Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 38


__ADS_3

Waktu berjalan dengan sangat cepat. Ira meminta pulang lebih awal karena sudah janji akan merayakan ulang tahun untuk Tina. Ia juga sudah menyiapkan kado untuk ulang tahunnya.


Jafar menyuruh Tina dan Iskan untuk bersiap sambil menunggu kepulangan Ira.


"Memangnya kita mau kemana sih, Kak?" tanya Tina.


"Kita akan pergi ke suatu tempat," balas Jafar merahasiakannya karena ingin memberi kejutan kepada Tina.


Iskan tersenyum kecil ikut merasakan kebahagiaan hari ini. Tatkala tiba-tiba saja ada orang yang mengetuk pintu rumah mereka. Jafar pikir itu adalah orang yang Pak Aban kirim lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Tetapi saat Jafar membukanya ternyata orang yang berkunjung adalah rentenir yang ingin menagih hutang ayah mereka.


Ada tiga pria yang datang ke rumah mereka. Yang langsung masuk begitu saja mendorong tubuh Jafar supaya memberi mereka ruang untuk masuk ke rumah.


"Siapa kalian?" tanya Jafar.


"Saya datang untuk menagih hutang. Dan mulai hari rumah ini telah menjadi milik kami. Jadi, silahkan kalian pergi dari rumah ini," tegas pria berwajah tampan yang memakai setelan jas.


"Apa?" sahut Jafar.

__ADS_1


Sementara Iskan langsung saja menarik tangan Tina dan menyembunyikannya di belakang tubuh Iskan. Tina memeluk Iskan kuat-kuat karena takut.


"Apa maksudmu dengan menagih hutang?" sambar Iskan tak tahu tentang hal itu. Sementara Jafar tidak bisa berkata apapun jika keadaannya sudah begini.


"Aish! Sial banget! Aku pikir rumah yang ia jaminkan sangat besar. Ternyata cuma segini doang!" gerutu pria tersebut sambil melihat-lihat.


Iskan merasa diabaikan dan menarik lengan pria itu lalu mencengkramnya kuat-kuat.


"Rumah ini milik kami!" seru Iskan sambil melotot pada mereka.


Pria itu hanya melirik tangan Iskan dan mendengus tersenyum simpul. Tanpa kata pria itu menepis tangan Iskan sampai Iskan terdorong jatuh ke lantai.


"Kak hentikan mereka! Ini gak bisa dibiarin gitu aja! Kak Jafar?" bentak Iskan sangat marah dan kesal.


Namun, Jafar hanya diam saja. Ia pun tidak bisa melakukan apapun jika sudah begini jadinya. Tatkala Ira baru saja tiba melihat pemandangan yang tidak baik terjadi di rumahnya. Ia segera berlari masuk ke dalam.


"Ada apa ini? Hei, itu milikku! Ah, ada apa ini sebenarnya?!"

__ADS_1


Ira pun segera berlari ke arah Jafar dan yang lainnya.


"Kak? Ada apa ini?" tanya Ira.


Namun, Jafar tetap diam dan tidak berkata apapun.


"Oho! Lihatlah gadis cantik ini! Hallo, sayang!" sela pria berjas itu mencolek dagu Ira. Dengan kasar Ira menghindari tangan genitnya.


"Jangan berani-berani menyentuh adikku! Ambil saja rumahnya!" Jafar memperingati pria tersebut.


"Tapi sayangnya, sebenarnya rumah ini tidak bisa membayar lunas hutang ayah kalian. Jadi, setidaknya sisa hutangnya harus kalian yang bayar," balas si pria.


"Apa?" sahut Jafar tak bisa terimanya.


"Atau jika kalian tak mampu bayar..." pria itu langsung menarik tangan Ira dan memeluknya dari belakang dengan kuat-kuat.


Jafar kaget dan seketika hendak mengambil Ira kembali dari cengkramannya. Namun, segera dua anak buah mereka menghentikan Jafar. Tatkala Iskan mulai marah dan memukul salah satu dari mereka.

__ADS_1


Sementara Tina hanya bisa berjongkok di sudut ruangan sambil menutup mata dan telinganya.


Ira tak menyerah atau pun pasrah begitu saja. Ia terus memberontak dan menampar wajah pria yang mengunci tubunya dengan belakang kepalanya. Sampai ia pun terlepas darinya. Tatkala Iskan dam Jafar tak tinggal diam dan melawan dua anak buahnya.


__ADS_2