sekarang. Memangnya kapan?"


"Gak ada besok-besok! Pulang sekarang, sana!" sambar Jafar meninggikan suaranya.


Ira kembali menghela nafas berat. "Arif? Aku mohon kamu pulang, yah?" tukas Ira membujuknya supaya cepat pulang.


"Baiklah kalai begitu. Aku pulang sekarang. Terima kasih sudah mengundangku untuk mampir ke rumahmu," balas Arif akhirnya mengalah.


Namun, mendadak ketika Arif hendak keluar dan membuka pintu.


Duarrrr!


Suara guntur menggelegar membuat listrik tiba-tiba padam. Karena itu juga, Tina dan Al sampai terbangun. Tak lama setelah guntur yang besar itu hujan turun dengan derasnya.


Arif bahkan sampai melompat kaget dan memeluk Jafar karena takut. Sebenarnya Arif trauma dengan suara guntur karena suatu alasan di masa lalu.

__ADS_1


Jafar merasakan ketakutannya itu. Tubuhnya gemetar dan nafasnya memburu cepat.


"Kamu sedang apa?" tanya Jafar berusaha melepaskan pelukan Arif yang begitu kuat.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja," balas Arif sambil melepaskan pelukannya dan memasang ekspresi ketakutan di wajahnya.


Jafar yang melihat Arif seperti itu tak memarahinya. Karena ia pikir mungkin, ia sangat takut oada suara guntur sampai seperti itu.


Sementara Tina dan Al yang kebangun keluar dan berkumpul bersama yang lainnya.


"Kakak, ada apa ini? Aku takut," rengek Tina.


Ira datang dan memeluknya. "Tidak papah. Itu hanya suara guntur. Kamu tidak perlu takut. Sebentar, yah. Kakak ambil lilin dulu."


Ira pun menyalakan lilin dan sehingga ruangan kembali terang walau tak seterang memakai lampu. Namun setidaknya mereka bisa melihat satu sama lain.


"Kak Arif?" ucap Al saat pandangannya menemukan Arif di sana.


"Al? Kok kamu ada disini?" sahut Arif mempertanyakannya.


"Seharusnya Al yang tanya, kok kak Arif bisa ada disini?" balas Al malah saling melontarkan pertanyaan yang sama.


"Tunggu! Kalian saling kenal?" sela Jafar.


"Dia adik sepupuku," jawab Arif.


"Dia kakak sepupuku," jawab Al.


Mereka menjawab barengan.

__ADS_1


__ADS_2