Sunny Day For Us

Sunny Day For Us
Ep. 53


__ADS_3

Jafar baru saja sampai di rumah sakit dan bertemu dengan wali kelas Tina juga Al. Jafar bertanya-tanya dimana Tina dan bagaimana kondisinya. Dan ternyata saat ini Tina sedang ditindak lanjut oleh dokter setelah hasil lab keluar.


Wali kelas menjelaskan semuanya kepada Jafar dan menyuruhnya untuk menunggu dan bersabar. Dan tidak lupa, Jafar terus saja berdo'a berharap Tina baik-baik saja. Berharap bahwa tak terjadi hal buruk menimpanya. Sebab, kedamaian baru saja mereka peroleh dalam hidup mereka. Jangan sampai ada hal buruk lainnya datang pada Tina. Jafar tidak akan sanggup menerimanya.


Setelah satu jam akhirnya dokter yang memeriksa Tina memanggil wali Tina untuk mengobrol di dalam. Wali kelas Tina dan Al ikut masuk ingin tahu kondisinya.


"Jadi gimana dok, adik saya baik-baik saja, kan?" tanya Jafar dengan gugup dan cemas setelah menunggu satu jam.


"Kami melakukan pemeriksaan secara berkali-kali untuk meyakinkan apa penyakit yang diderita oleh pasien. Dan ternyata, pasien mengalami Tumor otak stadium akhir," balas dokter tersebut.

__ADS_1


Kabar itu seperti bom yang meledak tiba-tiba. Jafar tak percaya apa yang dokter katakan. Bahkan air matanya tak terasa mengalir begitu saja. Ia sangat tercengang dan terkejut bukan main. Kabar ini seperti kiamat baginya. Begitu juga Al dan wali kelas Tina yang sama terkejutnya mendengar kabar buruk sebesar ini.


"Dokter jangan bercanda. Tina sangat sehat dan dia baik-baik saja. Lalu kenapa tiba-tiba sekali anda mengatakan kalau adik saya menderita tumor otak?" balas Jafar tak bisa menerimanya atau mempercayai perkataan dokter itu.


"Seharusnya, gejalanya sudah lama pasien rasakan. Karena tumor di otaknya sudah menyebar ke seluruh otak pasien.Dan sekarang menyebar turun menuju paru-parunya. Tak terbayang betapa sakit pasien saat menahan rasa sakitnya ketika tumor itu kambuh. Apakah pasien tidak pernah menceritakan apapun kepada anda?" jawab dokter lagi.


"Dokter benar. Sebenarnya, sudah lama Tina sering merasa sakit kepala dan terus mimisan. Ia bahkan pernah batuk darah," sela Al kini angkat suara.


Jafar menarik kerah Al. "Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau Tina sakit? Kenapa?"

__ADS_1


"Karena Tina melarangku dan meminta untuk merahasiakannya! Ia bahkan memohon kepadaku untuk tidak memberitahu siapapun. Dia bilang, dia tak mau merusak kebahagiaan kalian. Sebab itu, dia..." Al tak kuasa menahan air matanya lagi dan tangisnya pecah seketika.


"Tolong sabar dulu, Pak," ucap wali kelas Tina berusaha menenangkan Jafar supaya tak lepas kendali.


Jafar mulai ikut menangis dan melepaskan cengkramannya dari kerah baju Al. Lalu, beralih pada dokter untuk bertanya lagi.


"Kalau begitu... bisakah Tina sembuh dengan melakukan operasi? Apakah ada kesempatan untuk menyembuhkannya? Tolong lakukan apapun asalkan dia sembuh," pinta Jafar sambil menangis dan memohon kepada dokter.


"Saya mohon maaf, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi untuknya. Melakukan operasi pun tidak akan ada gunanyan. Kita hanya perlu menunggu waktu saja," balas dokter itu membuat kaki Jafar lemas seketika da jatuh ambruk ke lantai sambil menangis sekencang-kencangnya. Ia menyesal karena tak begitu memperhatikan adik kecilnya. Ia menyesal karena sebagi kakak ia tak bisa menjaganya dengan baik.Ia menyesal karena tak tahu apapun tentang penyakitnya.

__ADS_1


Ia hanya sibuk bekerja dan mencari uang. Karena itu, ia sangat menyesal tak bisa memberikan perhatian yang lebih untuk adiknya. Jika saja ia punya banyak waktu untuk bersama dengan Tina mungkin ini semua tidak akan terjadi.


__ADS_2