System Super Kultivasi

System Super Kultivasi
BAB 12


__ADS_3

"Ya udah semuanya sudah terbagi, kita pulang yuk," ajak Ibunya.


"Baik Bu," angguk Feng Lias setuju.


Mereka pun kembali pulang ke rumah.


Sesampai di rumah mereka pun masuk ke rumah dan Ibu pun duduk di ranjang kayunya.


"Feng Lias, apa memang kita harus pindah saja dari tempat ini?" tanya Ibu dengan wajah sedih.


"Aku terserah Ibu saja, aku akan ikut kemana ibu pergi," ucap Feng Lias.


"Ya sudah jika begitu, Ibu akan datang kepada kakek untuk mengatakan jika kita akan pindah besok," ucap Ibu.


"Kira-kira kita akan pindah kemana Bu?" tanya Feng Lias.


"Kita akan mencari tempat di ujung kota, biasanya di sana banyak tempat tinggal yang kosong, kita akan membangun gubuk di sana," ucap Ibu.


"Baik Ibu," ucap Feng Lias menurut.


"Jika begitu, tidurlah, besok kita berkemas," ujar Ibu membaringkan tubuhnya di atas ranjang kayu.


"Ibu aku keluar sebentar untuk memperhalus pedangku," pinta Feng Lias


"Baiklah, tapi cepatlah kembali," ucap Ibu.


"Baik Ibu," jawab Feng Lias kemudian ia keluar dari rumah dan pergi ke tempat lapangan luas.


Sesampai di sana Feng Lias duduk lalu meletakan pedang di tanah.


"Gunakan poin untuk memperhalus pedang,"


Perhaluskan pedang


Memuat...


Loading...


Mulai...


10%...


20%...


30%...


40%...


50%...


60%...


70%...

__ADS_1


80%...


90%...


100%...


Selesai


Poin Anda di potong 50 poin


Sisa Poin Anda 48 poin.


"Gunakan semua poin untuk mengambil jurus pedang"


Jurus pedang


Memindai...


Loading...


Mulai...


10%...


20%...


30%...


40%...


60%...


70%...


80%...


90%...


100%...


Selesai.


Jurus pedang nafas api.


"Kok namanya tidak keren, coba aku tes dulu, semoga saja penampilannya tidak jelek seperti namanya," ucap Feng Lias.


JURUS PEDANG NAFAS API


Husssshhhhhh...


"Tuh kan? Tidak terjadi apa pun, cuma hembusan angin saja," ucap Feng Lias kecewa ia pun berbalik badan dan melangkahkan kaki untuk pergi


Baru saja beberapa langkah terdengar suara letusan yang hebat.

__ADS_1


Duaaaar!


Duaaar!


Duaaar!


Duaaar!


Pohon bertumbangan oleh ledakan api seperti bom yang di lempar secara bertubi-tubi.


Feng Lias jadi kebingungan. "Itu ledakan jurus pedangku ya?" tanyanya.


"Baiklah, aku ku tes sekali lagi," ucapnya mengangkat pedang tinggi-tinggi.


JURUS PEDANG NAFAS API


Hussssshhhhh.


Duaaar!


Duarr!


Duuaar!


"Wah... keren sekali, baru saja nafasnya sudah sekuat ini, bagaimana jika kekuatan tubuh pedang, tapi ini sangat menguras energi, aku akan menjadikan kartu As saja," ucap Feng Lias kagum.


Setelah mengetes jurus pedangnya, ia memutuskan untuk pulang.


Feng Lias juga merebahkan tubuhnya, karena malam semakin larut.


xxx


keesokan harinya


Ibu bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan makanan untuk mereka sarapan. Sedangkan Feng Lias memegang pedangnya dan menelitinya.


"Feng Lias ayo sarapan dan kemudian kita akan ke istana," ujar Ibu.


"Baik Ibu," ucap Feng Lias meletakan pedangnya di sampingnya.


Mereka pun makan dan setelah makan, Feng Lias segera berangkat ke istana yang tidak jauh dari gubuknya.


"Itu bukannya Tuan muda yang berguna itu, untuk apa dia kesini?" tanya pelayan istana.


"Tolong katakan pada Raja, jika aku ingin bertemu dengannya," ucap Ibu.


"Orang yang tidak berguna seperti kalian untuk apa menemui Raja," ucap salah satu selir Raja.


"Dia Ayahku, wajar saja jika aku ingin bertemu dengannya," jawab Ibu.


"Apa pantas kalian bertemu Raja dengan pakaian lusuh seperti ini," ucapnya lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2